Aku tidak perduli pada kesunyian jalan atau kegelapan malam.
Tidak. Tidak sama sekali. Aku juga tidak perduli dengan senandung dingin angin
malam yang sesekali menerpa tubuhku. Sungguh, itu semua sudah terlalu klise.
Aku masih betah duduk di kursi berlengan dingin dan kaku ini. Bahkan, aku
sengaja mengunci pintu kamarku agar kakakku yang bawel itu tak bisa
menggangguku. Sebenarnya yang ku lakukan sejak tadi hanyalah memutar kembali
ingatan saat wajah tampan bermata coklat terang itu menatapku, saat tubuh tegap
tanpa cela itu berdekatan denganku dan setiap hal itu terjadi selalu di sertai
getaran-getaran misterius yang entah bersumber darimana. Mungkin sudah puluhan
kali kejadian-kejadian itu berputar di otakku
selama aku di sini dan selama itu pula aku merasa kehangatan yang
menjalari seluruh tubuhku beserta geliat-geliat aneh yang membahagiakan.
Tunggu dulu. Bukan ini tujuanku kemari. Seharusnya aku
berusaha melupakan kejadian-kejadian itu bukan malah mengingatnya sambil
tersenyum di sini. Oh, bodoh sekali rasanya. Bagaimana mungkin aku lupa pada
apa yang membawaku duduk di balkon ini ? tentang segala tekadku selama ini
untuk melupakan laki-laki itu, melupakan wajah tampannya, melupakan tubuh
tegapnya. Cukup-cukup. Aku harus berhenti memujinya kalau aku ingin
melupakannya. Mungkin aku bisa memulai melupakannya dengan memanggilnya Si
Jelek atau Si Buruk Rupa. Tapi, itu benar-benar berbanding terbalik dengan
kenyataannya. Dan mungkin aku akan langsung di bunuh jika para Fans-Fanatik-yang-sangat-Memujanya
tahu bahwa aku memanggil idola mereka dengan Si Buruk Rupa. Nah loh, jadi
ngebahas dia lagikan.
Intinya aku harus melupakan laki-laki yang telah membuatku
kenal dengan kata menunggu meski secara tidak langsung, laki-laki yang tidak
pernah menganggapku ada di dunianya, laki-laki yang selalu memandangku sebelah
mata, sekaligus laki-laki yang telah lama menjadi penghuni hatiku dan aku tahu
ini tidak akan mudah. Melupakan tidak pernah mudah. Tapi, aku harus
melakukannya.
~~~~~
Hari ini tidak ada hal luar biasa yang terjadi di sekolah,
tidak ada hal aneh atau kehebohan apapun. Menoton, seperti biasa. Kecuali aku
yang sedang berusaha menghilangkan kebiasaanku untuk selalu menguntitnya, untuk
selalu memperhatikannya dalam jarak yang tak bisa di bilang dekat. Aku tahu ini
adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Tapi selain ini, apalagi yang bisa
kulakukan ? aku tidak seperti perempuan lain yang memiliki keberanian tingkat
tinggi untuk mendekati laki-aki yang aku sukai. Rasa maluku lebih besar dari
rasa percaya diri dan keberanianku. Jadi, aku selalu melakukan hal ini selama
lebih dari 2 tahun dan sekarang aku harus mengakhirinya. Menyudahi segala
kebiasanku mengawasinya, memperhatikannya, membantunya yang semuanya kulakukan
secara diam-diam. Termasuk menyudahi segala perasaanku terhadapnya, perasaan
yang telah ku simpan selama ini. Inilah yang kumaksud dengan menunggu,
menunggunya menghampiriku. Sebelumnya, aku memang pernah percaya bahwa nanti ia
akan datang untukku. Tapi sekarang, tidak lagi. Aku sudah mematahkan
kepercayaan itu, kepercayaan yang selama ini membuatku bertahan. Aku harus
melupakannya sekarang karena jika tidak perasaan ini akan semakin menyakitiku.
“Yera, sudah. Gak usah mikirin Alvin lagi”, itu adalah
kalimat yang sudah sangat sering kudengar dari sahabatku tercinta, Felda.
“Siapa yang lagi mikirin Alvin”, jawabku mengelak.
“Sejak kapan kamu bisa bohongin aku ?”, Felda memang selalu
tahu kebenaran.
“Aku lagi mikirin gimana caranya aku lupain dia”
“Melupakan itu gak semudah mengatakan, Yera. Apalagi kamu
udah sayang banget sama di—“
“Aku tahu Felda. Makanya aku udah mutusin buat kuliah di
Canada”, aku memotong ucapannya dan mengatakan keputusan yang telah aku ambil
beberapa hari yang lalu. Aku tahu Felda mungkin tidak setuju dengan rencana
ini, tapi aku tidak bisa terus-terusan di sini.
“Kok kamu baru bilang sekarang ?”
“Karena papa aku juga baru nawarin sama aku beberapa hari
yang lalu”
“Terus aku sama siapa di sini ?”
“Felda, kamu punya banyak teman selain aku. Jadi, kamu nggak
mungkin kesepian. Lagipula sekarangkan zaman udah canggih”, jawabku sekenanya,
karena sebenarnya aku tidak ingin membahas hal ini.
“Tolong jujur sama aku apa yang bikin kamu ngambil keputusan
ini ?”, Felda bertanya dengan menatapku dalam-dalam. Aku tahu pertanyaan ini
cepat atau lambat akan di pertanyakannya padaku dan aku tak punya pilihan
selain menjawabnya dengan jujur.
“Aku nggak bisa terus-terusan tinggal dan mencintai
seseorang yang nggak mencintaiku. Hidup dalam bayang-bayang perasaan sepihak,
perasaan yang cuma ada sama aku”, aku menjawab dengan menundukkan kepala. Aku
tidak bisa terus bertemu dengan matanya, Felda sudah mengenalku seperti aku
mengenal diriku sendiri. Aku tidak ingin ia merasakan kesedihanku.
“Aku ngerti kok, jadi kapan kamu mau berangkat ?”, jawaban
yang tak terduga beserta sebuah senyum manis terpeta di wajahnya.
“Sehari setelah pengumuna kelulusan”, jawabku singkat.
Percakapan itu berakhir dengan pelukkan dan anggukkan
singkat dari Felda. Aku tahu ia menyimpan kesedihannya. Dan aku juga merasakan
hal yang sama. Tapi ini, adalah keputusan terbaik. Pergi dan biarkan waktu
membuatku lupa pada laki-laki itu, pada Alvin. Lupa pada perasaanku padanya,
pada segala kenangan tentangnya. Lupa tentang cinta dan segala harapan yang
pernah tumbuh menjalar di hatiku, yang pernah memberiku bahagia karena bisa
merasakannya dan tersiksa karena hanya bisa memendamnya.
Sekali lagi, ini adalah keputusan terbaik. Pergi dan biarkan
waktu menjadi resep lupa paling mujarab untuk menghilangkan segala tentangnya.
~~~
“Yeraaa!!”, suara seorang laki-laki yang benar-benar tak
terduga memanggilku. Aku senang mendengarnya memanggil namaku. Tapi, aku tidak
bisa berbalik dan menghampirinya. Aku terlalu gugup dan aku telah memutuskan
untuk melupakannya.
‘Alvin, ma’afkan aku’, hatiku bersuara. Aku benar-benar
ingin minta ma’af padanya, namun tidak sekarang. Aku harus pulang karena aku
sudah menerima amplop kelulusan dan mempersiapkan segala hal untuk kepergianku
besok. Aku tidak ada urusan dengannya.
“Yera Deskila Navini!”
Apa ? ia tahu nama lengkapku ? sejak kapan ? aku sangat
senang ia tahu nama lengkapku. Tapi, aku harus terus melangkah.
“Kumohon, berhenti..”
Baiklah, aku berhenti. Mematung, menunggunya menghampiriku.
Sesuatu yang benar-benar tak bisa di bayangkan. Aku benar-benar gugup dan
merasa kikuk. Pipiku pasti merah sekarang.
“a-apa ?”. Bodoh. Kenapa aku tiba-tiba gagap ? seperti orang
yang baru pernah bertemu laki-laki saja.
“Apa benar kau akan kuliah di Canada ?”. Apa ? Aku tersentak
mendengar pertanyaannya.
“Bagaimana kau bisa tahu ?”, oh, syukurlah. Aku sudah tidak
gagap lagi.
“Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya ?”, ia bertanya
lagi dengan ekspresi aneh.
“Kenapa aku harus memberitahumu ? bukankah berbicara saja
kita tidak pernah ?”, sekarang siapa yang bodoh ? aku atau dia ? bagaimana
mungkin aku memberitahunya sementara aku baru pernah mendengar ia memanggil
namaku. Bukankah selama ini hanya aku yang terlalu sibuk memperhatikannya
sedang ia bahkan tak membuka matanya untukku. Ironis sekali.
“Kenapa kau tidak pernah jujur bahwa kau menyukaiku ?”
Apa ? tidak mungkin! Darimana ia tahu hal ini ? siapa yang
menberitahunya ? dan orang itu bersiaplah menerima kemarahanku. Aku tidak
mungkin menjawabnya, karena jika aku menjawabnya ia akan tahu bahwa aku
benar-benar menyukainya, bahkan mencintainya. Siapapun! Bunuh aku sekarang.
“Dan kenapa aku harus jujur padamu ?”, hanya itu yang bisa
ku pikirkan.
“Karena aku juga menyukaimu. Tidak, aku mencintaimu. Dan kau
tidak tahu betapa tersiksanya aku akhir-akhir ini ketika berusaha mendekatimu
tapi kau menghindariku”, ia menjawab dalam satu tarikkan nafas.
Aku tidak percaya. Kenapa baru sekarang, bodoh ? kenapa baru
sekarang kau mengungkapkannya ? saat aku sudah memutuskan untuk melupakanmu,
untuk pergi dan menghilangkan segala tentangmu dari hidupku. Kau datang lalu
mengatakan bahwa kau mencintaiku saat aku sudah terlalu lelah untuk bertahan,
sudah tidak sanggup untuk tetap tinggal.
“Jadi, bisakah kita mulai semuanya dari awal lagi ?”,
kata-katanya ini membuatku kembali dari perang di hati dan pikiranku. Aku
menatapnya, perasaan hangat seketika mengaliriku. Aku tahu ia
bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
“Alvin, ma’afkan aku. Aku tidak bisa kembali dan mengubah
keputusanku untuk pergi. Aku tidak bisa berbalik dan memilih untuk tetap tinggal.
Aku sudah terlalu lelah dengan berbagai urusan perasaan”, aku mengucapkannya
dengan sangat pelan karena berusaha menahan air mata, menghela nafas dan aku
melanjutkan lagi “Aku sudah tidak sanggup untuk tetap di sini dan menggeluti
cinta, aku sudah mengalah pada keadaan dan terlalu lemah untuk menunggu lagi,
aku sudah menyerah pada waktu dan tidak cukup kuat untuk bertahan lagi”, aku
berusaha keras untuk tidak menangis.
“Tapi, aku tidak akan membuatmu menunggu lagi. Aku tidak
akan membiarkanmu merasa lelah karena aku juga mencintaimu. Aku akan membuatmu
bertahan bersamaku. Yera, aku mohon”, ia menggenggam tanganku erat. Sangat
erat, bahkan mungkin tanganku sudah memutih sekarang. Tapi, aku tidak perduli
walau tangaku harus kesakitan karena genggamannya. Aku menginginkan hal ini
sejak dulu dan sekarang aku mendapatkannya. Aku tidak ingin melepaskannya.
Selamanya, aku ingin seperti ini.
“Kau..kau mencintaikukan ?”, ia bertanya lagi.
‘Tentu Alvin. Tentu. Aku...aku sangat mencintaimu’, hatiku
meneriakkan hal itu, tapi mulutku tak bisa meneriakkannya. Karena seharusnya
aku melupakannya.
Aku menatap mata teduhnya itu, aku ingin ia tahu bahwa aku
juga sangat mencintainya. Aku ingin menyampaikan semua perasaanku padanya
melalui tatapan ini. Aku ingin ia tahu semuanya, segalanya yang ada di hatiku.
Aku ingin ia tahu betapa aku juga sangat mencintainya.
“Yera, aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu”, ia
berkata dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Dengan segala keengganan aku
melepas tanganku dari genggamannya. Aku tidak ingin melakukan ini, aku ingin di
sini bersamanya. Aku tidak ingin pergi. Tidak ingin.
Perlahan, aku beringsut mundur dengan kepala menunduk. Aku
tidak sanggup melihatnya saat ini, saat aku harus meninggalkannya pergi. Aku
merasa tangannya menyentuh daguku. Sekali lagi, mata kami bertemu. Sudah. Aku
harus pergi sekarang. Ma’afkan aku Alvin.
Aku berlari meninggalkannya yang masih berdiri di tempatnya.
Aku tidak ingin menoleh ke belakang karena bisa-bisa aku akan kembali padanya.
Izinkan aku menangis sekarang. Menangisi diriku sendiri,
menangisi cinta dan pengorbanan. Menangisi apa yang baru saja kulepaskan,
cinta yang baru saja kurelakan. Juga menangisi waktu yang mempermainkanku, tak
memberiku kesempatan untuk bersamanya lebih lama lagi.Tak memberiku detik untuk
menyampaikan bahwa aku mencintainya. Mungkin aku takkan merasakan cinta lagi
setelah ini, aku tidak ingin. Sudah cukup ia yang menjadi orang satu-satunya
yang ku cintai dalam hati. Hanya dia dan akan selalu dia. Aku berjanji pada
diriku sendiri, aku akan kembali untuknya sesegera mungkin setelah aku
menyelesaikan pendidikanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar