Bertahan dan melepaskan. Dua pilihan yang sama enggan untuk
di pilih. Tidak bertahan, tidak juga melepaskan. Alasan utama tentu saja,
karena melepaskan takkan semudah membalikkan telapak tangan. Tapi bertahanpun,
sudah tak ada artinya. Sudah hambar-sehambarnya. Mungkin hampa.
Lalu, adakah pilihan lain ? Adakah pilihan di antara
keduanya ?
Tidak hanya kalian, akupun menanyakan hal yang sama, adakah
pilihan di antara keduanya ? sepertinya ada karena aku sudah memilihnya.
Menekuni jalan di antara keduanya tidak bertahan, tidak juga melepaskan.
Karena rasa tak sama sekali terdefinisikan. Tak terjawab, yang aku sendiri
bingung apa pertanyaannya. Tapi sudahlah, toh sudah terjadi dan sudah seperti
ini.
Sekarang, duduk saja dan merenungi semuanya tak cukup untuk
memberi satu kepastian. Karena kadangkala pertahananku sedang di ambang jurang.
Mempertaruhkan kebersamaan yang telah terlalui seperti nafas kehidupan atau
sekedar angin lalu untuk sebagian yang tak pernah menikmatinya. Bersediakah aku
untuk jatuh dan mengorbakannya ? untuk kalah dan merelakan segala yang telah
terlalui bersamanya ? untuk melepaskan dan membiarkan semuanya menjadi kenangan
? bersediakah ?
Terkadang pula, melepaskan justru menghampiriku. Menawarkan
jalan yang sepertinya menggiurkan untuk di pilih dan menyembunyikan segala
resiko atas kesakitan atau kehidupan yang berbeda. Sekali lagi, bersediakah aku
untuk merelakan semuanya menjadi kenangan ? siapkah aku menjalaninya ? karena
melepaskan berarti tidak lagi menggenggam, tidak lagi memiliki, tak lagi berhak
atas apapun yang berhubungan dengannya.
Tapi, bertahanpun sama susahnya dengan melepaskan. Atau
bahkan, lebih. Karena yang tinggal hanya kata-kata yang gagal menggambarkan
ketulusan. Benar. Hanya itu. Tak adalagi rasa atau jiwa. Jadi, untuk apa
bertahan ? untuk status atau perhatian ? untuk berharap akan kata-kata cinta
tanpa pembuktian ? sungguh, semua itu sama sekali tak perlu. Mungkin, aku
bertahan untuk diriku sendiri. Setidaknya sementara, hingga waktu menunjukkan
setulus apa ia ? atau sebanyak apalagi kata-kata bualan yang akan ku terima ?
Jadi sekarang, aku bertahan ? tidak juga. Karena setahuku,
tidak mencintai, tidak mempercayai, tak bisa di sebut bertahan. Mungkin kalian
akan menganggapku aneh, atau lebih ekstrim lagi, gila. Aku tak perduli, apapun
itu. Tapi, jika kalian menganggapku tak berperasaan maka aku akan
membenarkannya. Karena aku sendiri sudah lupa perasaanku tertinggal atau jatuh
di mana. Atau hati ? yah, aku sendiri ragu apa aku masih punya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar