Kamis, 20 Februari 2014

With Mask For Love


Apa ada yang lebih setia dari seorang pecinta yang menunggu kekasihnya kembali ? ada, tentu saja ada. Aku, misalnya. Pertanyaan selanjutnya sudah pasti, apa yang sedang kutunggu ? pelangi. Aku sedang menunggu pelangi. Bukan, bukan pelangi alam. Tapi, pelangi kehidupan. Karena hidupku tak pernah semenyenangkan yang terlihat. Hidup dalam bayang-bayang keluarga terkenal dan terlahir dengan nama keluarga ‘Fineth’ yang sangat di hormati itu tidak mudah dan tidak menguntungkan—sejauh ini. Kau akan mendapat banyak tuntutan melebihi kapasitas kekuatan pemenuhanmu, kau harus begini atau kau harus bisa seperti ini. Lalu, kau juga akan sering mendengar hipotesa-hipotesa tentang masa depanmu, seolah merekalah yang menentukan masa depan. Seperti : kau akan jadi begini dan akan menikah dengan orang seperti ini nanti, kemudian tinggal di sini. Benar-benar payah.
Yah, dan hal itulah yang membuatku ada di sini sekarang. Di sebuah kafe di mana aku bisa menjadi orang lain di luar diriku sendiri. Di mana aku bisa mengekspresikan apapun melalui gesekkan biola ini, meski aku harus berusaha keras untuk tidak menjadi diriku sendiri dalam hal ini. Aku senang berada di sini karena disini aku bebas menjadi orang biasa. Bukan seorang anak dari pengusaha kaya atau peraih gelar profesor termuda se-Indonesia atau adik dari seorang kakak terpintar di angkatannya. Bukan pula seorang yang di hormati karena menyandang nama belakang ‘Fineth’. Dan dengan nama Silera aku meninggalkan identitas asliku sebagai Jessica Xilera Fineth. Aku selalu datang dengan topeng dan pakaian yang benar-benar bisa di bilang biasa ke kafe ini hingga tak ada yang bisa mengenaliku di sini. Tapi sialnya, aku selalu di pasangkan dengan seorang laki-laki yang juga menggunakan topeng hingga ia tak bisa di kenali.
Dan sekarang hujan baru saja mereda menyisakan gerimis-gerimis kecil. Aku sedang berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan kafe. Langkahkupun besar-besar, tapi rapat.
“Selira!”, suara seorang laki-laki yang juga mengenakan topeng memanggilku. Aku pura-pura tidak mendengar dan meneruskan langkah. Tapi, suara laki-laki itu sangat familiar dengan telingaku. Suara itu seperti suara...Danish.
“Seliraaa!!”, ia memanggilku bersama langkahnya yang terdengar menderu di tengah gerimis. Aku mendengarnya, tapi tak ada yang bisa membuatku berhenti sekarang. Dan suara itu, aku yakin itu suara Danish, seorang kutu buku dari klub sastra dan Ketua OSIS. Ya, aku sendiri bingung bagaimana caranya hingga ia bisa tetap membaca di tengah kesibukkannya.
“Jessica!!”, ia berseru lagi. Aku tersentak karena ia tahu nama asliku, seingatku  aku tak pernah menggunakan nama asliku di kafe. Hah ? Bagaimana mungkin ia tahu ? tapi, aku harus terus melangkah.
Terlambat. Sekarang ia sudah berhasil menggenggam salah satu pergelangan tanganku. Apa-apan ini ? Kenapa ia memaksaku seperti ini. Oke, terlalu berlebihan mungkin jika di sebut memaksa karena ia tidak menarikku atau menyeretku sama sekali. Ia hanya mencengkeram tanganku erat, menahanku agar tak bergerak.
“Apa maumu ?”, aku berbicara dengan nada setengah membentak.
“Aku ingin kau memainkan biola sebagai dirimu sendiri, sebagai seorang Jessica yang biasa, cuek dan dingin”
Hey ? memangnya sekenal apa ia denganku ?
“Apa maksudmu ? siapa Jessica ?”, kali ini aku sangat bersyukur terlahir sebagai seorang ‘Fineth ‘, karena wajah kami selalu di hiasi dengan ekspresi dingin, tak perduli. Jadi, tak akan kentara walaupun aku sedang gugup sekarang.
“Sudahlah Selira kau tak perlu menutupinya, aku tahu kau adalah Jessica Xilera Fineth. Dan yang kau perlukan hanyalah sebuah keberanian untuk menggesekkan biola sebagai dirimu sendiri”, ia mengucapkan kalimat itu lagi. Dan aku tak mungkin bisa pura-pura tidak mendengarnya sekarang. Ia tahu semuanya.
“Tidak, Jessica tidak bisa bermain biola”, jawabku mencoba santai.
“Ya,benar. Itu karena kau tidak pernah mencoba”. Benar. Ucapan Danish benar. Aku memang tidak pernah mau mencoba memainkan biola sebagai diriku sendiri. Aku selalu berusaha keluar dari diriku sendiri saat menggesekkannya.
Aku diam tak menjawab apapun karena mata kami bertemu melalui celah topeng yang kami gunakan. Matanya sangat menenangkan, menyejukkan siapa saja yang menatapnya. Aku merasa darahku berdesir kencang, jantungku berpacu dengan kecepatan yang tak biasa. Mataku tak bisa merubah arah pandang dari matanya. Aku terpesona padanya, Danish.
“Sebenarnya, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu ?”, ia berkata lagi, membuatku sadar dari perasaan nyamanku saat menatapnya. Apalagi yang ingin di tanyakannya, bukankah ia sudah tahu semuanya.
“Ya ?”, jawabku sambil memberinya tatapan terdingin yang bisa kuberi.
“Apa kau..errr..menyukaiku ?”
Apa ? menyukainya ? kurasa kepala laki-laki di depanku ini barusaja di jatuhi buah kelapa. Mana mungkin aku menyukainya. Well, aku memang mengaku bahwa aku terpesona padanya dan sebenarnya ia juga..tampan sih. Ah, sudahlah.
“Kalau kau hanya ingin menanyakan hal itu, aku pergi sekarang”, jawabku sinis, mencoba menutupi perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul. Tepat saat aku hendak melangkahkan kaki ia berkata lagi,
“Baiklah, bagaimana kalau aku jatuh cinta padamu”, aku mendengarnya mengatakan hal itu. Langkahku terhenti. Apa ia serius ?
“Tidak. Tidak. Aku tidak mencintaimu karena kau adalah seorang Fineth atau seorang Selira. Aku mencintaimu karena kau adalah dirimu sendiri, meski dalam nama apapun”, ia menambahkan.
Aku menatap matanya mencoba mencari kebohongan atau sesuatu yang bisa membuatku tidak percaya padanya. Tapi, tak ada apa-apa di sana selain kenyamanan. Aku merasa kehangatan yang entah darimana mengaliriku, mungkin gerimis sekarang berubah menjadi tetesan-tetesan air hangat. Aku masih diam, meski perlahan merasa bahwa bibirku sudah membentuk sebuah lengkungan sempurna.
Ia tersenyum padaku, lalu seakan memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan bersamanya. Perlahan kami melangkah bersama sisa-sisa air hujan yang membasahi dedaunan. Tak ada yang berbicara selama beberapa saat. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Tapi, yang aku tahu hanyalah aku merasa senang menjadi diriku sendiri saat ini.
“Jadi, maukah..kau...errr ?”, ia menggantung pertanyaannya.
“Jadi pacarmu ?”, aku tidak tahu apa yang membuatku menjawab sespontan itu. Ada perasaan yang tak bisa di jelaskan saat ini.
“Ya”, ia menjawab dengan uring-uringan.
“Aku yakin kau mencintaiku dan aku mencintaimu”, tambahnya lagi, kali ini ia berkata dengan senyum lebar terpeta di wajah tampannya itu.
“Apa yang membuatmu hingga seyakin itu ?”, tanyaku dengan mata menyipit ke arahnya. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku senang bersamanya. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan merasa nyaman saat bersamanya.
“Tak ada, hanya wajahmu yang merona merah”
“Apa ?!”, ya inilah salah satu yang kubenci, merona merah.
Baiklah, aku mengaku. Aku memang jatuh cinta padanya, Danish.

Selasa, 18 Februari 2014

Hurt (Nothing Comfort)


Aku tidak perduli pada kesunyian jalan atau kegelapan malam. Tidak. Tidak sama sekali. Aku juga tidak perduli dengan senandung dingin angin malam yang sesekali menerpa tubuhku. Sungguh, itu semua sudah terlalu klise. Aku masih betah duduk di kursi berlengan dingin dan kaku ini. Bahkan, aku sengaja mengunci pintu kamarku agar kakakku yang bawel itu tak bisa menggangguku. Sebenarnya yang ku lakukan sejak tadi hanyalah memutar kembali ingatan saat wajah tampan bermata coklat terang itu menatapku, saat tubuh tegap tanpa cela itu berdekatan denganku dan setiap hal itu terjadi selalu di sertai getaran-getaran misterius yang entah bersumber darimana. Mungkin sudah puluhan kali kejadian-kejadian itu berputar di otakku  selama aku di sini dan selama itu pula aku merasa kehangatan yang menjalari seluruh tubuhku beserta geliat-geliat aneh yang membahagiakan.
Tunggu dulu. Bukan ini tujuanku kemari. Seharusnya aku berusaha melupakan kejadian-kejadian itu bukan malah mengingatnya sambil tersenyum di sini. Oh, bodoh sekali rasanya. Bagaimana mungkin aku lupa pada apa yang membawaku duduk di balkon ini ? tentang segala tekadku selama ini untuk melupakan laki-laki itu, melupakan wajah tampannya, melupakan tubuh tegapnya. Cukup-cukup. Aku harus berhenti memujinya kalau aku ingin melupakannya. Mungkin aku bisa memulai melupakannya dengan memanggilnya Si Jelek atau Si Buruk Rupa. Tapi, itu benar-benar berbanding terbalik dengan kenyataannya. Dan mungkin aku akan langsung di bunuh jika para Fans-Fanatik-yang-sangat-Memujanya tahu bahwa aku memanggil idola mereka dengan Si Buruk Rupa. Nah loh, jadi ngebahas dia lagikan.
Intinya aku harus melupakan laki-laki yang telah membuatku kenal dengan kata menunggu meski secara tidak langsung, laki-laki yang tidak pernah menganggapku ada di dunianya, laki-laki yang selalu memandangku sebelah mata, sekaligus laki-laki yang telah lama menjadi penghuni hatiku dan aku tahu ini tidak akan mudah. Melupakan tidak pernah mudah. Tapi, aku harus melakukannya.
~~~~~
Hari ini tidak ada hal luar biasa yang terjadi di sekolah, tidak ada hal aneh atau kehebohan apapun. Menoton, seperti biasa. Kecuali aku yang sedang berusaha menghilangkan kebiasaanku untuk selalu menguntitnya, untuk selalu memperhatikannya dalam jarak yang tak bisa di bilang dekat. Aku tahu ini adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Tapi selain ini, apalagi yang bisa kulakukan ? aku tidak seperti perempuan lain yang memiliki keberanian tingkat tinggi untuk mendekati laki-aki yang aku sukai. Rasa maluku lebih besar dari rasa percaya diri dan keberanianku. Jadi, aku selalu melakukan hal ini selama lebih dari 2 tahun dan sekarang aku harus mengakhirinya. Menyudahi segala kebiasanku mengawasinya, memperhatikannya, membantunya yang semuanya kulakukan secara diam-diam. Termasuk menyudahi segala perasaanku terhadapnya, perasaan yang telah ku simpan selama ini. Inilah yang kumaksud dengan menunggu, menunggunya menghampiriku. Sebelumnya, aku memang pernah percaya bahwa nanti ia akan datang untukku. Tapi sekarang, tidak lagi. Aku sudah mematahkan kepercayaan itu, kepercayaan yang selama ini membuatku bertahan. Aku harus melupakannya sekarang karena jika tidak perasaan ini akan semakin menyakitiku.
“Yera, sudah. Gak usah mikirin Alvin lagi”, itu adalah kalimat yang sudah sangat sering kudengar dari sahabatku tercinta, Felda.
“Siapa yang lagi mikirin Alvin”, jawabku mengelak.
“Sejak kapan kamu bisa bohongin aku ?”, Felda memang selalu tahu kebenaran.
“Aku lagi mikirin gimana caranya aku lupain dia”
“Melupakan itu gak semudah mengatakan, Yera. Apalagi kamu udah sayang banget sama di—“
“Aku tahu Felda. Makanya aku udah mutusin buat kuliah di Canada”, aku memotong ucapannya dan mengatakan keputusan yang telah aku ambil beberapa hari yang lalu. Aku tahu Felda mungkin tidak setuju dengan rencana ini, tapi aku tidak bisa terus-terusan di sini.
“Kok kamu baru bilang sekarang ?”
“Karena papa aku juga baru nawarin sama aku beberapa hari yang lalu”
“Terus aku sama siapa di sini ?”
“Felda, kamu punya banyak teman selain aku. Jadi, kamu nggak mungkin kesepian. Lagipula sekarangkan zaman udah canggih”, jawabku sekenanya, karena sebenarnya aku tidak ingin membahas hal ini.
“Tolong jujur sama aku apa yang bikin kamu ngambil keputusan ini ?”, Felda bertanya dengan menatapku dalam-dalam. Aku tahu pertanyaan ini cepat atau lambat akan di pertanyakannya padaku dan aku tak punya pilihan selain menjawabnya dengan jujur.
“Aku nggak bisa terus-terusan tinggal dan mencintai seseorang yang nggak mencintaiku. Hidup dalam bayang-bayang perasaan sepihak, perasaan yang cuma ada sama aku”, aku menjawab dengan menundukkan kepala. Aku tidak bisa terus bertemu dengan matanya, Felda sudah mengenalku seperti aku mengenal diriku sendiri. Aku tidak ingin ia merasakan kesedihanku.
“Aku ngerti kok, jadi kapan kamu mau berangkat ?”, jawaban yang tak terduga beserta sebuah senyum manis terpeta di wajahnya.
“Sehari setelah pengumuna kelulusan”, jawabku singkat.
Percakapan itu berakhir dengan pelukkan dan anggukkan singkat dari Felda. Aku tahu ia menyimpan kesedihannya. Dan aku juga merasakan hal yang sama. Tapi ini, adalah keputusan terbaik. Pergi dan biarkan waktu membuatku lupa pada laki-laki itu, pada Alvin. Lupa pada perasaanku padanya, pada segala kenangan tentangnya. Lupa tentang cinta dan segala harapan yang pernah tumbuh menjalar di hatiku, yang pernah memberiku bahagia karena bisa merasakannya dan tersiksa karena hanya bisa memendamnya.
Sekali lagi, ini adalah keputusan terbaik. Pergi dan biarkan waktu menjadi resep lupa paling mujarab untuk menghilangkan segala tentangnya.
~~~
“Yeraaa!!”, suara seorang laki-laki yang benar-benar tak terduga memanggilku. Aku senang mendengarnya memanggil namaku. Tapi, aku tidak bisa berbalik dan menghampirinya. Aku terlalu gugup dan aku telah memutuskan untuk melupakannya.
‘Alvin, ma’afkan aku’, hatiku bersuara. Aku benar-benar ingin minta ma’af padanya, namun tidak sekarang. Aku harus pulang karena aku sudah menerima amplop kelulusan dan mempersiapkan segala hal untuk kepergianku besok. Aku tidak ada urusan dengannya.
“Yera Deskila Navini!”
Apa ? ia tahu nama lengkapku ? sejak kapan ? aku sangat senang ia tahu nama lengkapku. Tapi, aku harus terus melangkah.
“Kumohon, berhenti..”
Baiklah, aku berhenti. Mematung, menunggunya menghampiriku. Sesuatu yang benar-benar tak bisa di bayangkan. Aku benar-benar gugup dan merasa kikuk. Pipiku pasti merah sekarang.
“a-apa ?”. Bodoh. Kenapa aku tiba-tiba gagap ? seperti orang yang baru pernah bertemu laki-laki saja.
“Apa benar kau akan kuliah di Canada ?”. Apa ? Aku tersentak mendengar pertanyaannya.
“Bagaimana kau bisa tahu ?”, oh, syukurlah. Aku sudah tidak gagap lagi.
“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya ?”, ia bertanya lagi dengan ekspresi aneh.
“Kenapa aku harus memberitahumu ? bukankah berbicara saja kita tidak pernah ?”, sekarang siapa yang bodoh ? aku atau dia ? bagaimana mungkin aku memberitahunya sementara aku baru pernah mendengar ia memanggil namaku. Bukankah selama ini hanya aku yang terlalu sibuk memperhatikannya sedang ia bahkan tak membuka matanya untukku. Ironis sekali.
“Kenapa kau tidak pernah jujur bahwa kau menyukaiku ?”
Apa ? tidak mungkin! Darimana ia tahu hal ini ? siapa yang menberitahunya ? dan orang itu bersiaplah menerima kemarahanku. Aku tidak mungkin menjawabnya, karena jika aku menjawabnya ia akan tahu bahwa aku benar-benar menyukainya, bahkan mencintainya. Siapapun! Bunuh aku sekarang.
“Dan kenapa aku harus jujur padamu ?”, hanya itu yang bisa ku pikirkan.
“Karena aku juga menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu. Dan kau tidak tahu betapa tersiksanya aku akhir-akhir ini ketika berusaha mendekatimu tapi kau menghindariku”, ia menjawab dalam satu tarikkan nafas.
Aku tidak percaya. Kenapa baru sekarang, bodoh ? kenapa baru sekarang kau mengungkapkannya ? saat aku sudah memutuskan untuk melupakanmu, untuk pergi dan menghilangkan segala tentangmu dari hidupku. Kau datang lalu mengatakan bahwa kau mencintaiku saat aku sudah terlalu lelah untuk bertahan, sudah tidak sanggup untuk tetap tinggal.
“Jadi, bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi ?”, kata-katanya ini membuatku kembali dari perang di hati dan pikiranku. Aku menatapnya, perasaan hangat seketika mengaliriku. Aku tahu ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Alvin, ma’afkan aku. Aku tidak bisa kembali dan mengubah keputusanku untuk pergi. Aku tidak bisa berbalik dan memilih untuk tetap tinggal. Aku sudah terlalu lelah dengan berbagai urusan perasaan”, aku mengucapkannya dengan sangat pelan karena berusaha menahan air mata, menghela nafas dan aku melanjutkan lagi “Aku sudah tidak sanggup untuk tetap di sini dan menggeluti cinta, aku sudah mengalah pada keadaan dan terlalu lemah untuk menunggu lagi, aku sudah menyerah pada waktu dan tidak cukup kuat untuk bertahan lagi”, aku berusaha keras untuk tidak menangis.
“Tapi, aku tidak akan membuatmu menunggu lagi. Aku tidak akan membiarkanmu merasa lelah karena aku juga mencintaimu. Aku akan membuatmu bertahan bersamaku. Yera, aku mohon”, ia menggenggam tanganku erat. Sangat erat, bahkan mungkin tanganku sudah memutih sekarang. Tapi, aku tidak perduli walau tangaku harus kesakitan karena genggamannya. Aku menginginkan hal ini sejak dulu dan sekarang aku mendapatkannya. Aku tidak ingin melepaskannya. Selamanya, aku ingin seperti ini.
“Kau..kau mencintaikukan ?”, ia bertanya lagi.
‘Tentu Alvin. Tentu. Aku...aku sangat mencintaimu’, hatiku meneriakkan hal itu, tapi mulutku tak bisa meneriakkannya. Karena seharusnya aku melupakannya.
Aku menatap mata teduhnya itu, aku ingin ia tahu bahwa aku juga sangat mencintainya. Aku ingin menyampaikan semua perasaanku padanya melalui tatapan ini. Aku ingin ia tahu semuanya, segalanya yang ada di hatiku. Aku ingin ia tahu betapa aku juga sangat mencintainya.
“Yera, aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu”, ia berkata dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Dengan segala keengganan aku melepas tanganku dari genggamannya. Aku tidak ingin melakukan ini, aku ingin di sini bersamanya. Aku tidak ingin pergi. Tidak ingin.
Perlahan, aku beringsut mundur dengan kepala menunduk. Aku tidak sanggup melihatnya saat ini, saat aku harus meninggalkannya pergi. Aku merasa tangannya menyentuh daguku. Sekali lagi, mata kami bertemu. Sudah. Aku harus pergi sekarang. Ma’afkan aku Alvin.
Aku berlari meninggalkannya yang masih berdiri di tempatnya. Aku tidak ingin menoleh ke belakang karena bisa-bisa aku akan kembali padanya.
Izinkan aku menangis sekarang. Menangisi diriku sendiri, menangisi cinta dan pengorbanan. Menangisi apa yang baru saja kulepaskan, cinta yang baru saja kurelakan. Juga menangisi waktu yang mempermainkanku, tak memberiku kesempatan untuk bersamanya lebih lama lagi.Tak memberiku detik untuk menyampaikan bahwa aku mencintainya. Mungkin aku takkan merasakan cinta lagi setelah ini, aku tidak ingin. Sudah cukup ia yang menjadi orang satu-satunya yang ku cintai dalam hati. Hanya dia dan akan selalu dia. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan kembali untuknya sesegera mungkin setelah aku menyelesaikan pendidikanku.