“Hey! Apa yang kau lakukan ?” aku berteriak di antara
gemuruh hujan karena merasa genggaman hangat di pergelangan tanganku yang lalu
menarikku, memaksaku mengikutinya. Memaksaku berteduh, mungkin.
Ia tidak peduli dengan teriakanku, yang ia lakukan hanya terus
berjalan sambil terus menarikku melalui genggamannya. Genggaman ini bukan
genggaman keras bernada menikam. Bukan pula genggaman kasar yang menyakitkan.
Tapi, ini adalah genggaman erat nan hangat seakan enggan terlepas, genggaman
yang menyiratkan kerinduan mendalam.
Mataku terarah pada tubuh tegap yang masih menarikku,
pandanganku di kaburkan oleh hujan yang kian menderas. Namun, perlahan aku tahu
siapa pemilik genggaman hangat ini. Dia. Tidak mungkin. Pasti mataku salah
mengenalinya di tengah hujan.
Aku kaget bukan main, ketika menyadari memang dia yang
menarikku. Langkahku hampir terhenti. Namun, sekan menyadari hal itu, ia
menurunkan tangannya dari pergelangan menuju telapak tanganku. Lalu,
menggenggamnya dengan erat dan lebih hangat. Ada perasaan nyaman dan hangat
yang mengaliriku saat ini, yang membuatku percaya padanya, yang embuatku
membalas erat genggamannya dan meneruskan langkah. Seakan tidak perduli dengan
hujan, aku menikmatinya, menikmati genggaman hangat ini, menikmati kebersamaan
ini.
Hujan terdengar semakin deras, ketika ia melepaskan genggaman
tangannya yang telah berhasil membawaku ke sebuah halte teduh. Dinginpun mulai
menyeruak bersama deru hujan, memecah kehangatan yang sempat aku rasakan saat
tangan itu masih menggenggam erat tanganku.
“Apa yang kau lakukan ? Di mana kau tinggalkan kecerdasanmu
?” ucapnya setengah berteriak.
Sesaat aku menangkap kekhawatiran dari wajah bermata hazel
itu. Namun setelahnya, ia kembali memasang ekspresi datar, seperti biasa. Oh,
ia memang selalu pandai berkelit dalam hal ekspresi. Aku menatapnya lebih
dalam, ada geliat-geliat aneh di perutku, seperti ada kupu-kupu berterbangan
riang di sana.
“Kau bicara denganku ?”, jawabku santai dan nyaring agar tak
kalah dengan hujan, sambil mencoba mengumpulkan kewarasanku mengingat lawan bicaraku kali ini adalah
rivalku sejak dulu. Ya, dia Vidi. Rivalku, saingan yang harus aku kalahkan
dalam setiap mata pelajaran. Sekaligus orang yang sejak dulu menarik perhatianku.
Dan bisa ku pastikan, pipiku sedang memerah sekarang. Oh no!!
“Kau selalu seperti itu!” ia meneriakiku dengan lebih
nyaring.
“Seperti apa maksudmu ?”
“Kau selalu membuatku kesal!”
“Hah ? bukannya kau yang menyebalkan!”
“Oh, sudahlah. Aku tidak ingin tenggorokanku sakit hanya
karena adu teriak di tengah hujan denganmu”
Hening. Aku tak ingin membalas teriakkannya, karena yang ada
sampai nanti kami pasti akan terus bertengkar. Aku duduk di kursi panjang
sambil memeluk tubuh, sedangkan ia duduk dengan jarak yang cukup jauh dariku.
“Jadi, apa yang kau lakukan di tengah hujan ?” suaranya
beradu dengan hujan yang sekarang sudah hampir reda. Hanya gerimis yang tersisa
dan itu membuat kami tak perlu lagi berteriak.
“Aku hanya ingin menikmatinya”
“Apa kau gila ? Bagaimana jika kau sakit atau mati
kedinginan di sana ?”
“Lalu, apa hubungannya denganmu ?”
“Kau ini bodoh ? atau otakmu yang cerdas itu sedang kau
tinggalkan di dalam tasmu ?”
“Oh, bicaralah yang jelas”
“Baiklah. Aku menyukaimu Gina Whineva Yhina”
Klimaks. Pipiku sudah pasti seperti kepiting rebus. Memerah.
Mencoba menutupinya aku berkata “Aku kedinginan, jadi tidak ingin bercanda”.
“Lihatlah pipimu merah Gin”.
Aku pastikan ia
mengatakan hal itu dengan seringai penuh kemenangan. Sial. Aku tak ingin
menjawab apapun.
“Dan aku serius, aku menyukaimu. Bahkan, aku menyayangimu
Gina. Sejak dulu” ia berkata lagi sambil berjalan ke arahku dan sukses membuat
jantungku berpacu cepat tak beraturan. Lalu, memasangkan sebuah jaket hangat di
bahuku. Jantungku sepertinya berhenti berdetak, karena sudah berpacu terlalu
cepat. Hidungku menikmati aroma yang muncul dari jaket itu. Nyaman dan hangat.
Sungguh, aku tak bisa memungkiri perasaanku sendiri. Aku berlari menghampirinya
yang tengah berjalan meninggalkan halte. Lalu, mensejajari langkah kami dan
membiarkan tanganku membalas hangat genggaman tangan itu lagi.
Aku
menyayanginya.
Mungkin setelah ini, harus ada seseorang yang membangunkanku dari mimpi panjang nan membahagiakan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar