Baiklah, hanya diam sekarang. Semakin mendalami luka, hal
yang tak ingin ku lakukan sama sekali. Terlebih ketika semuanya berlangsung,
hati dan logika yang terus beradu argumen. Semakin nyata rasanya, sakitnya.
Jadi, apa yang membuatku tetap bertahan ? tetap tinggal meski hal yang awalnya
hanya dugaan telah berbuah kenyataan dan menuai kesakitan. Entahlah, keputusan
itu seakan terlalu mengambang untukku, melayang-layang enggan untukku genggam. Mungkin cinta masih
betah mendiami hatiku, mengambil bagian paling besar untukmu sedang aku menjadi
salah satu bagian saja belum tentu.
Tunggu dulu, cinta ? apa aku tak salah menyebutnya ?
bukankah kata itu yang membuatku terisak
? di mana keramahtamahannya kala itu ? tersimpan di lemari mana warna
yang di janjikan ? tersembunyi di balik apa kesetiaan yang berjanji akan
menemaniku bangkit ?
Lalu kemudian, setelah sukses memporakporandakan, berkunjung
lagi dan tentunya sepaket dengan duka juga resiko kesakitan hanya saja dalam
kemasan yang berbeda. Ah, aku sendiri tidak tahu bagaimana prosesnya. Bagaimana
jalan ceritanya hingga kau dengan rambut berantakanmu, dengan mata jernihmu
berhasil membuatku jatuh cinta ? berhasil mengubah semuanya, membuatku
meninggalkan lembaran masa laluku.
Tapi bukankah jatuh
itu..sakit, luka dan berdarah. Tidakkah jatuh itu sulit untuk bangkit. Terlebih
jika terlalu dalam. Aku juga pernah membaca ‘’jatuh itu pelan-pelan, agar tidak
terjebak dalam sakitnya’’. Pada kenyataannyapun, tanpa kita meminta waktu
selalu terasa berjalan lambat ketika kita telah terperangkap, sulit, bahkan
untuk sekedar bergerak.
Jatuh juga berarti siap dengan berbagai resiko. Hal itu
tentu tidak adil, bagaimana mungkin aku bisa siap sementara aku tidak bisa
memilih pada siapa aku harus jatuh, kapan waktu yang tepat untukku mencinta.
Dan kini resiko telah menghampiriku. Yaa, kembali lagi harus siap meski tanpa
persiapan. Lalu, kenapa pula aku jatuh dan mencintaimu ? mencintaimu, kata yang
tak banyak mewakili hatiku. Mencintaimu, memaksaku berhadapan dengan berbagai resiko. Mencintaimu, pendek tapi
sarat kemungkinan. Mencintaimu, mempengaruhi hidupku. Tapi, aku mencintaimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar