Jumat, 14 Maret 2014

First Impression


Sekarang perpustakaan kampus sedang lumayan ramai, sepertinya setiap hari ada saja orang yang berminat membaca buku-buku membosankan disini. Buku yang bahkan bisa menyebabkan geger otak jika dipukulkan kekepala atau menyebabkan kaki membiru jika terjatuh mengenai kaki. Dan aku ada disini, tentu saja dengan terpaksa, karena harus mengerjakan sebuah laporan yang sumbernya hanya bisa didapat diperpustakaan. Yah, mengesankan sekali.
Sebenarnya aku tak benar-benar membaca buku yang sedang terbuka didepanku ini, aku hanya menyusuri halaman demi halamannya secara asal-asalan. Jika aku menemukan sebuah kata atau kalimat yang berhubungan dengan apa yang sedang aku cari, barulah aku akan mulai membacanya. Dan beruntungnya lagi aku memiliki kemampuan otak diatas rata-rata, jadi, setiap aku menemukan satu kalimat maka aku akan bisa mengembangkan kalimat-kalimat selanjutnya. Sudah hampir setengah lusin halaman yang ku telusuri, tapi tak satupun dari mereka yang memuat apa yang aku cari, hingga Handphoneku bergetar. Sebuah pesan. Yang aku yakin dari ibuku—atau operator.

‘Raka, kau ingat dengan Velicia ? Ia baru saja tiba disini, mama sudah mengatakan bahwa kau akan makan siang bersamanya dan kau harus menemaninya berkeliling setelah makan siang. Ia akan menunggumu dikafe Taria, ia menggunakan baju berwarna biru dan sebuah tas berwarna abu-abu. Kau akan langsung mengenalinya.’

 Great! Ibuku menjanjikan makan siang dengan seseorang yang tidak kukenal dan tanpa sepengetahuanku. What the—argghh. Aku menendang kaki meja didepanku dengan kesal hingga membuat beberapa orang menatapku, mencela. Dan aku mulai membayangkan wanita itu, Vatricia atau siapalah namanya, ia pasti menggunakan semacam dress dan highells yang dipenuhi blink-bink mengerikan, dengan rambut yang menggulung tergantung, lalu akan membicarakan tentang masalah wanita seperti gaun atau sepatu,ini pasti akan jadi makan siang panjang dan membosankan.

Tepat saat aku hendak beranjak dari perpustakaan, handphone-ku berdering, yang langsung membuat seisi perpustakan menatapku tajam atau memberi pelototan. Itu bukan dering tanda panggilan, tapi alarm yang artinya—astaga, rapat senat. Benar, hari ini memang dijadwalkan untuk rapat. Lalu bagaimana dengan janji ibuku, makan siang dengan Vatricia. Sepertinya aku akan langsung mendapat kesan buruk darinya. Tapi setidaknya, aku bisa mengurangi waktu membosankan yang akan kuhabiskan bersama Vatricia atau siapalah itu.
  
Terlambat 45 menit, aku tahu. Dan sekarang aku sudah ada didepan kafe yang pintunya terbuka. Disana. Gadis itu, sepertinya ia sedang memandang sesuatu. Ah, hancur sudah harapanku mengenai Vatricia yang akan meninggalkanku karena terlambat. Tapi, tunggu dulu. Sepertinya ia memang bukan Vatricia, karena ia tak sama sekali memakai pakaian seperti yang aku bayangkan tadi. Ia, gadis itu memang memakai baju berwarna biru dengan lengan sesiku dan—ia memang Vatricia—sebuah tas abu-abu tersampir di punggungnya. Yah, setidaknya ia membuatku merasa tolol karena membayangkannya akan memakai sebuah dress tadi.

“Permisi”, sapaku dengan sopan saat sudah berada dekat dengannya.

“Hey! Kau pasti Raka!”. Astaga ia bahkan nyaris meneriakkiku.

“Dan kau..”, aku menimbang-nimbang apakah Vatricia memang namanya—

“Velicia”, ia memotong ucapanku dan aku bersyukur sekali karena tidak menyebutnya Vatricia tadi.

Aku tidak tahu bagaimana kami bisa menghabiskan makan siang tadi, tapi yang jelas, ia tak seburuk yang kubayangkan sebelumnya. Sungguh, ia bahkan lebih menarik karena cenderung aneh untuk ukuran gadis-gadis seusianya. Dan apa aku sudah mengatakannya ? bahwa ia, Velicia, gadis yang sedang berjalan mendahuluiku itu ceroboh sekali. Ia bahkan, baru saja hampir menumpahkan minumannya pada seseorang yang tak sengaja ia tabrak. Kami memang sedang berjalan menelusuri trotoar—sesuai pesan ibuku untuk mengajaknya keliling kota. Dan satu hal lagi, kami sama-sama pecinta lukisan. Mungkin hal itulah yang membuatku nyaman bersamanya. Jadilah sekarang kami sedang menunggu hasil lukisan seorang pelukis yang kami minta untuk melukiskan wajah kami.

“Aku tidak tahu kalau kau senang dilukis”, ucapku memulai pembicaraan sambil melirik kearahnya yang sedang duduk tenang menikmati gulali.

“Yeah, aku senang ketika melihat wajahku dalam lukisan. Dan aku masih punya daftar panjang kesenanganku yang lain jika kau berminat mendengarkannya”, ia berkata sambil menyeringai—sesuatu yang sangat jarang dilakukan perempuan.

“Dan aku juga selalu membawa earphone-ku kemana-mana, jika sewaktu-waktu perlu menggunakannya”, jawabku sambil balas menyeringai.

“Ya, lalu aku akan mengoceh sendirian sementara kau mendengarkan musik”, ia tersenyum kecut, yang tandanya kemenangan bagiku.

Aku sudah hampir berkata lagi saat pelukis itu bergerak dan menyerahkan lukisannya pada kami, lukisannya diserahkan padanya dan aku padaku juga. Ia tersenyum puas saat melihat lukisan itu. Ia pasti senang melihat wajahnya dalam lukisan seperti yang dikatakannya tadi.

Ia menggerutu ketika aku mengajaknya pulang karena matahari sudah hampir ditelan malam, sudah sangat sore. Tapi gerutuan dan wajah kesal itu berubah menjadi semacam ekspresi girang karena aku mengatakan bahwa kami akan lanjut berkeliling besok. Nah, aku baru menyadarinya sekarang. Inilah yang membuatnya benar-benar tampak berbeda. Wajahnya. Bukan, bukan karena kecantikkannya melebihi rata-rata atau hidungnya yang mancung sekali itu. Tapi, ekspresi pada wajahnya yang cepat sekali berganti. Bahkan selama aku menatapnya sekarang saja, ia sudah kira-kira tiga kali berganti ekspresi, dan jika ditambah dengan ekspresi kesal dan girangnya tadi berarti ia sudah lima kali berganti ekspresi sejak beberapa menit yang lalu. Pertama ekspresi kesal, lalu girang, lalu ekspresi imut—yang membuatku menahan tawa, lalu ekspresi anggun—yang tak kalah menggelikan dari ekspresinya sebelumnya, dan sekarang adalah ekspresi bingung. Ia bingung karena aku menatapnya.

“Hanya ingin melihat ekspresimu”, jawabku santai.
Ia hanya menaikkan alis sebelah, lalu memasang ekspresi datar yang tak terbaca. Aku balas menaikkan alis, namun ia sudah mengalihkan perhatiannya pada bangunan-bangunan yang kami lewati.
Aku sampai dirumah dengan Velicia—ia menginap dirumahku. Lalu sama-sama berjalan dengan lukisan ditangan masing-masing. Aku melihat ia tersenyum sekilas sesaat sebelum menuju kamarnya. Dan spring bed dikamarku terlihat menggiurkan ketika aku masuk kamar dengan perasaan lelah. Aku menghempaskan diri disana, lalu meraih lukisan yang tadi. Tapi, ini bukan lukisanku, karena bukan wajahku yang terlukis disini. Tapi, wajah seorang gadis yang tengah tersenyum dengan gulali ditangannya. Velicia. Sepertinya lukisan kami tertukar saat dimobil. Dan well, sebenarnya aku tak keberatan dengan lukisan ini. Tapi, walau bagaimanapun menyenangkannya menatap lukisan ini, aku harus tetap memberitahu pemiliknya.
Setelah mandi aku turun kebawah berniat mengembalikan lukisan ini. Tepat saat aku berada diantara ruang tengah dan kamarnya, aku berhenti karena mendapati ia yang juga tengah berjalan kearahku.
“Velicia”
“Raka”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar