Sabtu, 08 Maret 2014

Binar Mata Milik Langit


Aku melihatnya disana. Ia sedang tertawa gembira bersama teman-temannya sambil sesekali menangkap atau melempar bola.
“Gio, gue sekarang jarang ngeliat lo jalan ama Nadine”, ucap salah satu temannya. Aku yang memang berdiri tak terlalu jauh dari mereka sayup-sayup dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka membicarakanku.
“Yah, dia sekarang lagi sibuk-sibuknya bantuin mamanya, tahulah”, jawabnya.
“Gue salut ama lo, kayaknya lo sayang banget ama dia”, salah satu temannya berucap lagi.
“Gak cuma sayang, gue cinta banget sama dia. Dia itu kehidupan gue”
“Gue lihat dianya juga cinta sama lo”
Ya. Kalian benar. Aku juga mencintainya, bahkan mungkin lebih dari ia mencintaiku. Tapi, adakah kalian mengerti bahwa aku harus segera mengakhiri semuanya ? Aku sendiri tidak tahu apa aku bisa melakukannya. Tapi, aku harus melakukannya.
Tuhan, tolong kuatkan aku sekarang. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Aku tidak ingin meangkhiri apapun. Dan bisakah beri aku pilihan lain ? bisakah buat ia lupa bahwa ia pernah kenal dan mencintaiku ?. Aku ingin bertahan walau harus dengan kesakitan asal bisa terus melihatnya bahagia. Aku mohon Tuhan, biarkan kesempatan berpihak kepadaku sekali ini saja. Egoiskah jika aku memohon pada-Mu untuk hidup lebih lama lagi ? untuk bisa merasa bahagia bersama orang yang aku cintai. Tapi setidaknya, buat ia selalu bahagia walau nanti aku tak lagi bisa bersamanya. Aku mohon Tuhan, karena aku mencintainya dan akan selalu mencintainya.

Aku mendongak karena merasa sesuatu yang dingin mengalir dari hidungku dan kakiku melemas. Aku tahu apa itu, aku sudah terbiasa. Ini artinya, jika darah itu sudah mengalir aku harus segeramenyudahi segala kegiatanku, termasuk memandangnya dari tempatku berdiri.
Sekali lagi, dengan darah yang masih mengalir dari hidungku, aku menatapnya. Ia sedang tersenyum sekarang, sambil memainkan bola di tangannya. Aku menatap wajah itu lekat-lekat. Menyusuri sedikit demi sedikit garis-garis tegas wajahnya, lengkung demi lengkung yang terpeta sempurna disana. Mata dan senyum itu adalah salah satu yang membuatku bertahan selama ini. Aku tidak tahu kapan aku akan meninggalkannya. Tapi, yang jelas tidak akan lama lagi. Kakiku semakin terasa lemas, aku tidak ingin pingsan disini. Dan dengan langkah yang dipaksa aku beranjak dari tempat itu sambil merogoh saku mencari saputangan untuk menyeka darah. Aku harus segera sampai di rumah.
***
Bersama hembusan angin yang pelan aku menunggunya di sini. Di sebuah kursi tua di taman yang tak ramai ini. Aku melirik arlojiku, ia sudah 15 menit terlambat. Tepat saat aku mengedarkan pandang kembali ke depan aku melihat sosoknya yang sedang berdiri di depanku. Aku terpaku, ia sangat tampan hari ini. Aku masih menatapnya. Aku ingin selalu mengingat garis-garis wajahnya, binar-binar hangat di matanya. Tak ingin melupakan apapun dan sedikitpun tentangnya. Mataku berkaca. Ia menaikkan sebelah alisnya, sepertinya memahami arti tatapanku bahwa aku ingin selalu mengingatnya.
Aku tidak tahu apa yang membawa kakiku bergerak hingga langsung memeluknya dan menumpahkan segala tangisku di bahunya. Ia terkejut, aku yakin. Tapi, dengan sigap ia menyambut tubuhku, memberiku rasa nyaman saat bersandar padanya.
Bisakah waktu berhenti sekarang ? berhenti berputar untuk selamanya dan membiarkanku terus seperti ini. Aku tidak ingin melepas pelukkan yang memberiku rasa nyaman, kehangatan dan segala yang kubutuhkan. Biarkan aku terus di sini, bersamanya, merasakan degup jantung yang menyatu dan aliran darah yang menderu. Bisakah ?
Tuhan, ini yang terakhir, aku mohon bahagiakanlah selalu laki-laki yang saat ini kupeluk, laki-laki yang sangat aku cintai.
“Ada apa ?”
Bersama ucapan itu, aku merasa kakiku mulai melemas. Tak memberiku izin untuk memeluknya lebih lama lagi.Aku melepaskan diri darinya. Aku menatap langsung ke matanya. Ia seolah berkata semua-akan-baik-baik-saja melalui tatapannya. Matanya tenang persis seperti langit di atas. Binarnyapun tak ubah awan yang menghiasi langit. Memberi kehangatan sekaligus kedamaian pada siapapun yang menatapnya. Entah bagaimana, mata itu membawaku pada ketenangan yang hangat. Ketenangan yang sulit di jelaskan.
“Bisakah kita mengakhiri semuanya sekarang ?”, aku berkata tanpa berani menatapnya lagi.
“Dan bisakah beri aku alasan ?”, ia menjawab dengan nada yang tak kalah tenang dari matanya.
“Aku tidak punya alasan sama sekali”, aku masih tak berani menatapnya.
“Jadi, kenapa kau ingin melakukannya ?”, suaranya terdengar sangat dalam.
“Karena aku harus melakukannya”
“Kau yakin ini yang terbaik ?”
Sekali lagi, mataku berkaca dan aku menatapnya. Mungkin untuk yang terakhir, karena bersama tatapan itu aku mengangguk.
Tiba-tiba ia melangkah mendekatiku. Lalu, menangkupkan kedua tangannya di wajahku dan mengusap sisa-sisa air mata.
“Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu”, ia berkata dengan suara bergetar. Selama sepersekian detik ia menatapku. Kemudian tesenyum dan melepas kedua tangannya dari wajahku. Perlahan, lagi-lagi, bersama hembusan angin yang pelan ia melangkah meninggalkanku.
Aku hanya menatap siluet tubuhnya yang mulai menjauh dengan kepala dan hati yang sama sakitnya. Tanganku meremas sebuah kertas dari dalam saku jaketku. Kertas yang sebenarnya ingin ku tunjukkan padanya sebagai alasan. Kertas hasil diagnosa dokter, yang memvonis bahwa aku akan meninggal beberapa hari lagi bersama Leukemia yang kuderita. Juga cinta untuknya. Aku lalu mendongak menatap langit. Langit di atas terlihat tenang dan damai persis seperti matanya. Ada banyak awan putih yang menghiasinya seperti binar matanya pula. Apa aku akan tinggal di sana nantinya ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar