Oh, baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I
Aku akan sangat menghargai jika bukan lagu itu yang tengah
diperdengarkan disini. Lagu itu terlalu mengingatkanku akan seseorang, akan
kenangan yang sungguh tak ingin sama sekali aku ingat-ingat lagi. Kenangan
dimana kenyataan berperan dengan sangat kejam dan waktu kehilangan
keanggunannya ketika kami tak bisa berakhir dalam sebuah persatuan.
Empat tahun yang lalu.
“Hey, bisakah kau berhenti berkutat dengan buku-buku itu ?
apa tak ada yang bisa membuatmu jatuh cinta selain buku ?”, waktu itu ia
berkata sambil menghampiriku.
“Ma’af”, jawabku singkat. Selain karena aku tak mengenalnya,
juga karena ia adalah orang pertama yang memprotes kebersamaanku dan buku.
“Tak apa, aku hanya heran pada orang sepertimu. Bagaimana
mungkin kau masih membaca padahal kau sudah mengetahui semuanya ?”
“Kurasa kau terlalu berlebihan”, aku tidak mengerti
maksudnya. Karena sungguh, buku adalah sumber pengetahuan paling berjassa dalam
hidupku.
“Seharusnya kau mengerti, bukankah kau pintar ?”, ia berkata
seolah barusaja membaca pikiranku. Aku merasa jengkel padanya karena orang
pintarpun tak akan selalu mengerti. Tapi selain itu, aku juga penasaran
padanya.
“Aku tidak mengambil fakultas pemecahan maksud-maksud
tersirat”, aku mengatakannya dengan nada datar.
“Tapi, bukankah fakultas Hukum banyak mengajarimu tentang
hal itu”, sekali lagi ia membuatku geram dan merasa penasaran pada saat yang
bersamaan. Mungkin aku akan mengatakan bahwa aku tidak menyukainya, tapi
setelah itu aku akan menambahkan bahwa ia orang yang menarik.
“Kurasa tidak seperti itu”, aku masih tenang.
“Tentu saja, karena kau tidak pernah melihat hal itu dari
kaca mata yang seharusnya”
“Apa itu pujian ?”, jawabku sarkastik sambil menatapnya
dingin. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongku untuk tetap disini, meladeni
ocehannya.
“Tentu, Nafalia”. Ia tahu namaku, mengherankan sekali.
“Senang berkenalan denganmu”, aku menutupi nada curigaku
dengan mengatakan hal itu walau aku belum tahu namanya.
“Aku akan kembali besok”, katanya. Ia sudah hampir beranjak
ketika menatapku dan menyadari ekspresiku berubah.
“Namaku Gavriel”, tambahnya lalu tersenyum. Aku tersentak ketika
ia berbalik, karena baru menyadari penampilannya. Urak-urakkan, berantakkan
sekali. Tapi sisanya, ia menarik dan tampan.
Kejadian itu terus berputar di otakku sejak tadi, aku tidak
tahu sudah berapa lama aku mematung disini dan membiarkan ice creamku meleleh.
Lagu itu sudah tak terdengar lagi. Kau tahu ? aku sangat berharap ia ada disini
sekarang. Menemaniku memakan ice cream, menenangkanku setiap kali aku teringat pada
sesuatu yang buruk atau yang membuatku sedih seperti yang biasa ia lakukan.
Atau menggodaku setiap kali aku terlalu sibuk dengan bukuku. Seperti empat
tahun yang lalu.
Aku sangat merindukannya. Ya, aku mengakui hal itu. Meski
aku bukanlah orang yang mudah mengekspresikan perasaan dengan mengatakannya
langsung atau menggambarkannya. Tapi, sekarang aku melakukannya. Aku tidak bisa
terus menutupinya, perasaan rindu, kecewa, cemas, gelisah, terluka dan diatas
semua perasaan itu, aku mencintainya, masih sangat mencintainya.
Namun, sekarang atau kapanpun bukanlah waktu yang tepat
untuk mengumbar segala hal tentang perasaan. Apalagi ketika perasaan itu tak
seharusnya masih ada disini. Perasaan itu seharusnya sudah ditanggalkan jauh
sebelum hari ini, jauh sebelum lagu itu kembali dinyanyikan disini. Seandainya,
melakukan hal itu semudah mempelajari buku-buku yang kubaca selama ini atau
semudah menandatangani sebuah kontrak kerja, tentu, aku sudah melakukannya.
Bahkan, sebelum semuanya dimulai, sebelum orang tuanya meneriakkan bahwa ia
hanya akan menikah dengan seorang yang memiliki darah kebangsaan yang sama
dengannya. Sebelum semua perbedaan tak terhitung yang membawa kami pada
kenyataan bernama perpisahan.
Semua ini menyakitiku, menyakiti kami, sungguh. Memaksaku
untuk melupakan satu-satunya rasa cinta yang pernah kumiliki. Tidak mungkin.
Sekali lagi, aku berharap ia ada disini, memberiku sebuah tatapan menenangkan
miliknya. Ia bahkan mengerti aku melebihi diriku sendiri. Aku mengerjapkan
mata. Dengan air mata yang hampir merembes keluar, aku menatap jendela. Mataku
bertemu dengan sebuah mata beriris coklat jernih yang sudah sangat kukenal,
sebuah mata yang memberiku tatapan menenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar