Jumat, 06 Juni 2014

Benarkah Ini KITA ?


Sekali ini saja, bisakah semua ini dianggap adil ?
Tentu saja tidak, ketika aku telah menemukan seorang yang bisa membuatku tertawa lepas dan bicara tanpa batas, tanpa harus berpura-pura sempurna, tanpa harus menutupi segala keburukkan tingkah lakuku, saat itu pula aku mengakui bahwa hal lain tengah menghantuiku. Aku menemukanmu. Seperti menemukan kebebasan yang selama ini terjaga, seperti menemukan kebahagiaan yang selama ini tersimpan. Lalu kemudian, kau mengenalkanku pada apa yang orang lain sebut cinta, pada kata terbuka yang berarti benar-benar tak ada yang ditutupi, pada kata bebas yang benar-benar melepaskanku menjadi diriku sendiri dan apapun yang aku mau.
Kau membimbingku hingga benar-benar mengerti, bukan sekedar tahu. Kau mengajariku untuk benar-benar menjiwai sabar, bukan sekedar mengenalnya. Dan semuanya terjadi begitu saja, kau masuk ke kehidupanku dengan segala tentangmu, sikapmu, kebaikkanmu, ketaatanmu, murah hatimu dan semuanya, termasuk cintamu. Dan akupun mengikuti arusmu dengan luar biasa girangnya, karena aku seolah menemukan apa yang selama ini kucari. Cinta,mungkin ?

Tapi, benarkah ini cinta ? tidakkah terlalu cepat ? tidakkah ini hanya sekedar ketertarikkan sesaat ?

Kemudian, semuanya berjalan dengan kesempurnaan tingkat tinggi. Berjalan baik-baik saja. Aku memilikimu, orang yang juga memujaku. Tapi, apakah semua ini sungguh-sungguh ? tidakkah ini hanya pendahuluan sebelum sampai pada isi yang penuh kebohongan ?

Hingga malam itu, tepat hari jadi kita entah untuk yang keberapa. Sikapmu tiba-tiba meragu, membuatku tergoncang dan tertatih mengikuti arusmu yang tanpa titik terang. Sebenarnya arusmu tak berubah, hanya sedikit gelombang yang telah cukup membuatku terombang-ambing. Mungkin memang aku yang terlalu perasa, hingga ucapanmu membuatku terluka.
Bukan kamu yang berubah. Tapi aku. Dan itu karena sikapmu yang meragu. Dan sekarang semuanya terlalu runtuh untuk dipertahankan, aku telah terlalu kalah untuk terus mengikuti arusmu. Lalu, kau tiba-tiba mengembalikan sikapmu seperti mula-mula. Mengembalikan arusmu yang tenang, kau berulang kali mengucap ma’af dan aku berulang kali pula mema’afkanmu. Dan selanjutnya, akan terus seperti itu, kau meminta ma’af dan aku memberi ma’af.

Semuanya buruk dan berubah.

Kau membuatku terluka, lalu mengucap ma’af dan kemudian membuat dirimu mengikuti arusku yang kamu tahu tidak pernah setenang arusmu. Kau membuatku tertawa lalu kemudian menangis, membuatku berbunga lalu kemudian kecewa, bahagia kemudian terluka. Kau membuatku tak bisa mengubah sikap dinginku padamu, tapi juga tak bisa membuatku meninggalkamu. Kau membuatku tak bisa memilihmu tapi juga tak bisa memilih hal lain. Kau membuatku tak bisa mempertahankanmu tapi juga tak bisa melepaskanmu. Kau membuatku menjadi seorang egois yang menggantung semuanya. Semuanya hambar dan sia-sia sepenuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar