(a sequel of The Best 15 Days In December)
“Perjodohan sialan!!”
“Perjodohan gila!!”
Umpatan-umpatan semacam itulah yang terus ku ucapkan. Ini
mengerikan. Di jodohkan di zaman yang sekarang sudah serba maju, sudah serba
modern. Benar-benar mengerikan. Pikirkan saja, aku akan menikah 24 hari lagi, tanpa
persiapan, tanpa tahu siapa yang akan menjadi suamiku. Tak masuk akal. Aku
benci tradisi keluarga seperti ini. Dan hebatnya lagi, aku tak bisa menolak.
Sempurna. Penderitaan yang sempurna. Dan gila. Karena hanya orang-orang yang
tidak beres saja yang masih memegang kuat tradisi keluarga tak masuk akal ini,
tradisi teraneh sepanjang sejarah hidupku.
Oke, aku akui aku memang tak punya kekasih setelah
kepergiannya ke London. 5 tahun lalu. Benar. Zhidan. Ia adalah satu-satunya
lelaki yang ku cintai selain ayah. Dan lagipula malam itu aku telah memutuskan
untuk menunggunya bukan, malam saat ia memberitahuku bahwa ia akan pindah ke
kota sialan itu, malam saat terakhir kali ia memelukku, malam saat ia memberiku
fhoto-fhoto yang merampungkan kenangan 15 hari terbaik di bulan Desember. “And
December will always our remember” aku menggumamkan kalimat itu lagi.
Satu-satunya kalimat yang menghubungkanku dengan Vidi. Aku merindukannya,
sangat.
“Astaga. Apalagi ini. Kenapa aku tak bisa tidur padahal
sudah mengantuk”, aku merutuk karena
sudah hampir 2 jam aku mencoba memejamkan mata namun tak menemukan ketenangan
yang dapat membawaku tidur. Aku benar-benar sial hari ini. Aku kesal pada semua
orang. Aku kesal karena tak ada yang mau mendengarkanku. Aku kesal karena
mereka selalu mementingkan kepentingan sendiri. Sungguh.
Aku menatap nanar ke arah jendela. Aku tidak tahu apa yang
membuatku seperti ini sekarang. Pikiranku kacau. Hatiku entah tersangkut paut
di mana, mungkin masih tertinggal di bulan Desember 5 tahun yang lalu. Buliran
bening menetes dari lengkung mataku. Mengalir semakin deras. Aku telah
menahannya selama ini. Aku telah membuatnya agar tak mengalir selama 5 tahun
ini. Aku telah menjadi wanita tegar di depan orang tuaku, teman-temanku dan
semua orang. Luka itu. Perpisahan itu. Perpisahan yang tak pernah bisa ku
bayangkan. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menutupi sakitnya,
perihnya sayatan itu. Dan aku berhasil melakukannya selama ini. Tapi sekarang,
malam ini, aku tumbang. Aku kalah pada perpisahan yang telah mengubahku hingga
sejauh ini, yang telah membuatku keluar dari diriku sendiri. Malam ini aku
menangis lagi karena perpisahan yang sama, aku merasakan lagi sakit yang sama. Malam
ini, malam yang sama dengan 5 tahun lalu.
Terisak.
Lagi. Lebih dalam lagi luka itu menyayat.
Luka yang telah ku tutupi selama lima tahun.
Namun, tak pernah bisa ku sembuhkan.
Kesakitan itu tak pernah benar-benar pulih, tak pernah
benar-benar hilang.
Lima tahun tanpa Zhidan telah mengajariku untuk lebih kuat,
telah membentukku menjadi orang lain dalam diriku sendiri. Aku meninggalkan
diriku yang semula, Tara yang semula. Aku benci terus hidup dalam genggam
kenangan. Dan aku benci mengakui hal ini, aku rindu diriku sendiri. Sangat
rindu.
Mungkin malam ini akan menjadi titik baliknya. Aku menyerah
pada keadaan, aku tak akan lagi menghindari sakit itu. Dan satu-satunya hal
yang ingin aku lakukan adalah kembali menjadi diriku sendiri. Menjadi Tara
seperti sebelum 5 tahun lalu, seperti Tara sebelum badai perpsahan itu menerpa.
Lega.
Lepas.
Keterikatan yang selama lima tahun ini aku rasakan melayang
seketika. Hilang.
Aku tak mengira kelegaan ini ada, kelegaan ini untukku.
Keputusan ini membuatku merasa bebas, menjadi diriku sendiri. Utuh. Meski di
sisi lain masih ada lubang yang perlu di tutupi, masih ada rasa sakit dan
sejenisnya yang perlu di obati. Di rawat hingga benar-benar pulih. Aku tahu ini
bagian dari sebuah proses panjang yang di sebut hidup.
Menghela nafas. Aku ingat tentang perjodohan dan segala
tetek bengeknya. Oh, betapa aku ingin menggagalkannya. Ingin sekali. Tapi tidak
mungkin, aku tak bisa. Arrgghh. Terlalu rumit. Dalam 24 hari lagi, aku akan
benar-benar berhenti menunggu. “Aku minta ma’af Zhidan, aku tak bisa memenuhi
perkataanku sendiri”, aku berbicara pada diriku sendiri. “Aku telah memenuhi
janjiku padamu. Meski sampai sekarang aku masih belum menemukan bagaimana cara
‘menjalani kehidupan seperti biasa’ yang kau minta. Tapi sisanya, aku telah
benar-benar memenuhinya. Aku mencintaimu—“. ‘Dan egoiskah jika aku memintamu
kembali ? Aku ingin melihatmu sebelum aku benar-benar menjadi milik
seseorang-yang-entah-siapa. Meski nanti aku akan melihat orang lain menggandeng
tanganmu, tak apa-apa Zhidan. Aku hanya ingin melihatmu sekali sebelum semua
ini benar-benar berakhir. And December will always our remember’. Aku
meneruskan kalimatku dalam hati.
Menghela nafas. Sekali lagi. Berkali-kali lagi.
Sekali ini saja, malam ini saja. Aku ingin tidur sebagai aku
yang biasa, Tara yang biasa, tanpa kesesakkan dan kepura-puraan yang
melibatkanku selama ini. Aku ingin tidur dengan tenang, meski bersama luka dan
kenangan.
...
Kriinggg. Krriiing. Jam enam tepat alarm itu berdering.
Dengan susah payah aku menyeret kakiku hingga ke depan cermin. Aku hampir
menjerit, namun dengan segera ku tutup mulutku dengan tangan. Wujudku tak
ubahnya seorang nenek sihir, dengan rambut yang bahkan lebih parah dari rambut
singa dan mata yang seperti tergantung sebuah kantung hitam di bawahnya. Ekstrim.
Berantakkan. Hancur-hancuran. Dengan
sangat terpaksa aku memaksa diriku ke kamar mandi.
Aku berniat turun ke dapur untuk sarapan bersama mama dan
papa. Tapi, aku tak menemukan siapapun.Senyap. Tak ada tanda-tanda kehidupan di
sini. Ini artinya semua orang di rumah ini sudah menuju tempat kerja
masing-masing. Sepertinya, sarapan kali ini akan menjadi sarapan terpanjang dan
membosankan. Tapi setidaknya, masih ada udara sejuk pagi yang akan menemaniku
menghabiskan sarapan. Plus matahari yang sudah mulai menampakkan diri dari
balik peraduan. Ting ting. Aku sengaja menimbulkan suara-suara agar mengurangi
kesan kesendirianku.
Memasuki gigitan kedua pada rotiku, mataku baru menyadari
ada sesuatu yang tak biasanya ada di meja makan pagi ini. Sebauh kertas, seperti
memo. Hanya memandangnya tak berminat, aku meneruskan sarapanku. Tunggu dulu.
Bukankah biasanya memo-memo seperti itu akan di tempelkan di daun kulkas, bukan
meninggalkannya di meja makan seperti yang sekarang terjadi. Atau mungkin memo
itu dari papa ? tapi itu lebih tidak mungkin lagi. Masih enggan bergerak dari
posisi awal, aku meneruskan sarapanku
mencoba menepis rasa penasaranku tentang memo itu.
Well, gigitan terakhir. Tapi sebelum itu, aku memutuskan
untuk mengetahui apa isi memo itu. mencondongkan tubuh ke depan. Dapat. Aku
berhasil meraihnya.
‘Kau akan bertemu dengan calon suamimu di hari ulang
tahunmu’
With love
Mama
Nb : kau akan menyukainya Tara
Deg. Aku tertegun. Tak percaya.
Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ku baca berulang-ulang kertas
kertas dengan tulisan pendek itu. Calon suami. Bertemu. Ulang tahun. Ini
artinya delapan hari lagi. 8 hari lagi aku akan tahu siapa yang akan menjadi
suamiku. Aku memasukkan sisa roti itu dengan kasar ke mulutku dan menelannya
dengan paksa. Meminum air putih hingga satu gelas. Tapi itu, belum juga
menenangkan. Belum juga mengembalikan kewarasanku.
‘Aku akan menunggumu Zhidan, tak perduli kau akan datang
atau tidak’.
Kalimat itu berputar dengan jelas di otakku yang serta merta
membawaku kembali pada lima tahun lalu, pada 15 hari terbaik di bulan Desember.
Bagaimana mungkin aku menjalani kehidupan lain sementara aku sendiri kehilangan
sebagian dari jiwaku. Aku tidaklah utuh. Bagaimana bisa semuanya berjalan dalam
sekejap, dalam satu kedipan mata, dalam satu balikkan tangan. Usahaku selama
lima tahun ini akan terpatahkan dalam 23 hari lagi. Penantianku akan berakhir.
Apa aku bisa menjalaninya ? aku tidak tahu. Aku tidak punya jawaban. Lalu,
bagaimana pula aku bisa bersama seseorang yang bahkan aku tak mengenalnya, tak
memiliki perasaan apa-apa padanya. Bagaimana bisa aku mencintainya ? sementara
hatiku saja masih tertaut pada seseorang jauh-yang-entah-di-mana, seseorang
yang selama ini dengan setia ku tunggu. Bagaimana bisa aku menandaskan perasaan
yang telah lama ada, yang telah lama hidup bersamaku. Bahkan sudah ada sejak
lima tahun lalu. Apa aku bisa ? Aku
tidak tahu. Seseorang, siapapun, tolong beri aku jawaban.
Menarik nafas dalam. Mataku memanas, pandanganku mengabur.
Aku berlari menaikki tangga menuju kamar, menuju balkon.
Terlalu abu-abu. Benar, aku tahu hal itu. Tidak pasti. Aku
juga tahu hal itu. Aku menunggu hanya dengan keyakinan tanpa kepastian. Aku
tidak perduli. Sama sekali tak perduli. Aku hanya percaya pada keyakinanku,
percaya bahwa keyakinan itu ada, keyakinan itu milikku. Sekali lagi, dalam hal
ini saja. Biarkan aku egois. Biarkan au meminta dunia memenuhinya. Aku mohon. Aku
hanya ingin ia kembali. Aku ingin keadaan yang mengalah padaku dalam hal ini,
mau tak mau. Harus. Karena mungkin dengan kedatangannya aku bisa lebih menerima
kenyataan. Ku mohon kembalilah.
Aku terdiam setelah beberapa saat sibuk berkutat dengan
perasaanku sendiri. Aku tak bisa dan tak ingin melanjutkan permohonanku karena
aku tak ingin menangis lagi pagi ini. ‘Cukup tadi malam’, batinku. Mataku
menjelajah jauh hamparan langit yang kini sudah mulai di temani cahaya
matahari, berharap menemukan sesuatu di sana. Tapi, aku tahu itu sama tidak
mungkinnya dengan mengharapkan salju turun di Jakarta. Sudahlah. Semua akan
baik-baik saja.
Hari-hari berikutnya berlalu tanpa sesuatu hal yang berarti.
Yang membuatnya berbeda mungkin hanyalah perubahan sikapku dan tak ada
tangisan, plus aku sudah masuk bekerja. Sisanya, sama.
...
Krriing. Kriing.
Astaga, jam ini lagi. Aku sungguh masih ingin tidur. Tapi, jika aku tak bangun
sekarang aku pasti akan terlambat bekerja dan mendapat banyak pekerjaan
tambahan. Memuakkan sekali. Dengan terpaksa aku bangun dan masuk kamar mandi.
Lagi-lagi, sudah tak ada siapa-siapa ketika aku turun ke
dapur. Namun, mama meninggalkan sebuah kertas lagi. Deg. Aku gugup. Apa isinya
?. Mengulurkan tangan dan mengambilnya.
‘Selamat ulang tahun, sayang.
Jam 11.30 hari ini, di kedai kopi tempatmu bekerja dulu
Tara.
Kau masih ingat ? dan di meja nomor 15’
Hah ? bagaimana mungkin aku lupa ? hari ini ulang tahunku
dan hari ini juga aku akan menemui laki-laki-yang-entah-siapa itu. Semoga tak
terjadi hal-hal buruk. Aku sudah pasrah. Mengalah pada keadaan. Tapi,
sebenarnya bukan itu yang membuatku –tak bisa menolak— mau menerima perjodohan
ini begitu saja. Melainkan, ada sesuatu yang entah apa mendorongku untuk
mengikuti tradisi sialan ini. Ada yang seperti meyakinkan bahwa ini semua akan
baik-baik saja.
Jam 11.25 aku sampai di depan kedai itu. Dengan langkah ragu
dan gugup aku memasukkinya. Harum berbagai kopi yang di seduh dengan air panas langsug menelusup indra penciumnanku, menyambutku. Tak banyak yang berubah di
sini, masih di dominasi warna hitam dan putih seperti dulu. Hanya saja
kursi-kursinya sudah berubah menjadi kursi elegan namun sederhana. Ada sensasi
aneh ketika aku memasukki kedai ini lagi, ada harapan yang mencuat untuk
mengulang kenangan lima tahun lalu. Tapi, aku tahu itu tidak mungkin. Mataku
menyusupi bagian-bagian kedai ini perlahan, seakan ingin kembali pada masa
lalu. Di sana. Meja nomor 15. Tunggu, tak ada siapa-siapa di sana selain sebuah
gelas putih. Dengan mempertegas langkah aku menuju meja itu dan duduk di salah
satu kursinya. Ada sebuah kertas yang seperti..seperti..milikku.
And December will always our remember
Tubuhku bergetar membacanya. Kalimat itu. Satu-satunya
kalimat yang menghubungkanku dengan Zhidan. Bagaimana ia bisa..
“Hai” sapa seseorang di belakangku.
Aku gugup setengah mati sekarang. Aku menoleh. Mataku tepat
bertemu dengan sepasang mata coklat yang hangat, mata coklat yang sangat ku
rindukan. Ini dia. Dia..dia Zhidan. Dia bersamaku sekarang. Aku tertegun, tak
bisa menjawab apapun. Masih memandang lekat-lekat wajahnya. Aku tak mungkin
salah mengenali. Lagipula aku sangat hapal aroma tubuh ini. Aroma parfum
Zhidan. Aku masih tak bisa berbuat apapun. Tak percaya.
Akhirnya aku berdiri. “Zhidan” aku berucap masih tak
percaya, menahan air mata.
“Ya, Tara ini aku. Dan kita akan menikah dalam 15 hari lagi”
ia menggenggam tanganku.
Aku menghambur ke perlukkannya. Tak peduli puluhan pasang
mata yang memandang kami. Aku tak perdui. Aku memeluknya sangat erat, merasa ia
menyentuh lembut rambutku. Aku benar-benar menangis sekarang, membasahi bahunya
dengan air mata. Bahagia, sangat. Bebanku terasa terangkat semua. Hilang
melayang entah pindah ke pundak siapa.
“Aku tak akan melarangmu menangis sekarang, juga tak akan
memintamu berjanji lagi. Karena aku di sini Tara, untukmu” ia berbisik di
telingaku. Aku mendengarnya dengan sangat jelas lalu tersenyum dengan sepenuh
hati. Mungkin itu adalah senyum tulus pertama setelah kejadian malam itu.
Melepaskan pelukan kami kembali ke meja, duduk berhadapan di
kursi masing-masing. Aku masih terus memandangnya. “Kau tidak memberiku kabar
selama lima tahun, menghilang, bahkan kau tidak mau berjanji akan kembali lagi.
Kau jahat, aku membencimu”, aku memulai dengan nada setengah marah setengah
bahagia.
“Dan aku mencintaimu”.
Aku tersenyum lagi mendengarnya.
Seorang pelayan mengantarkan kopi untukkku.
“Dau tidak berubah Zhidan, masih seorang penggemar kopi”
“Kau tidak tahu Tara, kopi adalah benda kedua yang membuatku
tetap waras selama lima tahun di Australia tanpamu”
“Oh, jangan sebutkan nama kota sialan itu”
“Aku tak mengira, kau begitu membencinya”
“Aku membencinya kerna memisahkanmu denganku”
“Tenang saja Tara, aku di sini sekarang dan aka selalu.
Cepat habiskan kopimu kita belum makan siang”
Dengan segera aku menghabiska kopi bersemangat. Lalu kami
keluar kedai berniat makan siang. Ia membawaku menuju sebuah mobil. “tidak naik
sepeda lagi seperti dulu ?” aku berujar.
“tidak nona, aku tidak ingin membuatmu lembur sekarang”.
“apa sekarang kita ?...” aku melanjutkan dengan menatapnya.
“tentu saja, aku tidak akan bertanya apakah kau mau menikah
denganku atau apakah kau mau menjadi pacarku dan sebagainya. Karena, aku tahu
kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Ku rasa itu cukup” ia berkata dengan
sangat lancar.
Mukaku memerah. Aku mencintainya dan aku bahagia.
“Dan selamat ulang tahun. Sejak hari ini hingga selamanya
akan menjadi hari terbaik untuk kita. But, December will always our remember”
ia berucap lagi.
Sesudahnya, aku tak peduli apapun lagi. Tak perduli soal perjodohan
atau tradisi aneh itu. tak peduli pada banyak mata yang menatap kami iri.
Karena kami sudah menemukan satu sama lain. Menemukan bagian yang telah lama
kami rindukan. Menemukan kebersamaan yang membuat kami bahagia selamanya, tentu
saja. Dan ku rasa itu cukup.