Akankah ada yang mengerti ketika seorang gadis dengan
polosnya mencintai seseorang, dengan segenap ketulusannya menyayangi seseorang.
Akankah ada yang percaya pada hatinya ? mengingat usianya masih sangat muda.
Terlebih ketika akhirnya ia secara terselubung
di khianati. Pria itu mengkhianatinya. Pria itu meninggalkannya dengan
alasan sekolah, hingga ia, gadis itu sempat berkomitmen untuk menunggu. Namun,
pada kenyataannya komitmen itu pula yang mematahkan hatinya lagi, untuk kedua
kalinya, karena orang yang sama. Pria itu meninggalkannya untuk orang lain,
bukan sekolah, bukan pula untuk cita-citanya.
Sekarang siapa yang bisa di salahkan karena gadis itu
menangis tersedu-sedu ? mungkinkah pria itu, orang yang di cintainya yang telah
meninggalkannya dengan mudah, atau dirinya sendiri karena ia telah mencintai
seseorang dengan begitu sangat, mungkin
lebih tepat dengan begitu bodoh untuk orang zaman sekarang. Apakah ada yang
bisa memastikan bahwa setelah ini ia akan tersenyum lagi dengan sangat mudah ? jawabannya
iya, tentu ia akan tetap tersenyum. Tapi, adakah yang bisa memulihkan hatinya
kembali tanpa bekas ? adakah yang bisa mengembalikan seperti semula gelas yang
telah pecah ? senyap. Tak ada jawaban.
Ia masih terus menangis. Bahkan hiruk pikuk jalanan tak
meredam apapun. Deru angin tak sama sekali mengeringkan air matanya. Lukanya
terlalu dalam. Tangannya terangkat menyeka air mata. Untuk sekian lama ia mematung, membiarkan
hatinya bersuara, membuka telinga untuk kesunyian yang tak bisa di dengar. Kenyataan
masih begitu pahit untuknya. Ketika hubungan telah mencapai titik sudahnya,
titik di mana ia harus menggeser langkah pelan-pelan.
Sekali lagi, tangannya menyeka air mata. Di sudahi dengan
alasan tak masuk akal terlalu sulit untuk di terima. Di sudahi ketika
benar-benar menyayangi terlalu sulit untuk melepaskan. Ia tersenyum getir,
bermaksud menertawakan dirinya. Ia tahu, ia sadar, semua orang akan
menganggapnya bodoh, menangisi orang yang tak pantas di tangisi. Pasti ada
banyak kisah seperti ini, pasti ada banyak penulis yang memuat kejadian seperti
ini dalam novel-novelnya. Tapi adakah yang mengerti akan penjelasan yang ia
coba jelaskan dalam tangisnya ? bahwa
perasaan tak bisa di samakan dengan apapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar