Senin, 27 Januari 2014

Vyrella dan Perpisahan


“aku tak ingin ada air mata..” seseorang laki-laki berkata padanya.

"tenang saja tak akan ada yang menangis.."wanita itu menjawab dengan dengan suara getir. Semua orang tentu tahu ia sedang menahan air matanya.  Tepatnya hubungannya dengan seorang yang telah berjalan selama hmpir 32 bulan, baru saja berakhir. Hubungannya dengan seseorang yang telah melekat di hatinya, seseorang yang telah dengan sangat ia sayang.

Ia beranjak pergi, tidak dapat berkata apa-apa. Meski hatinya terus menerus bersua, tangannya berusaha menutupi wajahnya. “aku percaya, tidak akan ada yang terluka”, ia berusaha mencerna kalimat itu. Bagaimana mungkin tidak ada yang teluka, nyata-nyata hatinya telah patah menjadi seribu bagian. Bagaimana mungkin tidak ada tangisan, nyata-nyata luka itu menimbulkan sakit.

Sudah 4 jam setelah kejadian itu. Tapi, air mata itu masih terus membanjiri pipinya. Sulit sekali untuknya, ia mencintai laki-laki itu. Vyrella mencintai Daniel. Tapi cinta telah membuatnya terluka, Daniel telah membuat Vyrella menangis sekencang itu bukan karena bahagia tapi karena luka yang ia dapatkan. Dan sayangnya Daniel tidak mengerti apa-apa. Daniel tidak mengerti sulitnya menerima kenyataan, sulitnya Vyrella menutupi luka dan menahan air mata ketika mendengar ucapannya. Daniel tidak merasakan sakitnya di tinggalkan dengan alasan tak masuk akal, tidak merasakan kecewanya. Bahkan ia tidak tahu, betapa ia selama ini telah menjadi bagian dari diri Vyrella, betapa ia telah masuk dalam kehidupan Vyrella dengan berbagai warna cerah. Daniel tidak mengerti apa-apa. Yang ia tahu hanyalah ia harusmengakhiri hubungannya dengan Vyrella.

Hingga pada akhir kisah mereka, Daniel pulalah yang mengubah warna yang telah ia bawa menjadi pekat dengan perpisahan yang menyakitkan. Mungkin tidak untuk Daniel, tapi Vyrella. Siapa yang akan percaya bahwa perpisahan itu tidak menyakitkan ketika melihatnya berlari sambil membendung air mata, ketika melihatnya menangis kencang dengan air mata yang tak lagi bisa tertutupi, ketika melihatnya terduduk di depan lemari lalu kembali menangis. Kenyataan itu menabraknya dengan sangat, hinga membuat senyum yang biasa ada di wajahnya kini beranjak pergi.
Vyrella menghela nafas. “Perpisahan” ungkapnya pelan. Kenangan-kenangan manisnya besama Daniel  mulai bergentayangan di benaknya, menghampirinya dan perlahan membawanya kembali pada setiap kenangan itu. Kini, setelah perpisahan mewarnai kisah mereka, semuanya benar-benar akan tinggal menjadi kenangan yang tak akan terulang. Kenangan manis yang meski berbuah tangisan sekaligus menyakitkan untuk Vyrella. Bersama itu pula ia mengerti, Daniel meninggalkannya bukan untuk sekolah atau cita-cita, tapi orang lain. Lagi-lagi, kenyataan menabraknya dengan sangat, membuat hatinya semakin teriris. Tapi ia, telah lebih bisa menenangkan hatinya. Tangisnya telah berhasil ia bendung.

Perpisahan benar-benar telah menunjukkan wujud nyatanya pada Vyrella, menampakkan dirinya. Hingga dalam diam Vyrella mengerti, mungkin sekarang giliran perpisahan yang mengambil bagian dalam hidupnya, mencatat kisah untuk di kenang di masa depannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar