“aku tak ingin ada air mata..” seseorang laki-laki berkata
padanya.
"tenang saja tak akan ada yang menangis.."wanita itu
menjawab dengan dengan suara getir. Semua orang tentu tahu ia sedang menahan
air matanya. Tepatnya hubungannya dengan
seorang yang telah berjalan selama hmpir 32 bulan, baru saja berakhir.
Hubungannya dengan seseorang yang telah melekat di hatinya, seseorang yang
telah dengan sangat ia sayang.
Ia beranjak pergi, tidak dapat berkata apa-apa. Meski
hatinya terus menerus bersua, tangannya berusaha menutupi wajahnya. “aku
percaya, tidak akan ada yang terluka”, ia berusaha mencerna kalimat itu. Bagaimana
mungkin tidak ada yang teluka, nyata-nyata hatinya telah patah menjadi seribu
bagian. Bagaimana mungkin tidak ada tangisan, nyata-nyata luka itu menimbulkan
sakit.
Sudah 4 jam setelah kejadian itu. Tapi, air mata itu masih
terus membanjiri pipinya. Sulit sekali untuknya, ia mencintai laki-laki itu.
Vyrella mencintai Daniel. Tapi cinta telah membuatnya terluka, Daniel telah
membuat Vyrella menangis sekencang itu bukan karena bahagia tapi karena luka
yang ia dapatkan. Dan sayangnya Daniel tidak mengerti apa-apa. Daniel tidak
mengerti sulitnya menerima kenyataan, sulitnya Vyrella menutupi luka dan
menahan air mata ketika mendengar ucapannya. Daniel tidak merasakan sakitnya di
tinggalkan dengan alasan tak masuk akal, tidak merasakan kecewanya. Bahkan ia
tidak tahu, betapa ia selama ini telah menjadi bagian dari diri Vyrella, betapa
ia telah masuk dalam kehidupan Vyrella dengan berbagai warna cerah. Daniel
tidak mengerti apa-apa. Yang ia tahu hanyalah ia harusmengakhiri hubungannya
dengan Vyrella.
Hingga pada akhir kisah mereka, Daniel pulalah yang mengubah
warna yang telah ia bawa menjadi pekat dengan perpisahan yang menyakitkan.
Mungkin tidak untuk Daniel, tapi Vyrella. Siapa yang akan percaya bahwa
perpisahan itu tidak menyakitkan ketika melihatnya berlari sambil membendung
air mata, ketika melihatnya menangis kencang dengan air mata yang tak lagi bisa
tertutupi, ketika melihatnya terduduk di depan lemari lalu kembali menangis.
Kenyataan itu menabraknya dengan sangat, hinga membuat senyum yang biasa ada di
wajahnya kini beranjak pergi.
Vyrella menghela nafas. “Perpisahan” ungkapnya pelan.
Kenangan-kenangan manisnya besama Daniel
mulai bergentayangan di benaknya, menghampirinya dan perlahan membawanya
kembali pada setiap kenangan itu. Kini, setelah perpisahan mewarnai kisah
mereka, semuanya benar-benar akan tinggal menjadi kenangan yang tak akan
terulang. Kenangan manis yang meski berbuah tangisan sekaligus menyakitkan
untuk Vyrella. Bersama itu pula ia mengerti, Daniel meninggalkannya bukan untuk
sekolah atau cita-cita, tapi orang lain. Lagi-lagi, kenyataan menabraknya
dengan sangat, membuat hatinya semakin teriris. Tapi ia, telah lebih bisa
menenangkan hatinya. Tangisnya telah berhasil ia bendung.
Perpisahan benar-benar telah menunjukkan wujud nyatanya pada
Vyrella, menampakkan dirinya. Hingga dalam diam Vyrella mengerti, mungkin
sekarang giliran perpisahan yang mengambil bagian dalam hidupnya, mencatat kisah
untuk di kenang di masa depannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar