Sabtu, 01 Maret 2014

Bertahan atau Melepaskan ? (jus a note)


Bertahan dan melepaskan. Dua pilihan yang sama enggan untuk di pilih. Tidak bertahan, tidak juga melepaskan. Alasan utama tentu saja, karena melepaskan takkan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bertahanpun, sudah tak ada artinya. Sudah hambar-sehambarnya. Mungkin hampa.
Lalu, adakah pilihan lain ? Adakah pilihan di antara keduanya ?
Tidak hanya kalian, akupun menanyakan hal yang sama, adakah pilihan di antara keduanya ? sepertinya ada karena aku sudah memilihnya. Menekuni jalan di antara keduanya tidak bertahan, tidak juga melepaskan. Karena rasa tak sama sekali terdefinisikan. Tak terjawab, yang aku sendiri bingung apa pertanyaannya. Tapi sudahlah, toh sudah terjadi dan sudah seperti ini.
Sekarang, duduk saja dan merenungi semuanya tak cukup untuk memberi satu kepastian. Karena kadangkala pertahananku sedang di ambang jurang. Mempertaruhkan kebersamaan yang telah terlalui seperti nafas kehidupan atau sekedar angin lalu untuk sebagian yang tak pernah menikmatinya. Bersediakah aku untuk jatuh dan mengorbakannya ? untuk kalah dan merelakan segala yang telah terlalui bersamanya ? untuk melepaskan dan membiarkan semuanya menjadi kenangan ? bersediakah ?
Terkadang pula, melepaskan justru menghampiriku. Menawarkan jalan yang sepertinya menggiurkan untuk di pilih dan menyembunyikan segala resiko atas kesakitan atau kehidupan yang berbeda. Sekali lagi, bersediakah aku untuk merelakan semuanya menjadi kenangan ? siapkah aku menjalaninya ? karena melepaskan berarti tidak lagi menggenggam, tidak lagi memiliki, tak lagi berhak atas apapun yang berhubungan dengannya.
Tapi, bertahanpun sama susahnya dengan melepaskan. Atau bahkan, lebih. Karena yang tinggal hanya kata-kata yang gagal menggambarkan ketulusan. Benar. Hanya itu. Tak adalagi rasa atau jiwa. Jadi, untuk apa bertahan ? untuk status atau perhatian ? untuk berharap akan kata-kata cinta tanpa pembuktian ? sungguh, semua itu sama sekali tak perlu. Mungkin, aku bertahan untuk diriku sendiri. Setidaknya sementara, hingga waktu menunjukkan setulus apa ia ? atau sebanyak apalagi kata-kata bualan yang akan ku terima ?
Jadi sekarang, aku bertahan ? tidak juga. Karena setahuku, tidak mencintai, tidak mempercayai, tak bisa di sebut bertahan. Mungkin kalian akan menganggapku aneh, atau lebih ekstrim lagi, gila. Aku tak perduli, apapun itu. Tapi, jika kalian menganggapku tak berperasaan maka aku akan membenarkannya. Karena aku sendiri sudah lupa perasaanku tertinggal atau jatuh di mana. Atau hati ? yah, aku sendiri ragu apa aku masih punya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar