Sabtu, 25 Januari 2014

Rival, Rain and Love


“Hey! Apa yang kau lakukan ?” aku berteriak di antara gemuruh hujan karena merasa genggaman hangat di pergelangan tanganku yang lalu menarikku, memaksaku mengikutinya. Memaksaku berteduh, mungkin.
 Ia tidak peduli dengan teriakanku, yang ia lakukan hanya terus berjalan sambil terus menarikku melalui genggamannya. Genggaman ini bukan genggaman keras bernada menikam. Bukan pula genggaman kasar yang menyakitkan. Tapi, ini adalah genggaman erat nan hangat seakan enggan terlepas, genggaman yang menyiratkan kerinduan mendalam.

Mataku terarah pada tubuh tegap yang masih menarikku, pandanganku di kaburkan oleh hujan yang kian menderas. Namun, perlahan aku tahu siapa pemilik genggaman hangat ini. Dia. Tidak mungkin. Pasti mataku salah mengenalinya di tengah hujan.
Aku kaget bukan main, ketika menyadari memang dia yang menarikku. Langkahku hampir terhenti. Namun, sekan menyadari hal itu, ia menurunkan tangannya dari pergelangan menuju telapak tanganku. Lalu, menggenggamnya dengan erat dan lebih hangat. Ada perasaan nyaman dan hangat yang mengaliriku saat ini, yang membuatku percaya padanya, yang embuatku membalas erat genggamannya dan meneruskan langkah. Seakan tidak perduli dengan hujan, aku menikmatinya, menikmati genggaman hangat ini, menikmati kebersamaan ini.

Hujan terdengar semakin deras, ketika ia melepaskan genggaman tangannya yang telah berhasil membawaku ke sebuah halte teduh. Dinginpun mulai menyeruak bersama deru hujan, memecah kehangatan yang sempat aku rasakan saat tangan itu masih menggenggam erat tanganku.
“Apa yang kau lakukan ? Di mana kau tinggalkan kecerdasanmu ?” ucapnya setengah berteriak.
Sesaat aku menangkap kekhawatiran dari wajah bermata hazel itu. Namun setelahnya, ia kembali memasang ekspresi datar, seperti biasa. Oh, ia memang selalu pandai berkelit dalam hal ekspresi. Aku menatapnya lebih dalam, ada geliat-geliat aneh di perutku, seperti ada kupu-kupu berterbangan riang di sana.
“Kau bicara denganku ?”, jawabku santai dan nyaring agar tak kalah dengan hujan, sambil mencoba mengumpulkan kewarasanku  mengingat lawan bicaraku kali ini adalah rivalku sejak dulu. Ya, dia Vidi. Rivalku, saingan yang harus aku kalahkan dalam setiap mata pelajaran. Sekaligus orang yang sejak dulu menarik perhatianku. Dan bisa ku pastikan, pipiku sedang memerah sekarang. Oh no!!
“Kau selalu seperti itu!” ia meneriakiku dengan lebih nyaring.
“Seperti apa maksudmu ?”
“Kau selalu membuatku kesal!”
“Hah ? bukannya kau yang menyebalkan!”
“Oh, sudahlah. Aku tidak ingin tenggorokanku sakit hanya karena adu teriak di tengah hujan denganmu”
Hening. Aku tak ingin membalas teriakkannya, karena yang ada sampai nanti kami pasti akan terus bertengkar. Aku duduk di kursi panjang sambil memeluk tubuh, sedangkan ia duduk dengan jarak yang cukup jauh dariku.
“Jadi, apa yang kau lakukan di tengah hujan ?” suaranya beradu dengan hujan yang sekarang sudah hampir reda. Hanya gerimis yang tersisa dan itu membuat kami tak perlu lagi berteriak.
“Aku hanya ingin menikmatinya”
“Apa kau gila ? Bagaimana jika kau sakit atau mati kedinginan di sana ?”
“Lalu, apa hubungannya denganmu ?”
“Kau ini bodoh ? atau otakmu yang cerdas itu sedang kau tinggalkan di dalam tasmu ?”
“Oh, bicaralah yang jelas”
“Baiklah. Aku menyukaimu Gina Whineva Yhina”
Klimaks. Pipiku sudah pasti seperti kepiting rebus. Memerah. Mencoba menutupinya aku berkata “Aku kedinginan, jadi tidak ingin bercanda”.
“Lihatlah pipimu merah Gin”.
 Aku pastikan ia mengatakan hal itu dengan seringai penuh kemenangan. Sial. Aku tak ingin menjawab apapun.
“Dan aku serius, aku menyukaimu. Bahkan, aku menyayangimu Gina. Sejak dulu” ia berkata lagi sambil berjalan ke arahku dan sukses membuat jantungku berpacu cepat tak beraturan. Lalu, memasangkan sebuah jaket hangat di bahuku. Jantungku sepertinya berhenti berdetak, karena sudah berpacu terlalu cepat. Hidungku menikmati aroma yang muncul dari jaket itu. Nyaman dan hangat. 
 Sungguh, aku tak bisa memungkiri perasaanku sendiri. Aku berlari menghampirinya yang tengah berjalan meninggalkan halte. Lalu, mensejajari langkah kami dan membiarkan tanganku membalas hangat genggaman tangan itu lagi. 

Aku menyayanginya.

Mungkin setelah ini, harus ada seseorang yang membangunkanku dari mimpi panjang nan membahagiakan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar