“And December will always our remember”
Tulisan itulah yang ada dalam kertas kecil yang sudah lusuh.
Bukan karena usianya, tapi, karena terlalu sering di genggam. Padahal baru 3
hari kertas itu bersamaku. Sebenarnya aku tak terlalu mengerti kenapa ia
memberiku kertas itu, bukankah besok atau lusa kami akan bertemu lagi dan
Januari akan kami habiskan bersama lagi seperti Desember. Meskipun di tambah
kesibukkan sekolah. Tapi aku tidak ingin bertanya dan ia pun sepertinya tak
akan memberi jawaban.
Sudah jam 11.52 siang. Aku sudah bertemu banyak wajah hari
ini tapi tidak bertemu dengannya. Aku juga sudah mengantarkan minuman ke puluha
meja, tapi tak satupun dari meja-meja itu di kitari olehnya. Aku mulai
benar-benar menunggu sejak 20 menit yang lalu. Sebenarnya, tak bisa di bilang
menunggu sih, karena kami memang tak pernah punya janji bertemu hari ini atau
hari-hari sebelumnya. Kami selalu bertemu di sini selama hampir 15 hari
berturut-turut, sejak hari pertama libur
akhir tahun hingga empat hari yang lalu. Dan itu tak sama sekali di rencanakan.
Aku yang memanfaatkan libur sekolah
dengan bekerja full time di sini memang selalu menghabiskan setiap hariku di
kedai kopi ini, sejak jam 09.00 pagi sampai jam 09.00 malam. Sedangkan ia, aku
tidak tahu apa persisnya tujuannya ke sini selain untuk meminum kopi. Setahuku,
ia selalu datang setiap jam 11.30. Lalu, setelah meminum kopinya, ia selalu
mengajakku makan siang. Dan kemudian ia akan kembali lagi nanti beberapa menit atau
tepat sebelum tulisan ‘OPEN’ di balik menjadi tulisan ‘CLOSE’. Selanjutnya,
kami akan pulang bersama dengan sepeda masing-masing. Dan seperti itulah
seterusnya.
Tapi, ia tak muncul lagi hari ini. Dia tak lagi datang ke
kedai ini setelah memberiku kertas berisi tulisan itu, empat hari yang lalu.
Sekarang aku hanya menaiki sepedaku sendiri, menyusuri jalanan ramai sendirian.
Aku memang bodoh, kenapa aku tak bertanya di mana rumahnya atau meminta nomor
Hpnya. Ah, aku terlalu hanyut karena pesonanya. Aku terlalu nyaman bersamanya
hingga melupakan hal-hal sepenting itu. Astaga, bagaimana mungkin aku bisa
separah ini hanya karena 15 hari bersamanya, bersama Zhidan.
“Hai”. Sebuah suara yang sudah sangat aku hapal dan aku cari
terdengar dari arah samping. Aku menoleh dan menemukannya. Zhidan. Ia bersamaku
saat ini. Perasaan itu lagi, getaran yang sama seperti yang selalu ku rasakan
selama 15 hari itu, selama aku bersamanya.
“Eh, hai. Ke mana saja kau ? apa kau sudah melupakanku ?”
aku bertanya dengan nada yang di buat-buat agar terkesan seperti bercanda.
“Melupakanmu ? Bagaimana mungkin ? Hey, kau yang membuatku
kemari malam ini. Kau tahu, aku merindukanmu”. Zhidan turun dan menyeret
sepedanya, begitu pula aku. Kami berjalan sambil menyeret sepeda masing-masing
di tepi jalan yang sudah mulai sunyi.
“Kau tak perlu membuatku melayang hanya agar aku melupakan
pertanyaanku tadi” jawabku santai.
Ia hanya tertawa mendengarnya.
“Jadi, apa yang membawamu kembali setelah menghilang selama
empat hari ?”
“Bukannya tadi aku sudah bilang, karena kamu aku ada di
jalan ini lagi. Dan aku ingin—“ ia menggantung ucapannya. Aku menatapnya,
menatap mata coklat yang menenangkan itu. Tapi, ia tak membalas tatapanku. Ini
pertama kalinya Zhidan tak membalas tatapanku.
Ia menghela nafas sebelum melanjutkan, “Aku ingin memberi tahumu
kalo besok aku akan pindah dan melanjutkan sekolahku di Australia”.
Aku berhenti melangkah. Aku tidak percaya pada
pendengaranku. Aku menengadahkan kepala. Bukan untuk melihat langit, melainkan
agar aku bisa membendung air mataku. Selama beberapa detik tak ada yang
berbicara, aku sudah menatap ke arah depan sambil berkali-kali menghela nafas.
“Kau pasti bercanda Zhidan”.
************************
“Kau pasti bercanda Zhidan”
Aku mendengar ia berkata dengan terbata-bata. Aku tahu ia
menengadahkan kepala bukan untuk menatap langit. Tapi untuk menahan air
matanya. Aku tidak bisa menatapnya. Aku tidak sanggup melihat matanya yang
berkaca-kaca. Ia menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ma’afkan aku Tara.
“Katakan Zhidan, kau pasti sedang mempermainkankukan ?” ia
berkata lagi. Aku yakin ia pasti masih tidak bisa mempercayainya. Tara pasti
masih tidak bisa menerima ucapanku. Aku tahu hal ini pasti akan terjadi.
Braakk!
Ia melepaskan sepedanya, lalu berjalan ke arahku. Ia berdiri
di depanku dan memaksaku membalas tatapan matanya yang berkaca. Sedetik
kemudian, ia menunduk dan menangis. Seandainya bisa, aku akan berlari sekarang.
Aku tidak bisa melihat Tara seperti ini. Aku melepaskan sepedaku dan
membiarkannya jatuh dengan bunyi yang nyaring.
Aku mendekati Tara, meraihnya ke dalam pelukanku. Isakannya
bertambah di bahuku. “Ma’afkan aku”, sesaat hanya kata-kata itu yang bisa
keluar dari mulutku. Aku sendiri juga tak ingin pergi dari kota ini. Aku tak
ingin meninggalkan apapun yang ada di sini, tak ingin meninggalkan Tara. Tapi,
aku tak punya pilihan.
Aku membelai rambut panjangnya. “Berjanjilah kau akan
baik-baik saja di sini, kau akan selalu tersenyum dan menjalani kehidupan
seperti biasa di kota ini”.
Melepas pelukanku dan ia mundur selangkah kecil. Tara
menyeka air matanya dan berusaha tetap terlihat tenang. Ia menatapku lalu
menggelengkan kepala. Ia tidak ingin berjanji.
“Tara, aku mohon, berjanjilah” Aku berkata lagi sambil
menggenggam kedua tangannya. Aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi, aku
berharap ia tak mengatakannya sekarang. Aku tidak ingin mendengarnya sekarang. Jangan
Tara, jangan katakan hal itu. Aku mohon.
Ia terisak lagi dan berkata,“Zhidan, tapi, aku
mencintaimu”.
Tapi, aku terlambat. Aku mendengarnya mengatakan hal itu di
tengah isakannya. Sebenarnya aku juga sangat mencintai Tara. Bahkan aku sudah
jatuh cinta padanya sejak pertama kali melihatnya mengantar minuman di kedai
itu. Sungguh, aku juga sangat mencintai Tara. Tapi, aku tak ingin ia mengetahui
hal ini.
Aku tidak sanggup menatapnya lagi, tapi aku juga tak bisa
melepas tatapanku darinya.
“Berjanjilah padaku Tara” aku memaksa mulutku
mengucapkannya.
Ia menghela nafas, lalu menunduk dan mengangguk. “Dan kau
juga harus berjanji, kau akan kembali ke kota ini—“ kalimatnya terdengar
menggantung.
“Aku tidah tahu, karena orang tuaku juga pindah ke sana. Dan
kau tidak boleh menungguku”. Cukup. Aku tak bisa melanjutkan percakapan ini
lagi. Aku tak ingin menangis karena ini. Aku bergerak mengambil sepedanya dan
memasukkan sebuah kotak ke dalam keranjangnya. Aku melihatnya masih terpaku di
tempatnya berdiri tadi. Aku tak ingin melihatnya menangis lagi.
“Pulanglah, aku akan mengawasimu dari sini dan besok sebelum
berangkat aku akan mengirimmu pesan” aku berkata sambil menyerahkan sepeda
padanya.
Ia berbalik dan sekali lagi menatapku dengan mata sembab
yang berkaca-kaca sebelum meraih sepedanya. Ingin sekali aku memeluknya lagi,
menenangkannya. Tapi, aku tidak ingin membuatnya berharap padaku.
Aku mengira ia akan menyeret sepedanya. Tapi, ia justru
menaikkinya dan segera mengayuhnya dengan cepat. Perlahan punggungnya
menghilang.
“Aku berjanji Tara, aku akan kembali untukmu. Walau, nanti
aku akan mendapatimu bersama orang lain”
***********************
Aku sampai di rumah dan segera memasukkan sepedaku ke
bagasi. Aku menemukan sebuah kotak di dalam keranjang sepedaku dan membawanya
masuk ke kamarku. Dengan langkah gontai aku langsung menuju ranjangku dan
menghempaskan tubuh di sana.
Kotak itu.
Aku membukanya dan menemukan 4 lembar fhoto.
Fhoto pertama adalah saat aku pertama kali mengantarkan kopi
ke meja Zhidan. Aku tersenyum mengingatnya. Sambil mencoba menahan air mata aku
membalik fhoto itu Dan menemukan tulisan ‘dirimu teman terbaikku, yang mengerti
yang ku mau, yang ku suka dan ku benci’
Fhoto kedua adalah saat makan siang pertama kami, di fhoto
itu terlihat jelas bahwa kami sangat menikmatinya. Dan di belakangnya tertulis
‘dan dirimu satu yang terbaik, yang pernah aku milikki saat ini sampai nanti’
Fhoto ketiga yaitu saat Zhidan membuat tangannya menjadi
bentuk hati dan meletakkannya di dada dengan penuh senyum, sedangkan aku
tertawa melihatnya. Di belakangnya tertulis ‘Just for you I give you all my
heart’
Fhoto keempat sekaligus fhoto terakhir adalah saat kami
pulang bersama-sama dengan menaikki sepeda masing-masing sambil tertawa ceria.
Aku masih sangat ingat, ini adalah hari saat Zhidan memberiku kertas kecil itu.
Dan di belakangnya tertulis ‘I give you all the sweetes things cause you’re the
one and the best I ever have. Thanks for the best 15 days in December and
December will always our remember’
Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Aku memejamkan mata
mengingat semuanya dan berkata di tengah isakanku “Aku akan menunggumu Zhidan.
Tak peduli kau akan datang atau tidak”.
***************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar