Jumat, 06 Juni 2014

Benarkah Ini KITA ?


Sekali ini saja, bisakah semua ini dianggap adil ?
Tentu saja tidak, ketika aku telah menemukan seorang yang bisa membuatku tertawa lepas dan bicara tanpa batas, tanpa harus berpura-pura sempurna, tanpa harus menutupi segala keburukkan tingkah lakuku, saat itu pula aku mengakui bahwa hal lain tengah menghantuiku. Aku menemukanmu. Seperti menemukan kebebasan yang selama ini terjaga, seperti menemukan kebahagiaan yang selama ini tersimpan. Lalu kemudian, kau mengenalkanku pada apa yang orang lain sebut cinta, pada kata terbuka yang berarti benar-benar tak ada yang ditutupi, pada kata bebas yang benar-benar melepaskanku menjadi diriku sendiri dan apapun yang aku mau.
Kau membimbingku hingga benar-benar mengerti, bukan sekedar tahu. Kau mengajariku untuk benar-benar menjiwai sabar, bukan sekedar mengenalnya. Dan semuanya terjadi begitu saja, kau masuk ke kehidupanku dengan segala tentangmu, sikapmu, kebaikkanmu, ketaatanmu, murah hatimu dan semuanya, termasuk cintamu. Dan akupun mengikuti arusmu dengan luar biasa girangnya, karena aku seolah menemukan apa yang selama ini kucari. Cinta,mungkin ?

Tapi, benarkah ini cinta ? tidakkah terlalu cepat ? tidakkah ini hanya sekedar ketertarikkan sesaat ?

Kemudian, semuanya berjalan dengan kesempurnaan tingkat tinggi. Berjalan baik-baik saja. Aku memilikimu, orang yang juga memujaku. Tapi, apakah semua ini sungguh-sungguh ? tidakkah ini hanya pendahuluan sebelum sampai pada isi yang penuh kebohongan ?

Hingga malam itu, tepat hari jadi kita entah untuk yang keberapa. Sikapmu tiba-tiba meragu, membuatku tergoncang dan tertatih mengikuti arusmu yang tanpa titik terang. Sebenarnya arusmu tak berubah, hanya sedikit gelombang yang telah cukup membuatku terombang-ambing. Mungkin memang aku yang terlalu perasa, hingga ucapanmu membuatku terluka.
Bukan kamu yang berubah. Tapi aku. Dan itu karena sikapmu yang meragu. Dan sekarang semuanya terlalu runtuh untuk dipertahankan, aku telah terlalu kalah untuk terus mengikuti arusmu. Lalu, kau tiba-tiba mengembalikan sikapmu seperti mula-mula. Mengembalikan arusmu yang tenang, kau berulang kali mengucap ma’af dan aku berulang kali pula mema’afkanmu. Dan selanjutnya, akan terus seperti itu, kau meminta ma’af dan aku memberi ma’af.

Semuanya buruk dan berubah.

Kau membuatku terluka, lalu mengucap ma’af dan kemudian membuat dirimu mengikuti arusku yang kamu tahu tidak pernah setenang arusmu. Kau membuatku tertawa lalu kemudian menangis, membuatku berbunga lalu kemudian kecewa, bahagia kemudian terluka. Kau membuatku tak bisa mengubah sikap dinginku padamu, tapi juga tak bisa membuatku meninggalkamu. Kau membuatku tak bisa memilihmu tapi juga tak bisa memilih hal lain. Kau membuatku tak bisa mempertahankanmu tapi juga tak bisa melepaskanmu. Kau membuatku menjadi seorang egois yang menggantung semuanya. Semuanya hambar dan sia-sia sepenuhnya.

Minggu, 30 Maret 2014

Finally, Broken


Ma’af, mungkin hubungan kita harus berakhir disini.
Ma’af aku tidak bisa lagi melanjutkan hubungan kita.
Bisakah kita mengakhiri hubungan kita sekarang ?
Deshafani Lephta Villyan, sejak tadi ia terus memilah kalimat-kalimat tersebut. Mengganti setiap kata yang menurutnya terlalu kasar. Lalu, kemudian menyusunnya kembali. Sebenarnya apa yang tengah ia rencanakan ? Baiklah, ia berniat untuk mengakhiri sebuah hubungan yang selama ini ia anggap main-main, yang selalu tak pernah ia anggap serius, yang ia bahkan tak menduga akan bisa bertahan hingga 8 bulan.
Ia memandang layar ponselnya selama hampir lima menit. Terang saja, tak ada apa-apa yang terjadi, layar ponsel itu tetap hitam dan gelap seperti semula. Ia meraih ponselnya, lalu mulai memasukkan 12 angka yang sepertinya sudah sangat ia hapal. Kemudian, dibuntuti dengan menekan sebuah keypad berwarna hijau.
“Septian, bisakah kita bertemu nanti sore. I need to talk with you”, ucapnya segera setelah telephon tersambung.
“Anything for you dear”, seseorang diseberang sana yang bernama Septian menjawab dengan nada yang pasti.
Layar ponselnya menampilkan sebuah fhoto –yang entah apa—berbentuk seperti bulan sabit sesaat setelah ia menekan keypad berwarna merah. Ponselnya diletakkannya kembali, lalu tangannya bergerak menggenggam sesuatu yang tergantung dilehernya. Sebuah liontin dengan bentuk bulan sabit. Liontin itu terdengan bergemericing pelan saat tersentuh. Ia menghela nafas. Everything will be back to be just fine, batinnya.
***
“Ma’af aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi”.
Suaranya terdengar sedikit bergetar ditengah keramaian sebuah kafe yang biasa menjadi tempat mereka bertemu. Fany dan Septian.

Septian, orang yang ia ajak berbicara hanya mematung dihadapannya, menatapnya tak percaya. Selama sepersekian menit mereka terdiam dengan ketegangan yang mengudara.
 “Apa kau bercanda ?”, suara Septian terdengar berat ditelinganya. Ia bahkan, tidak pernah mendengar Septian menggunakan nada seaneh ini.

Ia menggeleng tegas, tak berani menatap Septian.“Ma’afkan aku, aku tidak pernah bisa benar-benar mencintaimu”, akhirnya ia mengatakan alasannya.

“Tapi, kukira selama ini kau mencintaiku”, jawab Septian.

“Apa aku pernah mengatakannya ?”, ia menyela ucapan Septian.
 “Aku tahu kau pasti berpikir aku tidak perlu mengucapkannya karena aku akan merealisasikannya dalam sikapku”, ia menambahkan tepat saat Septian sudah membuka mulut untuk berbicara.

“Tapi, aku tetap tidak mengerti bagaimana mungkin kau bisa bertahan selama ini denganku jika kau tidak mencintaiku”, Septian berkata dengan suara penuh keraguan.

“Karena aku berpikir, bersama waktu hatiku mungkin bisa berubah”, ia menunduk menatap gelas berisi minuman yang sama sekali tak tersentuh. Ia tidak tahu, apakah ia barusaja melukai laki-laki dihadapannya atau justru membuat Septian merasa bebas dari apa yang selama ini terjalin diantara mereka.

“Kau tidak tahu bagaimana aku mencintaimu dan memperhatikanmu selama ini”, Septian bergumam dengan suara yang justru lebih terdengar ragu daripada sebelumnya.

Hatinya, Fani, mencelos mendengar keraguan dalam suara Septian. Sekarang ia semakin mengerti dimana letak kesalahan mereka. Mereka terikat diluar, tapi kosong pada bagian dalam. Tak ada apa-apa pada bagian dimana seharusnya terisi nama seseorang yang telah menjadi sepasang kekasih selama delapan bulan terakhir. Bahkan tak ada tanda-randa yang menunjukkan bahwa seseorang pernah tinggal disana selama delapan bulan. Hati, benar.

“Apa kau yakin dengan perasaanmu ? Dan apa yang kau sebut dengan perhatian seharusnya lebih dari sekedar bertanya ‘apa kau sudah makan ?’ atau ‘apa yang sedang kau lakukan ?’. Perhatian memiliki makna yang lebih luas dari itu. Kau tidak pernah mengerti hal itu karena kau tidak mengenalku melebihi orang yang kusebut sebagai teman. Kau tidak pernah tahu tentangku melebihi nama, alamat, tanggal lahir dan segala yang berhubungan dengan fisik. You never knowing me inside”, ia menumpahkan segala ayng selama ini tersimpan dalam hatinya, segala yang selama ini menjadi beban untuknya.
“Kau tahu ? Aku selalu berusaha mencari ketulusan dalam kita. Tapi, aku tidak pernah menemukannya hingga sekarang, hingga semuanya berakhir. Aku tidak pernah merasa hati kita terpaut, yang ada hanya tubuh kita yang terikat. Dan semua ini adalah kata-kata paling tulus yang pernah kuucapkan padamu”, ia mengakhiri ucapannya dengan menghela nafas dan memejamkan mata. Semuanya berakhir, batinnya.

Ia hampir menangis jika tak cepat-cepat beranjak dari kafe itu. Sekarang, ia hanya berjalan tanpa arah yang jelas menyusuri trotoar, mengikuti kemana kaki akan membawanya pergi. Tangannya lagi-lagi menggenggam liontin berbentuk bulan sabit yang tergantung dilehernya, meredam gemericing pelan yang ditimbulkan liontin itu. Langkahnya terhenti ketika ia menyadari ia sudah berada disebuah taman yang terlihat lengang karena sudah menjelang malam dan bulan sebentar lagi akan menggantikan posisi matahari.
Ia melangkah lagi menuju sebuah kursi putih yang tidak jauh dari sebuah pohon yang sepertinya juga 
diduduki seorang laki-laki pada bagian belakangnya. Tangannya semakin erat menggenggam liontin itu. Entah kenapa, aroma yang mengembang diudara terasa familiar untuknya. Ia menghela nafas, lalu mendongakkan kepala. Menatap langit yang mulai gelap, berharap bulan sabit akan segera terlihat.

Jumat, 14 Maret 2014

First Impression


Sekarang perpustakaan kampus sedang lumayan ramai, sepertinya setiap hari ada saja orang yang berminat membaca buku-buku membosankan disini. Buku yang bahkan bisa menyebabkan geger otak jika dipukulkan kekepala atau menyebabkan kaki membiru jika terjatuh mengenai kaki. Dan aku ada disini, tentu saja dengan terpaksa, karena harus mengerjakan sebuah laporan yang sumbernya hanya bisa didapat diperpustakaan. Yah, mengesankan sekali.
Sebenarnya aku tak benar-benar membaca buku yang sedang terbuka didepanku ini, aku hanya menyusuri halaman demi halamannya secara asal-asalan. Jika aku menemukan sebuah kata atau kalimat yang berhubungan dengan apa yang sedang aku cari, barulah aku akan mulai membacanya. Dan beruntungnya lagi aku memiliki kemampuan otak diatas rata-rata, jadi, setiap aku menemukan satu kalimat maka aku akan bisa mengembangkan kalimat-kalimat selanjutnya. Sudah hampir setengah lusin halaman yang ku telusuri, tapi tak satupun dari mereka yang memuat apa yang aku cari, hingga Handphoneku bergetar. Sebuah pesan. Yang aku yakin dari ibuku—atau operator.

‘Raka, kau ingat dengan Velicia ? Ia baru saja tiba disini, mama sudah mengatakan bahwa kau akan makan siang bersamanya dan kau harus menemaninya berkeliling setelah makan siang. Ia akan menunggumu dikafe Taria, ia menggunakan baju berwarna biru dan sebuah tas berwarna abu-abu. Kau akan langsung mengenalinya.’

 Great! Ibuku menjanjikan makan siang dengan seseorang yang tidak kukenal dan tanpa sepengetahuanku. What the—argghh. Aku menendang kaki meja didepanku dengan kesal hingga membuat beberapa orang menatapku, mencela. Dan aku mulai membayangkan wanita itu, Vatricia atau siapalah namanya, ia pasti menggunakan semacam dress dan highells yang dipenuhi blink-bink mengerikan, dengan rambut yang menggulung tergantung, lalu akan membicarakan tentang masalah wanita seperti gaun atau sepatu,ini pasti akan jadi makan siang panjang dan membosankan.

Tepat saat aku hendak beranjak dari perpustakaan, handphone-ku berdering, yang langsung membuat seisi perpustakan menatapku tajam atau memberi pelototan. Itu bukan dering tanda panggilan, tapi alarm yang artinya—astaga, rapat senat. Benar, hari ini memang dijadwalkan untuk rapat. Lalu bagaimana dengan janji ibuku, makan siang dengan Vatricia. Sepertinya aku akan langsung mendapat kesan buruk darinya. Tapi setidaknya, aku bisa mengurangi waktu membosankan yang akan kuhabiskan bersama Vatricia atau siapalah itu.
  
Terlambat 45 menit, aku tahu. Dan sekarang aku sudah ada didepan kafe yang pintunya terbuka. Disana. Gadis itu, sepertinya ia sedang memandang sesuatu. Ah, hancur sudah harapanku mengenai Vatricia yang akan meninggalkanku karena terlambat. Tapi, tunggu dulu. Sepertinya ia memang bukan Vatricia, karena ia tak sama sekali memakai pakaian seperti yang aku bayangkan tadi. Ia, gadis itu memang memakai baju berwarna biru dengan lengan sesiku dan—ia memang Vatricia—sebuah tas abu-abu tersampir di punggungnya. Yah, setidaknya ia membuatku merasa tolol karena membayangkannya akan memakai sebuah dress tadi.

“Permisi”, sapaku dengan sopan saat sudah berada dekat dengannya.

“Hey! Kau pasti Raka!”. Astaga ia bahkan nyaris meneriakkiku.

“Dan kau..”, aku menimbang-nimbang apakah Vatricia memang namanya—

“Velicia”, ia memotong ucapanku dan aku bersyukur sekali karena tidak menyebutnya Vatricia tadi.

Aku tidak tahu bagaimana kami bisa menghabiskan makan siang tadi, tapi yang jelas, ia tak seburuk yang kubayangkan sebelumnya. Sungguh, ia bahkan lebih menarik karena cenderung aneh untuk ukuran gadis-gadis seusianya. Dan apa aku sudah mengatakannya ? bahwa ia, Velicia, gadis yang sedang berjalan mendahuluiku itu ceroboh sekali. Ia bahkan, baru saja hampir menumpahkan minumannya pada seseorang yang tak sengaja ia tabrak. Kami memang sedang berjalan menelusuri trotoar—sesuai pesan ibuku untuk mengajaknya keliling kota. Dan satu hal lagi, kami sama-sama pecinta lukisan. Mungkin hal itulah yang membuatku nyaman bersamanya. Jadilah sekarang kami sedang menunggu hasil lukisan seorang pelukis yang kami minta untuk melukiskan wajah kami.

“Aku tidak tahu kalau kau senang dilukis”, ucapku memulai pembicaraan sambil melirik kearahnya yang sedang duduk tenang menikmati gulali.

“Yeah, aku senang ketika melihat wajahku dalam lukisan. Dan aku masih punya daftar panjang kesenanganku yang lain jika kau berminat mendengarkannya”, ia berkata sambil menyeringai—sesuatu yang sangat jarang dilakukan perempuan.

“Dan aku juga selalu membawa earphone-ku kemana-mana, jika sewaktu-waktu perlu menggunakannya”, jawabku sambil balas menyeringai.

“Ya, lalu aku akan mengoceh sendirian sementara kau mendengarkan musik”, ia tersenyum kecut, yang tandanya kemenangan bagiku.

Aku sudah hampir berkata lagi saat pelukis itu bergerak dan menyerahkan lukisannya pada kami, lukisannya diserahkan padanya dan aku padaku juga. Ia tersenyum puas saat melihat lukisan itu. Ia pasti senang melihat wajahnya dalam lukisan seperti yang dikatakannya tadi.

Ia menggerutu ketika aku mengajaknya pulang karena matahari sudah hampir ditelan malam, sudah sangat sore. Tapi gerutuan dan wajah kesal itu berubah menjadi semacam ekspresi girang karena aku mengatakan bahwa kami akan lanjut berkeliling besok. Nah, aku baru menyadarinya sekarang. Inilah yang membuatnya benar-benar tampak berbeda. Wajahnya. Bukan, bukan karena kecantikkannya melebihi rata-rata atau hidungnya yang mancung sekali itu. Tapi, ekspresi pada wajahnya yang cepat sekali berganti. Bahkan selama aku menatapnya sekarang saja, ia sudah kira-kira tiga kali berganti ekspresi, dan jika ditambah dengan ekspresi kesal dan girangnya tadi berarti ia sudah lima kali berganti ekspresi sejak beberapa menit yang lalu. Pertama ekspresi kesal, lalu girang, lalu ekspresi imut—yang membuatku menahan tawa, lalu ekspresi anggun—yang tak kalah menggelikan dari ekspresinya sebelumnya, dan sekarang adalah ekspresi bingung. Ia bingung karena aku menatapnya.

“Hanya ingin melihat ekspresimu”, jawabku santai.
Ia hanya menaikkan alis sebelah, lalu memasang ekspresi datar yang tak terbaca. Aku balas menaikkan alis, namun ia sudah mengalihkan perhatiannya pada bangunan-bangunan yang kami lewati.
Aku sampai dirumah dengan Velicia—ia menginap dirumahku. Lalu sama-sama berjalan dengan lukisan ditangan masing-masing. Aku melihat ia tersenyum sekilas sesaat sebelum menuju kamarnya. Dan spring bed dikamarku terlihat menggiurkan ketika aku masuk kamar dengan perasaan lelah. Aku menghempaskan diri disana, lalu meraih lukisan yang tadi. Tapi, ini bukan lukisanku, karena bukan wajahku yang terlukis disini. Tapi, wajah seorang gadis yang tengah tersenyum dengan gulali ditangannya. Velicia. Sepertinya lukisan kami tertukar saat dimobil. Dan well, sebenarnya aku tak keberatan dengan lukisan ini. Tapi, walau bagaimanapun menyenangkannya menatap lukisan ini, aku harus tetap memberitahu pemiliknya.
Setelah mandi aku turun kebawah berniat mengembalikan lukisan ini. Tepat saat aku berada diantara ruang tengah dan kamarnya, aku berhenti karena mendapati ia yang juga tengah berjalan kearahku.
“Velicia”
“Raka”

Rabu, 12 Maret 2014

Tentang Kita dan Takdir, Bukan Waktu


“Aku mencintaimu Dimka”, suaraku terdengar dalam, memecah kesunyian yang menggantung diantara kami. Orang yang kumaksud tepat berada disebelahku tengah memandang lurus kedepan—mungkin.
Tangannya yang keras merangkul tubuhku hingga kepalaku bersandar dibahunya. Membuatku mencium semakin jelas aroma mint darinya dan membuatku sejenak lupa bahwa kami tengah berada disebuah taman Rumah Sakit.

“Ada hal lain yang lebih penting daripada perasaan, Ivanka”, aku mendengar ia berucap dengan ketegasan yang memudar. Sejenak, aku membiarkan ucapannya menggantung.

Hingga aku berkata, “seperti keselamatan”, lalu aku menegakkan kepala agar bisa menatapnya, ia balas menatapku dengan mata gelapnya yang semakin menguatkan ketegasannya, tapi aku yakin, aku tak sedikitpun menemukan ketegasan itu hari ini, yang ada hanya tatapan hangat. Ia mengangguk.

“Aku mengerti, nyawa seseorang lebih penting daripada urusan perasaan”, jawabku tegas.

“Sepertinya Pelatihan Detektif telah membentuk pribadi lain dalam dirimu”, ia berkata tanpa nada humor sedikitpun. Orang yang tak cukupmengenalnya akan menganggap bahwa hal itu serius, tapi aku dan ibunya tahu, ia tak sama sekali serius.

Aku menegakkan badan, hingga kepalaku tak lagi bersandar dibahunya. Aku cukup yakin ia terkejut, tapi, ia sangat pandai menyembunyikannya—tipikal Detektif handal.

“Berjanjilah, kau akan melupakanku”, aku berkata dengan nada yang –ku usahakan—lebih tegas daripada yang tadi. Ia menatapku, aku merasa sesuatu barusaja menikamku dibagian dalam. Namun kali ini, aku tak mengerti tatapannya, ia tak pernah sekalipun memberiku tatapan ini sebelumnya. Sejenis tatapan yang mengatakan tidak mungkin, atau tidak percaya.

“Iva, aku percaya padamu. Kau mengerti bagaimana keadaannya”, aku mendengar nada getir dalam suaranya. Ia masih menatapku, namun sudah mengembalikan tatapan hangatnya. Aku tahu, aku akan menurutinya. Aku mengangguk pasrah.

“Kau akan bahagia”, ucapnya lagi, tangannya mengaitkan rambut ke telingaku.

“Aku akan berdo’a untuk itu”—karena itu tidak mungkin, Dimka. Aku meneruskan ucapanku dalam hati.
Ia menggenggam tanganku lalu kami berdiri dan beranjak meninggalkan kursi dan taman. Aku yakin taman ini akan menjadi tempat yang paling kubenci setelah kejadian ini.

“Makan siang menunggu, Iva”, katanya. 
Ia berkata seolah baru saja tak ada apa-apa yang terjadi. Seolah tak ada seorang gadis yang tubuhnya dipenuhi selang yang sedang menunggunanya untuk datang. Seolah tak ada pernikahan yang akan menyambutnya 2 hari lagi, dengan orang  lain, gadis itu, Tania. Luka terasa semakin menyayat. Aku tidak yakin apa aku bisa mendatangi pernikahan mereka 2 hari lagi.

Aku melirik Dimka, wajahnya masih datar tanpa ekspresi seperti biasa. Tapi, aku yakin, ia mengerti apa yang kurasakan, apapun yang kupikirkan. Ia juga terluka. Lalu kemudian mataku beralih menuju genggaman tangan kami, kuangkat hingga aku tak perlu melirik. Masih erat, seperti biasa.

***
Tiba-tiba sebuah tangan keras meremas lembut tanganku, membawaku kembali ke alam sadar dan mengingatkanku bahwa kejadian ditaman rumah sakit itu telah terjadi 2 hari yang lalu. Waktu berputar tak karuan didunia kami, kadang cepat kadang pula sangat lambat. Hingga takdir membuktikan yang lain. Hari ini, seharusnya adalah hari pernikahan mereka. Dimka dan Tania.

Dan sekarang, kami sedang berada disebelah pusara seorang gadis yang seharusnya mendampingi Dimka. Yang seharusnya ada disebelah Dimka saat ia berjabat tangan dengan penghulu. Tania, ia meninggal dengan damai tepat setelah memberikan gaun pengantin putih yang sekarang kukenakan, padaku. Dan disebelahku, berdiri seorang laki-laki bermata coklap gelap yang tegas dengan mengenakan jas putih. Dimka.

Sabtu, 08 Maret 2014

Sekali Lagi, Ini Tentang Kenangan


Oh, baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I

Aku akan sangat menghargai jika bukan lagu itu yang tengah diperdengarkan disini. Lagu itu terlalu mengingatkanku akan seseorang, akan kenangan yang sungguh tak ingin sama sekali aku ingat-ingat lagi. Kenangan dimana kenyataan berperan dengan sangat kejam dan waktu kehilangan keanggunannya ketika kami tak bisa berakhir dalam sebuah persatuan.
Empat tahun yang lalu.
“Hey, bisakah kau berhenti berkutat dengan buku-buku itu ? apa tak ada yang bisa membuatmu jatuh cinta selain buku ?”, waktu itu ia berkata sambil menghampiriku.
“Ma’af”, jawabku singkat. Selain karena aku tak mengenalnya, juga karena ia adalah orang pertama yang memprotes kebersamaanku dan buku.
“Tak apa, aku hanya heran pada orang sepertimu. Bagaimana mungkin kau masih membaca padahal kau sudah mengetahui semuanya ?”
“Kurasa kau terlalu berlebihan”, aku tidak mengerti maksudnya. Karena sungguh, buku adalah sumber pengetahuan paling berjassa dalam hidupku.
“Seharusnya kau mengerti, bukankah kau pintar ?”, ia berkata seolah barusaja membaca pikiranku. Aku merasa jengkel padanya karena orang pintarpun tak akan selalu mengerti. Tapi selain itu, aku juga penasaran padanya.
“Aku tidak mengambil fakultas pemecahan maksud-maksud tersirat”, aku mengatakannya dengan nada datar.
“Tapi, bukankah fakultas Hukum banyak mengajarimu tentang hal itu”, sekali lagi ia membuatku geram dan merasa penasaran pada saat yang bersamaan. Mungkin aku akan mengatakan bahwa aku tidak menyukainya, tapi setelah itu aku akan menambahkan bahwa ia orang yang menarik.
“Kurasa tidak seperti itu”, aku masih tenang.
“Tentu saja, karena kau tidak pernah melihat hal itu dari kaca mata yang seharusnya”
“Apa itu pujian ?”, jawabku sarkastik sambil menatapnya dingin. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongku untuk tetap disini, meladeni ocehannya.
“Tentu, Nafalia”. Ia tahu namaku, mengherankan sekali.
“Senang berkenalan denganmu”, aku menutupi nada curigaku dengan mengatakan hal itu walau aku belum tahu namanya.
“Aku akan kembali besok”, katanya. Ia sudah hampir beranjak ketika menatapku dan menyadari ekspresiku berubah.
“Namaku Gavriel”, tambahnya lalu tersenyum. Aku tersentak ketika ia berbalik, karena baru menyadari penampilannya. Urak-urakkan, berantakkan sekali. Tapi sisanya, ia menarik dan tampan.

Kejadian itu terus berputar di otakku sejak tadi, aku tidak tahu sudah berapa lama aku mematung disini dan membiarkan ice creamku meleleh. Lagu itu sudah tak terdengar lagi. Kau tahu ? aku sangat berharap ia ada disini sekarang. Menemaniku memakan ice cream, menenangkanku setiap kali aku teringat pada sesuatu yang buruk atau yang membuatku sedih seperti yang biasa ia lakukan. Atau menggodaku setiap kali aku terlalu sibuk dengan bukuku. Seperti empat tahun yang lalu.

Aku sangat merindukannya. Ya, aku mengakui hal itu. Meski aku bukanlah orang yang mudah mengekspresikan perasaan dengan mengatakannya langsung atau menggambarkannya. Tapi, sekarang aku melakukannya. Aku tidak bisa terus menutupinya, perasaan rindu, kecewa, cemas, gelisah, terluka dan diatas semua perasaan itu, aku mencintainya, masih sangat mencintainya.

Namun, sekarang atau kapanpun bukanlah waktu yang tepat untuk mengumbar segala hal tentang perasaan. Apalagi ketika perasaan itu tak seharusnya masih ada disini. Perasaan itu seharusnya sudah ditanggalkan jauh sebelum hari ini, jauh sebelum lagu itu kembali dinyanyikan disini. Seandainya, melakukan hal itu semudah mempelajari buku-buku yang kubaca selama ini atau semudah menandatangani sebuah kontrak kerja, tentu, aku sudah melakukannya. Bahkan, sebelum semuanya dimulai, sebelum orang tuanya meneriakkan bahwa ia hanya akan menikah dengan seorang yang memiliki darah kebangsaan yang sama dengannya. Sebelum semua perbedaan tak terhitung yang membawa kami pada kenyataan bernama perpisahan.

Semua ini menyakitiku, menyakiti kami, sungguh. Memaksaku untuk melupakan satu-satunya rasa cinta yang pernah kumiliki. Tidak mungkin. Sekali lagi, aku berharap ia ada disini, memberiku sebuah tatapan menenangkan miliknya. Ia bahkan mengerti aku melebihi diriku sendiri. Aku mengerjapkan mata. Dengan air mata yang hampir merembes keluar, aku menatap jendela. Mataku bertemu dengan sebuah mata beriris coklat jernih yang sudah sangat kukenal, sebuah mata yang memberiku tatapan menenangkan.