Sekali ini saja, bisakah semua ini dianggap adil ?
Tentu saja tidak, ketika aku telah menemukan seorang yang
bisa membuatku tertawa lepas dan bicara tanpa batas, tanpa harus berpura-pura
sempurna, tanpa harus menutupi segala keburukkan tingkah lakuku, saat itu pula
aku mengakui bahwa hal lain tengah menghantuiku. Aku menemukanmu. Seperti
menemukan kebebasan yang selama ini terjaga, seperti menemukan kebahagiaan yang
selama ini tersimpan. Lalu kemudian, kau mengenalkanku pada apa yang orang lain
sebut cinta, pada kata terbuka yang berarti benar-benar tak ada yang ditutupi,
pada kata bebas yang benar-benar melepaskanku menjadi diriku sendiri dan apapun
yang aku mau.
Kau membimbingku hingga benar-benar mengerti, bukan sekedar
tahu. Kau mengajariku untuk benar-benar menjiwai sabar, bukan sekedar
mengenalnya. Dan semuanya terjadi begitu saja, kau masuk ke kehidupanku dengan
segala tentangmu, sikapmu, kebaikkanmu, ketaatanmu, murah hatimu dan semuanya,
termasuk cintamu. Dan akupun mengikuti arusmu dengan luar biasa girangnya,
karena aku seolah menemukan apa yang selama ini kucari. Cinta,mungkin ?
Tapi, benarkah ini cinta ? tidakkah terlalu cepat ? tidakkah
ini hanya sekedar ketertarikkan sesaat ?
Kemudian, semuanya berjalan dengan kesempurnaan tingkat
tinggi. Berjalan baik-baik saja. Aku memilikimu, orang yang juga memujaku.
Tapi, apakah semua ini sungguh-sungguh ? tidakkah ini hanya pendahuluan sebelum
sampai pada isi yang penuh kebohongan ?
Hingga malam itu, tepat hari jadi kita entah untuk yang
keberapa. Sikapmu tiba-tiba meragu, membuatku tergoncang dan tertatih mengikuti
arusmu yang tanpa titik terang. Sebenarnya arusmu tak berubah, hanya sedikit
gelombang yang telah cukup membuatku terombang-ambing. Mungkin memang aku yang
terlalu perasa, hingga ucapanmu membuatku terluka.
Bukan kamu yang berubah. Tapi aku. Dan itu karena sikapmu
yang meragu. Dan sekarang semuanya terlalu runtuh untuk dipertahankan, aku
telah terlalu kalah untuk terus mengikuti arusmu. Lalu, kau tiba-tiba
mengembalikan sikapmu seperti mula-mula. Mengembalikan arusmu yang tenang, kau
berulang kali mengucap ma’af dan aku berulang kali pula mema’afkanmu. Dan
selanjutnya, akan terus seperti itu, kau meminta ma’af dan aku memberi ma’af.
Semuanya buruk dan berubah.
Kau membuatku terluka, lalu mengucap ma’af dan kemudian
membuat dirimu mengikuti arusku yang kamu tahu tidak pernah setenang arusmu. Kau
membuatku tertawa lalu kemudian menangis, membuatku berbunga lalu kemudian
kecewa, bahagia kemudian terluka. Kau membuatku tak bisa mengubah sikap
dinginku padamu, tapi juga tak bisa membuatku meninggalkamu. Kau membuatku tak
bisa memilihmu tapi juga tak bisa memilih hal lain. Kau membuatku tak bisa
mempertahankanmu tapi juga tak bisa melepaskanmu. Kau membuatku menjadi seorang
egois yang menggantung semuanya. Semuanya hambar dan sia-sia sepenuhnya.