Apa ada yang lebih setia dari seorang pecinta yang menunggu
kekasihnya kembali ? ada, tentu saja ada. Aku, misalnya. Pertanyaan selanjutnya
sudah pasti, apa yang sedang kutunggu ? pelangi. Aku sedang menunggu pelangi.
Bukan, bukan pelangi alam. Tapi, pelangi kehidupan. Karena hidupku tak pernah
semenyenangkan yang terlihat. Hidup dalam bayang-bayang keluarga terkenal dan
terlahir dengan nama keluarga ‘Fineth’ yang sangat di hormati itu tidak mudah
dan tidak menguntungkan—sejauh ini. Kau akan mendapat banyak tuntutan melebihi
kapasitas kekuatan pemenuhanmu, kau harus begini atau kau harus bisa seperti
ini. Lalu, kau juga akan sering mendengar hipotesa-hipotesa tentang masa
depanmu, seolah merekalah yang menentukan masa depan. Seperti : kau akan jadi
begini dan akan menikah dengan orang seperti ini nanti, kemudian tinggal di
sini. Benar-benar payah.
Yah, dan hal itulah yang membuatku ada di sini sekarang. Di
sebuah kafe di mana aku bisa menjadi orang lain di luar diriku sendiri. Di mana
aku bisa mengekspresikan apapun melalui gesekkan biola ini, meski aku harus
berusaha keras untuk tidak menjadi diriku sendiri dalam hal ini. Aku senang
berada di sini karena disini aku bebas menjadi orang biasa. Bukan seorang anak
dari pengusaha kaya atau peraih gelar profesor termuda se-Indonesia atau adik
dari seorang kakak terpintar di angkatannya. Bukan pula seorang yang di hormati
karena menyandang nama belakang ‘Fineth’. Dan dengan nama Silera aku
meninggalkan identitas asliku sebagai Jessica Xilera Fineth. Aku selalu datang
dengan topeng dan pakaian yang benar-benar bisa di bilang biasa ke kafe ini
hingga tak ada yang bisa mengenaliku di sini. Tapi sialnya, aku selalu di
pasangkan dengan seorang laki-laki yang juga menggunakan topeng hingga ia tak
bisa di kenali.
Dan sekarang hujan baru saja mereda menyisakan
gerimis-gerimis kecil. Aku sedang berjalan dengan tergesa-gesa meninggalkan
kafe. Langkahkupun besar-besar, tapi rapat.
“Selira!”, suara seorang laki-laki yang juga mengenakan
topeng memanggilku. Aku pura-pura tidak mendengar dan meneruskan langkah. Tapi,
suara laki-laki itu sangat familiar dengan telingaku. Suara itu seperti
suara...Danish.
“Seliraaa!!”, ia memanggilku bersama langkahnya yang
terdengar menderu di tengah gerimis. Aku mendengarnya, tapi tak ada yang bisa
membuatku berhenti sekarang. Dan suara itu, aku yakin itu suara Danish, seorang
kutu buku dari klub sastra dan Ketua OSIS. Ya, aku sendiri bingung bagaimana
caranya hingga ia bisa tetap membaca di tengah kesibukkannya.
“Jessica!!”, ia berseru lagi. Aku tersentak karena ia tahu
nama asliku, seingatku aku tak pernah
menggunakan nama asliku di kafe. Hah ? Bagaimana mungkin ia tahu ? tapi, aku
harus terus melangkah.
Terlambat. Sekarang ia sudah berhasil menggenggam salah satu
pergelangan tanganku. Apa-apan ini ? Kenapa ia memaksaku seperti ini. Oke,
terlalu berlebihan mungkin jika di sebut memaksa karena ia tidak menarikku atau
menyeretku sama sekali. Ia hanya mencengkeram tanganku erat, menahanku agar tak
bergerak.
“Apa maumu ?”, aku berbicara dengan nada setengah membentak.
“Aku ingin kau memainkan biola sebagai dirimu sendiri,
sebagai seorang Jessica yang biasa, cuek dan dingin”
Hey ? memangnya sekenal apa ia denganku ?
“Apa maksudmu ? siapa Jessica ?”, kali ini aku sangat
bersyukur terlahir sebagai seorang ‘Fineth ‘, karena wajah kami selalu di hiasi
dengan ekspresi dingin, tak perduli. Jadi, tak akan kentara walaupun aku sedang
gugup sekarang.
“Sudahlah Selira kau tak perlu menutupinya, aku tahu kau
adalah Jessica Xilera Fineth. Dan yang kau perlukan hanyalah sebuah keberanian
untuk menggesekkan biola sebagai dirimu sendiri”, ia mengucapkan kalimat itu
lagi. Dan aku tak mungkin bisa pura-pura tidak mendengarnya sekarang. Ia tahu
semuanya.
“Tidak, Jessica tidak bisa bermain biola”, jawabku mencoba
santai.
“Ya,benar. Itu karena kau tidak pernah mencoba”. Benar.
Ucapan Danish benar. Aku memang tidak pernah mau mencoba memainkan biola
sebagai diriku sendiri. Aku selalu berusaha keluar dari diriku sendiri saat
menggesekkannya.
Aku diam tak menjawab apapun karena mata kami bertemu
melalui celah topeng yang kami gunakan. Matanya sangat menenangkan, menyejukkan
siapa saja yang menatapnya. Aku merasa darahku berdesir kencang, jantungku
berpacu dengan kecepatan yang tak biasa. Mataku tak bisa merubah arah pandang dari
matanya. Aku terpesona padanya, Danish.
“Sebenarnya, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu ?”,
ia berkata lagi, membuatku sadar dari perasaan nyamanku saat menatapnya.
Apalagi yang ingin di tanyakannya, bukankah ia sudah tahu semuanya.
“Ya ?”, jawabku sambil memberinya tatapan terdingin yang
bisa kuberi.
“Apa kau..errr..menyukaiku ?”
Apa ? menyukainya ? kurasa kepala laki-laki di depanku ini
barusaja di jatuhi buah kelapa. Mana mungkin aku menyukainya. Well, aku memang
mengaku bahwa aku terpesona padanya dan sebenarnya ia juga..tampan sih. Ah,
sudahlah.
“Kalau kau hanya ingin menanyakan hal itu, aku pergi
sekarang”, jawabku sinis, mencoba menutupi perasaan aneh yang tiba-tiba saja
muncul. Tepat saat aku hendak melangkahkan kaki ia berkata lagi,
“Baiklah, bagaimana kalau aku jatuh cinta padamu”, aku mendengarnya
mengatakan hal itu. Langkahku terhenti. Apa ia serius ?
“Tidak. Tidak. Aku tidak mencintaimu karena kau adalah
seorang Fineth atau seorang Selira. Aku mencintaimu karena kau adalah dirimu
sendiri, meski dalam nama apapun”, ia menambahkan.
Aku menatap matanya mencoba mencari kebohongan atau sesuatu
yang bisa membuatku tidak percaya padanya. Tapi, tak ada apa-apa di sana selain
kenyamanan. Aku merasa kehangatan yang entah darimana mengaliriku, mungkin
gerimis sekarang berubah menjadi tetesan-tetesan air hangat. Aku masih diam,
meski perlahan merasa bahwa bibirku sudah membentuk sebuah lengkungan sempurna.
Ia tersenyum padaku, lalu seakan memberi isyarat untuk
melanjutkan perjalanan bersamanya. Perlahan kami melangkah bersama sisa-sisa
air hujan yang membasahi dedaunan. Tak ada yang berbicara selama beberapa saat.
Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Tapi, yang aku tahu
hanyalah aku merasa senang menjadi diriku sendiri saat ini.
“Jadi, maukah..kau...errr ?”, ia menggantung pertanyaannya.
“Jadi pacarmu ?”, aku tidak tahu apa yang membuatku menjawab
sespontan itu. Ada perasaan yang tak bisa di jelaskan saat ini.
“Ya”, ia menjawab dengan uring-uringan.
“Aku yakin kau mencintaiku dan aku mencintaimu”, tambahnya
lagi, kali ini ia berkata dengan senyum lebar terpeta di wajah tampannya itu.
“Apa yang membuatmu hingga seyakin itu ?”, tanyaku dengan
mata menyipit ke arahnya. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku senang
bersamanya. Aku bisa menjadi diriku sendiri dan merasa nyaman saat bersamanya.
“Tak ada, hanya wajahmu yang merona merah”
“Apa ?!”, ya inilah salah satu yang kubenci, merona merah.
Baiklah, aku mengaku. Aku memang jatuh cinta padanya,
Danish.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar