Ma’af, mungkin hubungan kita harus berakhir disini.
Ma’af aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita.
Bisakah kita mengakhiri hubungan kita sekarang ?
Deshafani Lephta Villyan, sejak tadi ia terus memilah
kalimat-kalimat tersebut. Mengganti setiap kata yang menurutnya terlalu kasar.
Lalu, kemudian menyusunnya kembali. Sebenarnya apa yang tengah ia rencanakan ?
Baiklah, ia berniat untuk mengakhiri sebuah hubungan yang selama ini ia anggap
main-main, yang selalu tak pernah ia anggap serius, yang ia bahkan tak menduga
akan bisa bertahan hingga 8 bulan.
Ia memandang layar ponselnya selama hampir lima menit.
Terang saja, tak ada apa-apa yang terjadi, layar ponsel itu tetap hitam dan
gelap seperti semula. Ia meraih ponselnya, lalu mulai memasukkan 12 angka yang
sepertinya sudah sangat ia hapal. Kemudian, dibuntuti dengan menekan sebuah
keypad berwarna hijau.
“Septian, bisakah kita bertemu nanti sore. I need to talk
with you”, ucapnya segera setelah telephon tersambung.
“Anything for you dear”, seseorang diseberang sana yang
bernama Septian menjawab dengan nada yang pasti.
Layar ponselnya menampilkan sebuah fhoto –yang entah
apa—berbentuk seperti bulan sabit sesaat setelah ia menekan keypad berwarna
merah. Ponselnya diletakkannya kembali, lalu tangannya bergerak menggenggam
sesuatu yang tergantung dilehernya. Sebuah liontin dengan bentuk bulan sabit.
Liontin itu terdengan bergemericing pelan saat tersentuh. Ia menghela nafas.
Everything will be back to be just fine, batinnya.
***
“Ma’af aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi”.
Suaranya terdengar sedikit bergetar ditengah keramaian
sebuah kafe yang biasa menjadi tempat mereka bertemu. Fany dan Septian.
Septian, orang yang ia ajak berbicara hanya mematung
dihadapannya, menatapnya tak percaya. Selama sepersekian menit mereka terdiam
dengan ketegangan yang mengudara.
“Apa kau bercanda ?”, suara Septian terdengar berat
ditelinganya. Ia bahkan, tidak pernah mendengar Septian menggunakan nada seaneh
ini.
Ia menggeleng tegas, tak berani menatap Septian.“Ma’afkan
aku, aku tidak pernah bisa benar-benar mencintaimu”, akhirnya ia mengatakan
alasannya.
“Tapi, kukira selama ini kau mencintaiku”, jawab Septian.
“Apa aku pernah mengatakannya ?”, ia menyela ucapan Septian.
“Aku tahu kau pasti berpikir aku tidak perlu mengucapkannya
karena aku akan merealisasikannya dalam sikapku”, ia menambahkan tepat saat
Septian sudah membuka mulut untuk berbicara.
“Tapi, aku tetap tidak mengerti bagaimana mungkin kau bisa
bertahan selama ini denganku jika kau tidak mencintaiku”, Septian berkata
dengan suara penuh keraguan.
“Karena aku berpikir, bersama waktu hatiku mungkin bisa
berubah”, ia menunduk menatap gelas berisi minuman yang sama sekali tak
tersentuh. Ia tidak tahu, apakah ia barusaja melukai laki-laki dihadapannya
atau justru membuat Septian merasa bebas dari apa yang selama ini terjalin
diantara mereka.
“Kau tidak tahu bagaimana aku mencintaimu dan
memperhatikanmu selama ini”, Septian bergumam dengan suara yang justru lebih
terdengar ragu daripada sebelumnya.
Hatinya, Fani, mencelos mendengar keraguan dalam suara
Septian. Sekarang ia semakin mengerti dimana letak kesalahan mereka. Mereka
terikat diluar, tapi kosong pada bagian dalam. Tak ada apa-apa pada bagian
dimana seharusnya terisi nama seseorang yang telah menjadi sepasang kekasih
selama delapan bulan terakhir. Bahkan tak ada tanda-randa yang menunjukkan
bahwa seseorang pernah tinggal disana selama delapan bulan. Hati, benar.
“Apa kau yakin dengan perasaanmu ? Dan apa yang kau sebut
dengan perhatian seharusnya lebih dari sekedar bertanya ‘apa kau sudah makan ?’
atau ‘apa yang sedang kau lakukan ?’. Perhatian memiliki makna yang lebih luas
dari itu. Kau tidak pernah mengerti hal itu karena kau tidak mengenalku
melebihi orang yang kusebut sebagai teman. Kau tidak pernah tahu tentangku
melebihi nama, alamat, tanggal lahir dan segala yang berhubungan dengan fisik.
You never knowing me inside”, ia menumpahkan segala ayng selama ini tersimpan
dalam hatinya, segala yang selama ini menjadi beban untuknya.
“Kau tahu ? Aku selalu berusaha mencari ketulusan dalam
kita. Tapi, aku tidak pernah menemukannya hingga sekarang, hingga semuanya
berakhir. Aku tidak pernah merasa hati kita terpaut, yang ada hanya tubuh kita
yang terikat. Dan semua ini adalah kata-kata paling tulus yang pernah kuucapkan
padamu”, ia mengakhiri ucapannya dengan menghela nafas dan memejamkan mata.
Semuanya berakhir, batinnya.
Ia hampir menangis jika tak cepat-cepat beranjak dari kafe itu.
Sekarang, ia hanya berjalan tanpa arah yang jelas menyusuri trotoar, mengikuti
kemana kaki akan membawanya pergi. Tangannya lagi-lagi menggenggam liontin
berbentuk bulan sabit yang tergantung dilehernya, meredam gemericing pelan yang
ditimbulkan liontin itu. Langkahnya terhenti ketika ia menyadari ia sudah
berada disebuah taman yang terlihat lengang karena sudah menjelang malam dan
bulan sebentar lagi akan menggantikan posisi matahari.
Ia melangkah lagi menuju sebuah kursi putih yang tidak jauh
dari sebuah pohon yang sepertinya juga
diduduki seorang laki-laki pada bagian
belakangnya. Tangannya semakin erat menggenggam liontin itu. Entah kenapa,
aroma yang mengembang diudara terasa familiar untuknya. Ia menghela nafas, lalu
mendongakkan kepala. Menatap langit yang mulai gelap, berharap bulan sabit akan
segera terlihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar