Sabtu, 08 Maret 2014

Sekali Lagi, Ini Tentang Kenangan


Oh, baby I’ll take you to the sky
Forever you and I, you and I

Aku akan sangat menghargai jika bukan lagu itu yang tengah diperdengarkan disini. Lagu itu terlalu mengingatkanku akan seseorang, akan kenangan yang sungguh tak ingin sama sekali aku ingat-ingat lagi. Kenangan dimana kenyataan berperan dengan sangat kejam dan waktu kehilangan keanggunannya ketika kami tak bisa berakhir dalam sebuah persatuan.
Empat tahun yang lalu.
“Hey, bisakah kau berhenti berkutat dengan buku-buku itu ? apa tak ada yang bisa membuatmu jatuh cinta selain buku ?”, waktu itu ia berkata sambil menghampiriku.
“Ma’af”, jawabku singkat. Selain karena aku tak mengenalnya, juga karena ia adalah orang pertama yang memprotes kebersamaanku dan buku.
“Tak apa, aku hanya heran pada orang sepertimu. Bagaimana mungkin kau masih membaca padahal kau sudah mengetahui semuanya ?”
“Kurasa kau terlalu berlebihan”, aku tidak mengerti maksudnya. Karena sungguh, buku adalah sumber pengetahuan paling berjassa dalam hidupku.
“Seharusnya kau mengerti, bukankah kau pintar ?”, ia berkata seolah barusaja membaca pikiranku. Aku merasa jengkel padanya karena orang pintarpun tak akan selalu mengerti. Tapi selain itu, aku juga penasaran padanya.
“Aku tidak mengambil fakultas pemecahan maksud-maksud tersirat”, aku mengatakannya dengan nada datar.
“Tapi, bukankah fakultas Hukum banyak mengajarimu tentang hal itu”, sekali lagi ia membuatku geram dan merasa penasaran pada saat yang bersamaan. Mungkin aku akan mengatakan bahwa aku tidak menyukainya, tapi setelah itu aku akan menambahkan bahwa ia orang yang menarik.
“Kurasa tidak seperti itu”, aku masih tenang.
“Tentu saja, karena kau tidak pernah melihat hal itu dari kaca mata yang seharusnya”
“Apa itu pujian ?”, jawabku sarkastik sambil menatapnya dingin. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongku untuk tetap disini, meladeni ocehannya.
“Tentu, Nafalia”. Ia tahu namaku, mengherankan sekali.
“Senang berkenalan denganmu”, aku menutupi nada curigaku dengan mengatakan hal itu walau aku belum tahu namanya.
“Aku akan kembali besok”, katanya. Ia sudah hampir beranjak ketika menatapku dan menyadari ekspresiku berubah.
“Namaku Gavriel”, tambahnya lalu tersenyum. Aku tersentak ketika ia berbalik, karena baru menyadari penampilannya. Urak-urakkan, berantakkan sekali. Tapi sisanya, ia menarik dan tampan.

Kejadian itu terus berputar di otakku sejak tadi, aku tidak tahu sudah berapa lama aku mematung disini dan membiarkan ice creamku meleleh. Lagu itu sudah tak terdengar lagi. Kau tahu ? aku sangat berharap ia ada disini sekarang. Menemaniku memakan ice cream, menenangkanku setiap kali aku teringat pada sesuatu yang buruk atau yang membuatku sedih seperti yang biasa ia lakukan. Atau menggodaku setiap kali aku terlalu sibuk dengan bukuku. Seperti empat tahun yang lalu.

Aku sangat merindukannya. Ya, aku mengakui hal itu. Meski aku bukanlah orang yang mudah mengekspresikan perasaan dengan mengatakannya langsung atau menggambarkannya. Tapi, sekarang aku melakukannya. Aku tidak bisa terus menutupinya, perasaan rindu, kecewa, cemas, gelisah, terluka dan diatas semua perasaan itu, aku mencintainya, masih sangat mencintainya.

Namun, sekarang atau kapanpun bukanlah waktu yang tepat untuk mengumbar segala hal tentang perasaan. Apalagi ketika perasaan itu tak seharusnya masih ada disini. Perasaan itu seharusnya sudah ditanggalkan jauh sebelum hari ini, jauh sebelum lagu itu kembali dinyanyikan disini. Seandainya, melakukan hal itu semudah mempelajari buku-buku yang kubaca selama ini atau semudah menandatangani sebuah kontrak kerja, tentu, aku sudah melakukannya. Bahkan, sebelum semuanya dimulai, sebelum orang tuanya meneriakkan bahwa ia hanya akan menikah dengan seorang yang memiliki darah kebangsaan yang sama dengannya. Sebelum semua perbedaan tak terhitung yang membawa kami pada kenyataan bernama perpisahan.

Semua ini menyakitiku, menyakiti kami, sungguh. Memaksaku untuk melupakan satu-satunya rasa cinta yang pernah kumiliki. Tidak mungkin. Sekali lagi, aku berharap ia ada disini, memberiku sebuah tatapan menenangkan miliknya. Ia bahkan mengerti aku melebihi diriku sendiri. Aku mengerjapkan mata. Dengan air mata yang hampir merembes keluar, aku menatap jendela. Mataku bertemu dengan sebuah mata beriris coklat jernih yang sudah sangat kukenal, sebuah mata yang memberiku tatapan menenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar