Sekarang perpustakaan kampus sedang lumayan ramai,
sepertinya setiap hari ada saja orang yang berminat membaca buku-buku
membosankan disini. Buku yang bahkan bisa menyebabkan geger otak jika
dipukulkan kekepala atau menyebabkan kaki membiru jika terjatuh mengenai kaki.
Dan aku ada disini, tentu saja dengan terpaksa, karena harus mengerjakan sebuah
laporan yang sumbernya hanya bisa didapat diperpustakaan. Yah, mengesankan
sekali.
Sebenarnya aku tak benar-benar membaca buku yang sedang
terbuka didepanku ini, aku hanya menyusuri halaman demi halamannya secara
asal-asalan. Jika aku menemukan sebuah kata atau kalimat yang berhubungan
dengan apa yang sedang aku cari, barulah aku akan mulai membacanya. Dan
beruntungnya lagi aku memiliki kemampuan otak diatas rata-rata, jadi, setiap
aku menemukan satu kalimat maka aku akan bisa mengembangkan kalimat-kalimat
selanjutnya. Sudah hampir setengah lusin halaman yang ku telusuri, tapi tak
satupun dari mereka yang memuat apa yang aku cari, hingga Handphoneku bergetar.
Sebuah pesan. Yang aku yakin dari ibuku—atau operator.
‘Raka, kau ingat dengan Velicia ? Ia baru saja tiba disini,
mama sudah mengatakan bahwa kau akan makan siang bersamanya dan kau harus
menemaninya berkeliling setelah makan siang. Ia akan menunggumu dikafe Taria,
ia menggunakan baju berwarna biru dan sebuah tas berwarna abu-abu. Kau akan
langsung mengenalinya.’
Great! Ibuku
menjanjikan makan siang dengan seseorang yang tidak kukenal dan tanpa
sepengetahuanku. What the—argghh. Aku menendang kaki meja didepanku dengan
kesal hingga membuat beberapa orang menatapku, mencela. Dan aku mulai
membayangkan wanita itu, Vatricia atau siapalah namanya, ia pasti menggunakan
semacam dress dan highells yang dipenuhi blink-bink mengerikan, dengan rambut
yang menggulung tergantung, lalu akan membicarakan tentang masalah wanita
seperti gaun atau sepatu,ini pasti akan jadi makan siang panjang dan
membosankan.
Tepat saat aku hendak beranjak dari perpustakaan,
handphone-ku berdering, yang langsung membuat seisi perpustakan menatapku tajam
atau memberi pelototan. Itu bukan dering tanda panggilan, tapi alarm yang
artinya—astaga, rapat senat. Benar, hari ini memang dijadwalkan untuk rapat.
Lalu bagaimana dengan janji ibuku, makan siang dengan Vatricia. Sepertinya aku
akan langsung mendapat kesan buruk darinya. Tapi setidaknya, aku bisa
mengurangi waktu membosankan yang akan kuhabiskan bersama Vatricia atau
siapalah itu.
Terlambat
45 menit, aku tahu. Dan sekarang aku sudah ada didepan kafe yang pintunya
terbuka. Disana. Gadis itu, sepertinya ia sedang memandang sesuatu. Ah, hancur
sudah harapanku mengenai Vatricia yang akan meninggalkanku karena terlambat.
Tapi, tunggu dulu. Sepertinya ia memang bukan Vatricia, karena ia tak sama
sekali memakai pakaian seperti yang aku bayangkan tadi. Ia, gadis itu memang
memakai baju berwarna biru dengan lengan sesiku dan—ia memang Vatricia—sebuah
tas abu-abu tersampir di punggungnya. Yah, setidaknya ia membuatku merasa tolol
karena membayangkannya akan memakai sebuah dress tadi.
“Permisi”, sapaku dengan sopan saat sudah berada dekat
dengannya.
“Hey! Kau pasti Raka!”. Astaga ia bahkan nyaris
meneriakkiku.
“Dan kau..”, aku menimbang-nimbang apakah Vatricia memang
namanya—
“Velicia”, ia memotong ucapanku dan aku bersyukur sekali
karena tidak menyebutnya Vatricia tadi.
Aku tidak tahu bagaimana kami bisa menghabiskan makan siang
tadi, tapi yang jelas, ia tak seburuk yang kubayangkan sebelumnya. Sungguh, ia
bahkan lebih menarik karena cenderung aneh untuk ukuran gadis-gadis seusianya.
Dan apa aku sudah mengatakannya ? bahwa ia, Velicia, gadis yang sedang berjalan
mendahuluiku itu ceroboh sekali. Ia bahkan, baru saja hampir menumpahkan
minumannya pada seseorang yang tak sengaja ia tabrak. Kami memang sedang
berjalan menelusuri trotoar—sesuai pesan ibuku untuk mengajaknya keliling kota.
Dan satu hal lagi, kami sama-sama pecinta lukisan. Mungkin hal itulah yang
membuatku nyaman bersamanya. Jadilah sekarang kami sedang menunggu hasil
lukisan seorang pelukis yang kami minta untuk melukiskan wajah kami.
“Aku tidak tahu kalau kau senang dilukis”, ucapku memulai
pembicaraan sambil melirik kearahnya yang sedang duduk tenang menikmati gulali.
“Yeah, aku senang ketika melihat wajahku dalam lukisan. Dan
aku masih punya daftar panjang kesenanganku yang lain jika kau berminat
mendengarkannya”, ia berkata sambil menyeringai—sesuatu yang sangat jarang
dilakukan perempuan.
“Dan aku juga selalu membawa earphone-ku kemana-mana, jika
sewaktu-waktu perlu menggunakannya”, jawabku sambil balas menyeringai.
“Ya, lalu aku akan mengoceh sendirian sementara kau
mendengarkan musik”, ia tersenyum kecut, yang tandanya kemenangan bagiku.
Aku sudah hampir berkata lagi saat pelukis itu bergerak dan
menyerahkan lukisannya pada kami, lukisannya diserahkan padanya dan aku padaku
juga. Ia tersenyum puas saat melihat lukisan itu. Ia pasti senang melihat
wajahnya dalam lukisan seperti yang dikatakannya tadi.
Ia menggerutu ketika aku mengajaknya pulang karena matahari
sudah hampir ditelan malam, sudah sangat sore. Tapi gerutuan dan wajah kesal
itu berubah menjadi semacam ekspresi girang karena aku mengatakan bahwa kami
akan lanjut berkeliling besok. Nah, aku baru menyadarinya sekarang. Inilah yang
membuatnya benar-benar tampak berbeda. Wajahnya. Bukan, bukan karena
kecantikkannya melebihi rata-rata atau hidungnya yang mancung sekali itu. Tapi,
ekspresi pada wajahnya yang cepat sekali berganti. Bahkan selama aku menatapnya
sekarang saja, ia sudah kira-kira tiga kali berganti ekspresi, dan jika
ditambah dengan ekspresi kesal dan girangnya tadi berarti ia sudah lima kali
berganti ekspresi sejak beberapa menit yang lalu. Pertama ekspresi kesal, lalu
girang, lalu ekspresi imut—yang membuatku menahan tawa, lalu ekspresi
anggun—yang tak kalah menggelikan dari ekspresinya sebelumnya, dan sekarang
adalah ekspresi bingung. Ia bingung karena aku menatapnya.
“Hanya ingin melihat ekspresimu”, jawabku santai.
Ia hanya menaikkan alis sebelah, lalu memasang ekspresi
datar yang tak terbaca. Aku balas menaikkan alis, namun ia sudah mengalihkan
perhatiannya pada bangunan-bangunan yang kami lewati.
Aku sampai dirumah dengan Velicia—ia menginap dirumahku.
Lalu sama-sama berjalan dengan lukisan ditangan masing-masing. Aku melihat ia
tersenyum sekilas sesaat sebelum menuju kamarnya. Dan spring bed dikamarku
terlihat menggiurkan ketika aku masuk kamar dengan perasaan lelah. Aku
menghempaskan diri disana, lalu meraih lukisan yang tadi. Tapi, ini bukan
lukisanku, karena bukan wajahku yang terlukis disini. Tapi, wajah seorang gadis
yang tengah tersenyum dengan gulali ditangannya. Velicia. Sepertinya lukisan
kami tertukar saat dimobil. Dan well, sebenarnya aku tak keberatan dengan
lukisan ini. Tapi, walau bagaimanapun menyenangkannya menatap lukisan ini, aku
harus tetap memberitahu pemiliknya.
Setelah mandi aku turun kebawah berniat mengembalikan
lukisan ini. Tepat saat aku berada diantara ruang tengah dan kamarnya, aku
berhenti karena mendapati ia yang juga tengah berjalan kearahku.
“Velicia”
“Raka”