Rabu, 29 Januari 2014

Forever, Of Course


(a sequel of The  Best 15 Days In December)

“Perjodohan sialan!!”
“Perjodohan gila!!”
Umpatan-umpatan semacam itulah yang terus ku ucapkan. Ini mengerikan. Di jodohkan di zaman yang sekarang sudah serba maju, sudah serba modern. Benar-benar mengerikan. Pikirkan saja, aku akan menikah 24 hari lagi, tanpa persiapan, tanpa tahu siapa yang akan menjadi suamiku. Tak masuk akal. Aku benci tradisi keluarga seperti ini. Dan hebatnya lagi, aku tak bisa menolak. Sempurna. Penderitaan yang sempurna. Dan gila. Karena hanya orang-orang yang tidak beres saja yang masih memegang kuat tradisi keluarga tak masuk akal ini, tradisi teraneh sepanjang sejarah hidupku.

Oke, aku akui aku memang tak punya kekasih setelah kepergiannya ke London. 5 tahun lalu. Benar. Zhidan. Ia adalah satu-satunya lelaki yang ku cintai selain ayah. Dan lagipula malam itu aku telah memutuskan untuk menunggunya bukan, malam saat ia memberitahuku bahwa ia akan pindah ke kota sialan itu, malam saat terakhir kali ia memelukku, malam saat ia memberiku fhoto-fhoto yang merampungkan kenangan 15 hari terbaik di bulan Desember. “And December will always our remember” aku menggumamkan kalimat itu lagi. Satu-satunya kalimat yang menghubungkanku dengan Vidi. Aku merindukannya, sangat.
“Astaga. Apalagi ini. Kenapa aku tak bisa tidur padahal sudah mengantuk”,  aku merutuk karena sudah hampir 2 jam aku mencoba memejamkan mata namun tak menemukan ketenangan yang dapat membawaku tidur. Aku benar-benar sial hari ini. Aku kesal pada semua orang. Aku kesal karena tak ada yang mau mendengarkanku. Aku kesal karena mereka selalu mementingkan kepentingan sendiri. Sungguh.
Aku menatap nanar ke arah jendela. Aku tidak tahu apa yang membuatku seperti ini sekarang. Pikiranku kacau. Hatiku entah tersangkut paut di mana, mungkin masih tertinggal di bulan Desember 5 tahun yang lalu. Buliran bening menetes dari lengkung mataku. Mengalir semakin deras. Aku telah menahannya selama ini. Aku telah membuatnya agar tak mengalir selama 5 tahun ini. Aku telah menjadi wanita tegar di depan orang tuaku, teman-temanku dan semua orang. Luka itu. Perpisahan itu. Perpisahan yang tak pernah bisa ku bayangkan. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menutupi sakitnya, perihnya sayatan itu. Dan aku berhasil melakukannya selama ini. Tapi sekarang, malam ini, aku tumbang. Aku kalah pada perpisahan yang telah mengubahku hingga sejauh ini, yang telah membuatku keluar dari diriku sendiri. Malam ini aku menangis lagi karena perpisahan yang sama, aku merasakan lagi sakit yang sama. Malam ini, malam yang sama dengan 5 tahun lalu.
Terisak.
Lagi. Lebih dalam lagi luka itu menyayat.
Luka yang telah ku tutupi selama lima tahun.
Namun, tak pernah bisa ku sembuhkan.
Kesakitan itu tak pernah benar-benar pulih, tak pernah benar-benar hilang.
Lima tahun tanpa Zhidan telah mengajariku untuk lebih kuat, telah membentukku menjadi orang lain dalam diriku sendiri. Aku meninggalkan diriku yang semula, Tara yang semula. Aku benci terus hidup dalam genggam kenangan. Dan aku benci mengakui hal ini, aku rindu diriku sendiri. Sangat rindu.
Mungkin malam ini akan menjadi titik baliknya. Aku menyerah pada keadaan, aku tak akan lagi menghindari sakit itu. Dan satu-satunya hal yang ingin aku lakukan adalah kembali menjadi diriku sendiri. Menjadi Tara seperti sebelum 5 tahun lalu, seperti Tara sebelum badai perpsahan itu menerpa.
Lega.
Lepas.
Keterikatan yang selama lima tahun ini aku rasakan melayang seketika. Hilang.
Aku tak mengira kelegaan ini ada, kelegaan ini untukku. Keputusan ini membuatku merasa bebas, menjadi diriku sendiri. Utuh. Meski di sisi lain masih ada lubang yang perlu di tutupi, masih ada rasa sakit dan sejenisnya yang perlu di obati. Di rawat hingga benar-benar pulih. Aku tahu ini bagian dari sebuah proses panjang yang di sebut hidup.
Menghela nafas. Aku ingat tentang perjodohan dan segala tetek bengeknya. Oh, betapa aku ingin menggagalkannya. Ingin sekali. Tapi tidak mungkin, aku tak bisa. Arrgghh. Terlalu rumit. Dalam 24 hari lagi, aku akan benar-benar berhenti menunggu. “Aku minta ma’af Zhidan, aku tak bisa memenuhi perkataanku sendiri”, aku berbicara pada diriku sendiri. “Aku telah memenuhi janjiku padamu. Meski sampai sekarang aku masih belum menemukan bagaimana cara ‘menjalani kehidupan seperti biasa’ yang kau minta. Tapi sisanya, aku telah benar-benar memenuhinya. Aku mencintaimu—“. ‘Dan egoiskah jika aku memintamu kembali ? Aku ingin melihatmu sebelum aku benar-benar menjadi milik seseorang-yang-entah-siapa. Meski nanti aku akan melihat orang lain menggandeng tanganmu, tak apa-apa Zhidan. Aku hanya ingin melihatmu sekali sebelum semua ini benar-benar berakhir. And December will always our remember’. Aku meneruskan kalimatku dalam hati.
Menghela nafas. Sekali lagi. Berkali-kali lagi.
Sekali ini saja, malam ini saja. Aku ingin tidur sebagai aku yang biasa, Tara yang biasa, tanpa kesesakkan dan kepura-puraan yang melibatkanku selama ini. Aku ingin tidur dengan tenang, meski bersama luka dan kenangan.
...
Kriinggg. Krriiing. Jam enam tepat alarm itu berdering. Dengan susah payah aku menyeret kakiku hingga ke depan cermin. Aku hampir menjerit, namun dengan segera ku tutup mulutku dengan tangan. Wujudku tak ubahnya seorang nenek sihir, dengan rambut yang bahkan lebih parah dari rambut singa dan mata yang seperti tergantung sebuah kantung hitam di bawahnya. Ekstrim. Berantakkan.  Hancur-hancuran. Dengan sangat terpaksa aku memaksa diriku ke kamar mandi.
Aku berniat turun ke dapur untuk sarapan bersama mama dan papa. Tapi, aku tak menemukan siapapun.Senyap. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Ini artinya semua orang di rumah ini sudah menuju tempat kerja masing-masing. Sepertinya, sarapan kali ini akan menjadi sarapan terpanjang dan membosankan. Tapi setidaknya, masih ada udara sejuk pagi yang akan menemaniku menghabiskan sarapan. Plus matahari yang sudah mulai menampakkan diri dari balik peraduan. Ting ting. Aku sengaja menimbulkan suara-suara agar mengurangi kesan kesendirianku.
Memasuki gigitan kedua pada rotiku, mataku baru menyadari ada sesuatu yang tak biasanya ada di meja makan pagi ini. Sebauh kertas, seperti memo. Hanya memandangnya tak berminat, aku meneruskan sarapanku. Tunggu dulu. Bukankah biasanya memo-memo seperti itu akan di tempelkan di daun kulkas, bukan meninggalkannya di meja makan seperti yang sekarang terjadi. Atau mungkin memo itu dari papa ? tapi itu lebih tidak mungkin lagi. Masih enggan bergerak dari posisi  awal, aku meneruskan sarapanku mencoba menepis rasa penasaranku tentang memo itu.
Well, gigitan terakhir. Tapi sebelum itu, aku memutuskan untuk mengetahui apa isi memo itu. mencondongkan tubuh ke depan. Dapat. Aku berhasil meraihnya.
‘Kau akan bertemu dengan calon suamimu di hari ulang tahunmu’

With love
Mama
Nb : kau akan menyukainya Tara

Deg. Aku tertegun. Tak percaya.
Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ku baca berulang-ulang kertas kertas dengan tulisan pendek itu. Calon suami. Bertemu. Ulang tahun. Ini artinya delapan hari lagi. 8 hari lagi aku akan tahu siapa yang akan menjadi suamiku. Aku memasukkan sisa roti itu dengan kasar ke mulutku dan menelannya dengan paksa. Meminum air putih hingga satu gelas. Tapi itu, belum juga menenangkan. Belum juga mengembalikan kewarasanku.
‘Aku akan menunggumu Zhidan, tak perduli kau akan datang atau tidak’.
Kalimat itu berputar dengan jelas di otakku yang serta merta membawaku kembali pada lima tahun lalu, pada 15 hari terbaik di bulan Desember. Bagaimana mungkin aku menjalani kehidupan lain sementara aku sendiri kehilangan sebagian dari jiwaku. Aku tidaklah utuh. Bagaimana bisa semuanya berjalan dalam sekejap, dalam satu kedipan mata, dalam satu balikkan tangan. Usahaku selama lima tahun ini akan terpatahkan dalam 23 hari lagi. Penantianku akan berakhir. Apa aku bisa menjalaninya ? aku tidak tahu. Aku tidak punya jawaban. Lalu, bagaimana pula aku bisa bersama seseorang yang bahkan aku tak mengenalnya, tak memiliki perasaan apa-apa padanya. Bagaimana bisa aku mencintainya ? sementara hatiku saja masih tertaut pada seseorang jauh-yang-entah-di-mana, seseorang yang selama ini dengan setia ku tunggu. Bagaimana bisa aku menandaskan perasaan yang telah lama ada, yang telah lama hidup bersamaku. Bahkan sudah ada sejak lima tahun lalu.  Apa aku bisa ? Aku tidak tahu. Seseorang, siapapun, tolong beri aku jawaban.
Menarik nafas dalam. Mataku memanas, pandanganku mengabur. Aku berlari menaikki tangga menuju kamar, menuju balkon.
Terlalu abu-abu. Benar, aku tahu hal itu. Tidak pasti. Aku juga tahu hal itu. Aku menunggu hanya dengan keyakinan tanpa kepastian. Aku tidak perduli. Sama sekali tak perduli. Aku hanya percaya pada keyakinanku, percaya bahwa keyakinan itu ada, keyakinan itu milikku. Sekali lagi, dalam hal ini saja. Biarkan aku egois. Biarkan au meminta dunia memenuhinya. Aku mohon. Aku hanya ingin ia kembali. Aku ingin keadaan yang mengalah padaku dalam hal ini, mau tak mau. Harus. Karena mungkin dengan kedatangannya aku bisa lebih menerima kenyataan. Ku mohon kembalilah.
Aku terdiam setelah beberapa saat sibuk berkutat dengan perasaanku sendiri. Aku tak bisa dan tak ingin melanjutkan permohonanku karena aku tak ingin menangis lagi pagi ini. ‘Cukup tadi malam’, batinku. Mataku menjelajah jauh hamparan langit yang kini sudah mulai di temani cahaya matahari, berharap menemukan sesuatu di sana. Tapi, aku tahu itu sama tidak mungkinnya dengan mengharapkan salju turun di Jakarta. Sudahlah. Semua akan baik-baik saja.

Hari-hari berikutnya berlalu tanpa sesuatu hal yang berarti. Yang membuatnya berbeda mungkin hanyalah perubahan sikapku dan tak ada tangisan, plus aku sudah masuk bekerja. Sisanya, sama.
...
Krriing. Kriing. Astaga, jam ini lagi. Aku sungguh masih ingin tidur. Tapi, jika aku tak bangun sekarang aku pasti akan terlambat bekerja dan mendapat banyak pekerjaan tambahan. Memuakkan sekali. Dengan terpaksa aku bangun dan masuk kamar mandi.
Lagi-lagi, sudah tak ada siapa-siapa ketika aku turun ke dapur. Namun, mama meninggalkan sebuah kertas lagi. Deg. Aku gugup. Apa isinya ?. Mengulurkan tangan dan mengambilnya.

‘Selamat ulang tahun, sayang.
Jam 11.30 hari ini, di kedai kopi tempatmu bekerja dulu Tara.
Kau masih ingat ? dan di meja nomor 15’

Hah ? bagaimana mungkin aku lupa ? hari ini ulang tahunku dan hari ini juga aku akan menemui laki-laki-yang-entah-siapa itu. Semoga tak terjadi hal-hal buruk. Aku sudah pasrah. Mengalah pada keadaan. Tapi, sebenarnya bukan itu yang membuatku –tak bisa menolak— mau menerima perjodohan ini begitu saja. Melainkan, ada sesuatu yang entah apa mendorongku untuk mengikuti tradisi sialan ini. Ada yang seperti meyakinkan bahwa ini semua akan baik-baik saja.

Jam 11.25 aku sampai di depan kedai itu. Dengan langkah ragu dan gugup aku memasukkinya. Harum berbagai kopi yang di seduh dengan air panas langsug menelusup indra penciumnanku, menyambutku. Tak banyak yang berubah di sini, masih di dominasi warna hitam dan putih seperti dulu. Hanya saja kursi-kursinya sudah berubah menjadi kursi elegan namun sederhana. Ada sensasi aneh ketika aku memasukki kedai ini lagi, ada harapan yang mencuat untuk mengulang kenangan lima tahun lalu. Tapi, aku tahu itu tidak mungkin. Mataku menyusupi bagian-bagian kedai ini perlahan, seakan ingin kembali pada masa lalu. Di sana. Meja nomor 15. Tunggu, tak ada siapa-siapa di sana selain sebuah gelas putih. Dengan mempertegas langkah aku menuju meja itu dan duduk di salah satu kursinya. Ada sebuah kertas yang seperti..seperti..milikku.
And December will always our remember
Tubuhku bergetar membacanya. Kalimat itu. Satu-satunya kalimat yang menghubungkanku dengan Zhidan. Bagaimana ia bisa..
“Hai” sapa seseorang di belakangku.
Aku gugup setengah mati sekarang. Aku menoleh. Mataku tepat bertemu dengan sepasang mata coklat yang hangat, mata coklat yang sangat ku rindukan. Ini dia. Dia..dia Zhidan. Dia bersamaku sekarang. Aku tertegun, tak bisa menjawab apapun. Masih memandang lekat-lekat wajahnya. Aku tak mungkin salah mengenali. Lagipula aku sangat hapal aroma tubuh ini. Aroma parfum Zhidan. Aku masih tak bisa berbuat apapun. Tak percaya.
Akhirnya aku berdiri. “Zhidan” aku berucap masih tak percaya, menahan air mata.
“Ya, Tara ini aku. Dan kita akan menikah dalam 15 hari lagi” ia menggenggam tanganku.
Aku menghambur ke perlukkannya. Tak peduli puluhan pasang mata yang memandang kami. Aku tak perdui. Aku memeluknya sangat erat, merasa ia menyentuh lembut rambutku. Aku benar-benar menangis sekarang, membasahi bahunya dengan air mata. Bahagia, sangat. Bebanku terasa terangkat semua. Hilang melayang entah pindah ke pundak siapa.
“Aku tak akan melarangmu menangis sekarang, juga tak akan memintamu berjanji lagi. Karena aku di sini Tara, untukmu” ia berbisik di telingaku. Aku mendengarnya dengan sangat jelas lalu tersenyum dengan sepenuh hati. Mungkin itu adalah senyum tulus pertama setelah kejadian malam itu.
Melepaskan pelukan kami kembali ke meja, duduk berhadapan di kursi masing-masing. Aku masih terus memandangnya. “Kau tidak memberiku kabar selama lima tahun, menghilang, bahkan kau tidak mau berjanji akan kembali lagi. Kau jahat, aku membencimu”, aku memulai dengan nada setengah marah setengah bahagia.
“Dan aku mencintaimu”.
Aku tersenyum lagi mendengarnya.
Seorang pelayan mengantarkan kopi untukkku.
“Dau tidak berubah Zhidan, masih seorang penggemar kopi”
“Kau tidak tahu Tara, kopi adalah benda kedua yang membuatku tetap waras selama lima tahun di Australia tanpamu”
“Oh, jangan sebutkan nama kota sialan itu”
“Aku tak mengira, kau begitu membencinya”
“Aku membencinya kerna memisahkanmu denganku”
“Tenang saja Tara, aku di sini sekarang dan aka selalu. Cepat habiskan kopimu kita belum makan siang”
Dengan segera aku menghabiska kopi bersemangat. Lalu kami keluar kedai berniat makan siang. Ia membawaku menuju sebuah mobil. “tidak naik sepeda lagi seperti dulu ?” aku berujar.
“tidak nona, aku tidak ingin membuatmu lembur sekarang”.
“apa sekarang kita ?...” aku melanjutkan dengan menatapnya.
“tentu saja, aku tidak akan bertanya apakah kau mau menikah denganku atau apakah kau mau menjadi pacarku dan sebagainya. Karena, aku tahu kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Ku rasa itu cukup” ia berkata dengan sangat lancar.
Mukaku memerah. Aku mencintainya dan aku bahagia.
“Dan selamat ulang tahun. Sejak hari ini hingga selamanya akan menjadi hari terbaik untuk kita. But, December will always our remember” ia berucap lagi.

Sesudahnya, aku tak peduli apapun lagi. Tak perduli soal perjodohan atau tradisi aneh itu. tak peduli pada banyak mata yang menatap kami iri. Karena kami sudah menemukan satu sama lain. Menemukan bagian yang telah lama kami rindukan. Menemukan kebersamaan yang membuat kami bahagia selamanya, tentu saja. Dan ku rasa itu cukup.

Senin, 27 Januari 2014

Vyrella dan Perpisahan


“aku tak ingin ada air mata..” seseorang laki-laki berkata padanya.

"tenang saja tak akan ada yang menangis.."wanita itu menjawab dengan dengan suara getir. Semua orang tentu tahu ia sedang menahan air matanya.  Tepatnya hubungannya dengan seorang yang telah berjalan selama hmpir 32 bulan, baru saja berakhir. Hubungannya dengan seseorang yang telah melekat di hatinya, seseorang yang telah dengan sangat ia sayang.

Ia beranjak pergi, tidak dapat berkata apa-apa. Meski hatinya terus menerus bersua, tangannya berusaha menutupi wajahnya. “aku percaya, tidak akan ada yang terluka”, ia berusaha mencerna kalimat itu. Bagaimana mungkin tidak ada yang teluka, nyata-nyata hatinya telah patah menjadi seribu bagian. Bagaimana mungkin tidak ada tangisan, nyata-nyata luka itu menimbulkan sakit.

Sudah 4 jam setelah kejadian itu. Tapi, air mata itu masih terus membanjiri pipinya. Sulit sekali untuknya, ia mencintai laki-laki itu. Vyrella mencintai Daniel. Tapi cinta telah membuatnya terluka, Daniel telah membuat Vyrella menangis sekencang itu bukan karena bahagia tapi karena luka yang ia dapatkan. Dan sayangnya Daniel tidak mengerti apa-apa. Daniel tidak mengerti sulitnya menerima kenyataan, sulitnya Vyrella menutupi luka dan menahan air mata ketika mendengar ucapannya. Daniel tidak merasakan sakitnya di tinggalkan dengan alasan tak masuk akal, tidak merasakan kecewanya. Bahkan ia tidak tahu, betapa ia selama ini telah menjadi bagian dari diri Vyrella, betapa ia telah masuk dalam kehidupan Vyrella dengan berbagai warna cerah. Daniel tidak mengerti apa-apa. Yang ia tahu hanyalah ia harusmengakhiri hubungannya dengan Vyrella.

Hingga pada akhir kisah mereka, Daniel pulalah yang mengubah warna yang telah ia bawa menjadi pekat dengan perpisahan yang menyakitkan. Mungkin tidak untuk Daniel, tapi Vyrella. Siapa yang akan percaya bahwa perpisahan itu tidak menyakitkan ketika melihatnya berlari sambil membendung air mata, ketika melihatnya menangis kencang dengan air mata yang tak lagi bisa tertutupi, ketika melihatnya terduduk di depan lemari lalu kembali menangis. Kenyataan itu menabraknya dengan sangat, hinga membuat senyum yang biasa ada di wajahnya kini beranjak pergi.
Vyrella menghela nafas. “Perpisahan” ungkapnya pelan. Kenangan-kenangan manisnya besama Daniel  mulai bergentayangan di benaknya, menghampirinya dan perlahan membawanya kembali pada setiap kenangan itu. Kini, setelah perpisahan mewarnai kisah mereka, semuanya benar-benar akan tinggal menjadi kenangan yang tak akan terulang. Kenangan manis yang meski berbuah tangisan sekaligus menyakitkan untuk Vyrella. Bersama itu pula ia mengerti, Daniel meninggalkannya bukan untuk sekolah atau cita-cita, tapi orang lain. Lagi-lagi, kenyataan menabraknya dengan sangat, membuat hatinya semakin teriris. Tapi ia, telah lebih bisa menenangkan hatinya. Tangisnya telah berhasil ia bendung.

Perpisahan benar-benar telah menunjukkan wujud nyatanya pada Vyrella, menampakkan dirinya. Hingga dalam diam Vyrella mengerti, mungkin sekarang giliran perpisahan yang mengambil bagian dalam hidupnya, mencatat kisah untuk di kenang di masa depannya.

Sabtu, 25 Januari 2014

The Best 15 Days In December


“And December will always our remember”
Tulisan itulah yang ada dalam kertas kecil yang sudah lusuh. Bukan karena usianya, tapi, karena terlalu sering di genggam. Padahal baru 3 hari kertas itu bersamaku. Sebenarnya aku tak terlalu mengerti kenapa ia memberiku kertas itu, bukankah besok atau lusa kami akan bertemu lagi dan Januari akan kami habiskan bersama lagi seperti Desember. Meskipun di tambah kesibukkan sekolah. Tapi aku tidak ingin bertanya dan ia pun sepertinya tak akan memberi jawaban.
Sudah jam 11.52 siang. Aku sudah bertemu banyak wajah hari ini tapi tidak bertemu dengannya. Aku juga sudah mengantarkan minuman ke puluha meja, tapi tak satupun dari meja-meja itu di kitari olehnya. Aku mulai benar-benar menunggu sejak 20 menit yang lalu. Sebenarnya, tak bisa di bilang menunggu sih, karena kami memang tak pernah punya janji bertemu hari ini atau hari-hari sebelumnya. Kami selalu bertemu di sini selama hampir 15 hari berturut-turut, sejak hari pertama  libur akhir tahun hingga empat hari yang lalu. Dan itu tak sama sekali di rencanakan. Aku yang  memanfaatkan libur sekolah dengan bekerja full time di sini memang selalu menghabiskan setiap hariku di kedai kopi ini, sejak jam 09.00 pagi sampai jam 09.00 malam. Sedangkan ia, aku tidak tahu apa persisnya tujuannya ke sini selain untuk meminum kopi. Setahuku, ia selalu datang setiap jam 11.30. Lalu, setelah meminum kopinya, ia selalu mengajakku makan siang. Dan kemudian ia akan kembali lagi nanti beberapa menit atau tepat sebelum tulisan ‘OPEN’ di balik menjadi tulisan ‘CLOSE’. Selanjutnya, kami akan pulang bersama dengan sepeda masing-masing. Dan seperti itulah seterusnya.
Tapi, ia tak muncul lagi hari ini. Dia tak lagi datang ke kedai ini setelah memberiku kertas berisi tulisan itu, empat hari yang lalu. Sekarang aku hanya menaiki sepedaku sendiri, menyusuri jalanan ramai sendirian. Aku memang bodoh, kenapa aku tak bertanya di mana rumahnya atau meminta nomor Hpnya. Ah, aku terlalu hanyut karena pesonanya. Aku terlalu nyaman bersamanya hingga melupakan hal-hal sepenting itu. Astaga, bagaimana mungkin aku bisa separah ini hanya karena 15 hari bersamanya, bersama Zhidan.
“Hai”. Sebuah suara yang sudah sangat aku hapal dan aku cari terdengar dari arah samping. Aku menoleh dan menemukannya. Zhidan. Ia bersamaku saat ini. Perasaan itu lagi, getaran yang sama seperti yang selalu ku rasakan selama 15 hari itu, selama aku bersamanya.
“Eh, hai. Ke mana saja kau ? apa kau sudah melupakanku ?” aku bertanya dengan nada yang di buat-buat agar terkesan seperti bercanda.
“Melupakanmu ? Bagaimana mungkin ? Hey, kau yang membuatku kemari malam ini. Kau tahu, aku merindukanmu”. Zhidan turun dan menyeret sepedanya, begitu pula aku. Kami berjalan sambil menyeret sepeda masing-masing di tepi jalan yang sudah mulai sunyi.
“Kau tak perlu membuatku melayang hanya agar aku melupakan pertanyaanku tadi” jawabku santai.
Ia hanya tertawa mendengarnya.
“Jadi, apa yang membawamu kembali setelah menghilang selama empat hari ?”
“Bukannya tadi aku sudah bilang, karena kamu aku ada di jalan ini lagi. Dan aku ingin—“ ia menggantung ucapannya. Aku menatapnya, menatap mata coklat yang menenangkan itu. Tapi, ia tak membalas tatapanku. Ini pertama kalinya Zhidan tak membalas tatapanku.
Ia menghela nafas sebelum melanjutkan, “Aku ingin memberi tahumu kalo besok aku akan pindah dan melanjutkan sekolahku di Australia”.
Aku berhenti melangkah. Aku tidak percaya pada pendengaranku. Aku menengadahkan kepala. Bukan untuk melihat langit, melainkan agar aku bisa membendung air mataku. Selama beberapa detik tak ada yang berbicara, aku sudah menatap ke arah depan sambil berkali-kali menghela nafas. “Kau pasti bercanda Zhidan”.

************************

“Kau pasti bercanda Zhidan”
Aku mendengar ia berkata dengan terbata-bata. Aku tahu ia menengadahkan kepala bukan untuk menatap langit. Tapi untuk menahan air matanya. Aku tidak bisa menatapnya. Aku tidak sanggup melihat matanya yang berkaca-kaca. Ia menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ma’afkan aku Tara.
“Katakan Zhidan, kau pasti sedang mempermainkankukan ?” ia berkata lagi. Aku yakin ia pasti masih tidak bisa mempercayainya. Tara pasti masih tidak bisa menerima ucapanku. Aku tahu hal ini pasti akan terjadi.
Braakk!
Ia melepaskan sepedanya, lalu berjalan ke arahku. Ia berdiri di depanku dan memaksaku membalas tatapan matanya yang berkaca. Sedetik kemudian, ia menunduk dan menangis. Seandainya bisa, aku akan berlari sekarang. Aku tidak bisa melihat Tara seperti ini. Aku melepaskan sepedaku dan membiarkannya jatuh dengan bunyi yang nyaring.
Aku mendekati Tara, meraihnya ke dalam pelukanku. Isakannya bertambah di bahuku. “Ma’afkan aku”, sesaat hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Aku sendiri juga tak ingin pergi dari kota ini. Aku tak ingin meninggalkan apapun yang ada di sini, tak ingin meninggalkan Tara. Tapi, aku tak punya pilihan.
Aku membelai rambut panjangnya. “Berjanjilah kau akan baik-baik saja di sini, kau akan selalu tersenyum dan menjalani kehidupan seperti biasa di kota ini”.
Melepas pelukanku dan ia mundur selangkah kecil. Tara menyeka air matanya dan berusaha tetap terlihat tenang. Ia menatapku lalu menggelengkan kepala. Ia tidak ingin berjanji.
“Tara, aku mohon, berjanjilah” Aku berkata lagi sambil menggenggam kedua tangannya. Aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi, aku berharap ia tak mengatakannya sekarang. Aku tidak ingin mendengarnya sekarang. Jangan Tara, jangan katakan hal itu. Aku mohon.
Ia terisak lagi dan berkata,“Zhidan, tapi, aku mencintaimu”.

Tapi, aku terlambat. Aku mendengarnya mengatakan hal itu di tengah isakannya. Sebenarnya aku juga sangat mencintai Tara. Bahkan aku sudah jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya mengantar minuman di kedai itu. Sungguh, aku juga sangat mencintai Tara. Tapi, aku tak ingin ia mengetahui hal ini.
Aku tidak sanggup menatapnya lagi, tapi aku juga tak bisa melepas tatapanku darinya.
“Berjanjilah padaku Tara” aku memaksa mulutku mengucapkannya.
Ia menghela nafas, lalu menunduk dan mengangguk. “Dan kau juga harus berjanji, kau akan kembali ke kota ini—“ kalimatnya terdengar menggantung.
“Aku tidah tahu, karena orang tuaku juga pindah ke sana. Dan kau tidak boleh menungguku”. Cukup. Aku tak bisa melanjutkan percakapan ini lagi. Aku tak ingin menangis karena ini. Aku bergerak mengambil sepedanya dan memasukkan sebuah kotak ke dalam keranjangnya. Aku melihatnya masih terpaku di tempatnya berdiri tadi. Aku tak ingin melihatnya menangis lagi.
“Pulanglah, aku akan mengawasimu dari sini dan besok sebelum berangkat aku akan mengirimmu pesan” aku berkata sambil menyerahkan sepeda padanya.
Ia berbalik dan sekali lagi menatapku dengan mata sembab yang berkaca-kaca sebelum meraih sepedanya. Ingin sekali aku memeluknya lagi, menenangkannya. Tapi, aku tidak ingin membuatnya berharap padaku.
Aku mengira ia akan menyeret sepedanya. Tapi, ia justru menaikkinya dan segera mengayuhnya dengan cepat. Perlahan punggungnya menghilang.
“Aku berjanji Tara, aku akan kembali untukmu. Walau, nanti aku akan mendapatimu bersama orang lain”

***********************

Aku sampai di rumah dan segera memasukkan sepedaku ke bagasi. Aku menemukan sebuah kotak di dalam keranjang sepedaku dan membawanya masuk ke kamarku. Dengan langkah gontai aku langsung menuju ranjangku dan menghempaskan tubuh di sana.
Kotak itu.
Aku membukanya dan menemukan 4 lembar fhoto.
Fhoto pertama adalah saat aku pertama kali mengantarkan kopi ke meja Zhidan. Aku tersenyum mengingatnya. Sambil mencoba menahan air mata aku membalik fhoto itu Dan menemukan tulisan ‘dirimu teman terbaikku, yang mengerti yang ku mau, yang ku suka dan ku benci’
Fhoto kedua adalah saat makan siang pertama kami, di fhoto itu terlihat jelas bahwa kami sangat menikmatinya. Dan di belakangnya tertulis ‘dan dirimu satu yang terbaik, yang pernah aku milikki saat ini sampai nanti’
Fhoto ketiga yaitu saat Zhidan membuat tangannya menjadi bentuk hati dan meletakkannya di dada dengan penuh senyum, sedangkan aku tertawa melihatnya. Di belakangnya tertulis ‘Just for you I give you all my heart’
Fhoto keempat sekaligus fhoto terakhir adalah saat kami pulang bersama-sama dengan menaikki sepeda masing-masing sambil tertawa ceria. Aku masih sangat ingat, ini adalah hari saat Zhidan memberiku kertas kecil itu. Dan di belakangnya tertulis ‘I give you all the sweetes things cause you’re the one and the best I ever have. Thanks for the best 15 days in December and December will always our remember’
Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Aku memejamkan mata mengingat semuanya dan berkata di tengah isakanku “Aku akan menunggumu Zhidan. Tak peduli kau akan datang atau tidak”.
***************

Rival, Rain and Love


“Hey! Apa yang kau lakukan ?” aku berteriak di antara gemuruh hujan karena merasa genggaman hangat di pergelangan tanganku yang lalu menarikku, memaksaku mengikutinya. Memaksaku berteduh, mungkin.
 Ia tidak peduli dengan teriakanku, yang ia lakukan hanya terus berjalan sambil terus menarikku melalui genggamannya. Genggaman ini bukan genggaman keras bernada menikam. Bukan pula genggaman kasar yang menyakitkan. Tapi, ini adalah genggaman erat nan hangat seakan enggan terlepas, genggaman yang menyiratkan kerinduan mendalam.

Mataku terarah pada tubuh tegap yang masih menarikku, pandanganku di kaburkan oleh hujan yang kian menderas. Namun, perlahan aku tahu siapa pemilik genggaman hangat ini. Dia. Tidak mungkin. Pasti mataku salah mengenalinya di tengah hujan.
Aku kaget bukan main, ketika menyadari memang dia yang menarikku. Langkahku hampir terhenti. Namun, sekan menyadari hal itu, ia menurunkan tangannya dari pergelangan menuju telapak tanganku. Lalu, menggenggamnya dengan erat dan lebih hangat. Ada perasaan nyaman dan hangat yang mengaliriku saat ini, yang membuatku percaya padanya, yang embuatku membalas erat genggamannya dan meneruskan langkah. Seakan tidak perduli dengan hujan, aku menikmatinya, menikmati genggaman hangat ini, menikmati kebersamaan ini.

Hujan terdengar semakin deras, ketika ia melepaskan genggaman tangannya yang telah berhasil membawaku ke sebuah halte teduh. Dinginpun mulai menyeruak bersama deru hujan, memecah kehangatan yang sempat aku rasakan saat tangan itu masih menggenggam erat tanganku.
“Apa yang kau lakukan ? Di mana kau tinggalkan kecerdasanmu ?” ucapnya setengah berteriak.
Sesaat aku menangkap kekhawatiran dari wajah bermata hazel itu. Namun setelahnya, ia kembali memasang ekspresi datar, seperti biasa. Oh, ia memang selalu pandai berkelit dalam hal ekspresi. Aku menatapnya lebih dalam, ada geliat-geliat aneh di perutku, seperti ada kupu-kupu berterbangan riang di sana.
“Kau bicara denganku ?”, jawabku santai dan nyaring agar tak kalah dengan hujan, sambil mencoba mengumpulkan kewarasanku  mengingat lawan bicaraku kali ini adalah rivalku sejak dulu. Ya, dia Vidi. Rivalku, saingan yang harus aku kalahkan dalam setiap mata pelajaran. Sekaligus orang yang sejak dulu menarik perhatianku. Dan bisa ku pastikan, pipiku sedang memerah sekarang. Oh no!!
“Kau selalu seperti itu!” ia meneriakiku dengan lebih nyaring.
“Seperti apa maksudmu ?”
“Kau selalu membuatku kesal!”
“Hah ? bukannya kau yang menyebalkan!”
“Oh, sudahlah. Aku tidak ingin tenggorokanku sakit hanya karena adu teriak di tengah hujan denganmu”
Hening. Aku tak ingin membalas teriakkannya, karena yang ada sampai nanti kami pasti akan terus bertengkar. Aku duduk di kursi panjang sambil memeluk tubuh, sedangkan ia duduk dengan jarak yang cukup jauh dariku.
“Jadi, apa yang kau lakukan di tengah hujan ?” suaranya beradu dengan hujan yang sekarang sudah hampir reda. Hanya gerimis yang tersisa dan itu membuat kami tak perlu lagi berteriak.
“Aku hanya ingin menikmatinya”
“Apa kau gila ? Bagaimana jika kau sakit atau mati kedinginan di sana ?”
“Lalu, apa hubungannya denganmu ?”
“Kau ini bodoh ? atau otakmu yang cerdas itu sedang kau tinggalkan di dalam tasmu ?”
“Oh, bicaralah yang jelas”
“Baiklah. Aku menyukaimu Gina Whineva Yhina”
Klimaks. Pipiku sudah pasti seperti kepiting rebus. Memerah. Mencoba menutupinya aku berkata “Aku kedinginan, jadi tidak ingin bercanda”.
“Lihatlah pipimu merah Gin”.
 Aku pastikan ia mengatakan hal itu dengan seringai penuh kemenangan. Sial. Aku tak ingin menjawab apapun.
“Dan aku serius, aku menyukaimu. Bahkan, aku menyayangimu Gina. Sejak dulu” ia berkata lagi sambil berjalan ke arahku dan sukses membuat jantungku berpacu cepat tak beraturan. Lalu, memasangkan sebuah jaket hangat di bahuku. Jantungku sepertinya berhenti berdetak, karena sudah berpacu terlalu cepat. Hidungku menikmati aroma yang muncul dari jaket itu. Nyaman dan hangat. 
 Sungguh, aku tak bisa memungkiri perasaanku sendiri. Aku berlari menghampirinya yang tengah berjalan meninggalkan halte. Lalu, mensejajari langkah kami dan membiarkan tanganku membalas hangat genggaman tangan itu lagi. 

Aku menyayanginya.

Mungkin setelah ini, harus ada seseorang yang membangunkanku dari mimpi panjang nan membahagiakan ini.