Jumat, 11 Oktober 2013

Sampai Pada Titik Sudahnya


Akankah ada yang mengerti ketika seorang gadis dengan polosnya mencintai seseorang, dengan segenap ketulusannya menyayangi seseorang. Akankah ada yang percaya pada hatinya ? mengingat usianya masih sangat muda. Terlebih ketika akhirnya ia secara terselubung  di khianati. Pria itu mengkhianatinya. Pria itu meninggalkannya dengan alasan sekolah, hingga ia, gadis itu sempat berkomitmen untuk menunggu. Namun, pada kenyataannya komitmen itu pula yang mematahkan hatinya lagi, untuk kedua kalinya, karena orang yang sama. Pria itu meninggalkannya untuk orang lain, bukan sekolah, bukan pula untuk cita-citanya.

Sekarang siapa yang bisa di salahkan karena gadis itu menangis tersedu-sedu ? mungkinkah pria itu, orang yang di cintainya yang telah meninggalkannya dengan mudah, atau dirinya sendiri karena ia telah mencintai seseorang dengan  begitu sangat, mungkin lebih tepat dengan begitu bodoh untuk orang zaman sekarang. Apakah ada yang bisa memastikan bahwa setelah ini ia akan tersenyum lagi dengan sangat mudah ? jawabannya iya, tentu ia akan tetap tersenyum. Tapi, adakah yang bisa memulihkan hatinya kembali tanpa bekas ? adakah yang bisa mengembalikan seperti semula gelas yang telah pecah ? senyap. Tak ada jawaban.
Ia masih terus menangis. Bahkan hiruk pikuk jalanan tak meredam apapun. Deru angin tak sama sekali mengeringkan air matanya. Lukanya terlalu dalam. Tangannya terangkat menyeka air mata.  Untuk sekian lama ia mematung, membiarkan hatinya bersuara, membuka telinga untuk kesunyian yang tak bisa di dengar. Kenyataan masih begitu pahit untuknya. Ketika hubungan telah mencapai titik sudahnya, titik di mana ia harus menggeser langkah pelan-pelan.

Sekali lagi, tangannya menyeka air mata. Di sudahi dengan alasan tak masuk akal terlalu sulit untuk di terima. Di sudahi ketika benar-benar menyayangi terlalu sulit untuk melepaskan. Ia tersenyum getir, bermaksud menertawakan dirinya. Ia tahu, ia sadar, semua orang akan menganggapnya bodoh, menangisi orang yang tak pantas di tangisi. Pasti ada banyak kisah seperti ini, pasti ada banyak penulis yang memuat kejadian seperti ini dalam novel-novelnya. Tapi adakah yang mengerti akan penjelasan yang ia coba jelaskan dalam tangisnya ?  bahwa perasaan tak bisa di samakan dengan apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar