Aku melihatnya disana. Ia sedang tertawa gembira bersama
teman-temannya sambil sesekali menangkap atau melempar bola.
“Gio, gue sekarang jarang ngeliat lo jalan ama Nadine”, ucap
salah satu temannya. Aku yang memang berdiri tak terlalu jauh dari mereka sayup-sayup
dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka membicarakanku.
“Yah, dia sekarang lagi sibuk-sibuknya bantuin mamanya,
tahulah”, jawabnya.
“Gue salut ama lo, kayaknya lo sayang banget ama dia”, salah
satu temannya berucap lagi.
“Gak cuma sayang, gue cinta banget sama dia. Dia itu
kehidupan gue”
“Gue lihat dianya juga cinta sama lo”
Ya. Kalian benar. Aku juga mencintainya, bahkan mungkin
lebih dari ia mencintaiku. Tapi, adakah kalian mengerti bahwa aku harus segera
mengakhiri semuanya ? Aku sendiri tidak tahu apa aku bisa melakukannya. Tapi,
aku harus melakukannya.
Tuhan, tolong kuatkan aku sekarang. Aku bahkan tidak tahu
bagaimana cara melakukannya. Aku tidak ingin meangkhiri apapun. Dan bisakah
beri aku pilihan lain ? bisakah buat ia lupa bahwa ia pernah kenal dan
mencintaiku ?. Aku ingin bertahan walau harus dengan kesakitan asal bisa terus
melihatnya bahagia. Aku mohon Tuhan, biarkan kesempatan berpihak kepadaku
sekali ini saja. Egoiskah jika aku memohon pada-Mu untuk hidup lebih lama lagi
? untuk bisa merasa bahagia bersama orang yang aku cintai. Tapi setidaknya,
buat ia selalu bahagia walau nanti aku tak lagi bisa bersamanya. Aku mohon
Tuhan, karena aku mencintainya dan akan selalu mencintainya.
Aku mendongak karena merasa sesuatu yang dingin mengalir
dari hidungku dan kakiku melemas. Aku tahu apa itu, aku sudah terbiasa. Ini
artinya, jika darah itu sudah mengalir aku harus segeramenyudahi segala
kegiatanku, termasuk memandangnya dari tempatku berdiri.
Sekali lagi, dengan darah yang masih mengalir dari hidungku,
aku menatapnya. Ia sedang tersenyum sekarang, sambil memainkan bola di
tangannya. Aku menatap wajah itu lekat-lekat. Menyusuri sedikit demi sedikit
garis-garis tegas wajahnya, lengkung demi lengkung yang terpeta sempurna
disana. Mata dan senyum itu adalah salah satu yang membuatku bertahan selama
ini. Aku tidak tahu kapan aku akan meninggalkannya. Tapi, yang jelas tidak akan
lama lagi. Kakiku semakin terasa lemas, aku tidak ingin pingsan disini. Dan
dengan langkah yang dipaksa aku beranjak dari tempat itu sambil merogoh saku
mencari saputangan untuk menyeka darah. Aku harus segera sampai di rumah.
***
Bersama hembusan angin yang pelan aku menunggunya di sini.
Di sebuah kursi tua di taman yang tak ramai ini. Aku melirik arlojiku, ia sudah
15 menit terlambat. Tepat saat aku mengedarkan pandang kembali ke depan aku
melihat sosoknya yang sedang berdiri di depanku. Aku terpaku, ia sangat tampan
hari ini. Aku masih menatapnya. Aku ingin selalu mengingat garis-garis
wajahnya, binar-binar hangat di matanya. Tak ingin melupakan apapun dan
sedikitpun tentangnya. Mataku berkaca. Ia menaikkan sebelah alisnya, sepertinya
memahami arti tatapanku bahwa aku ingin selalu mengingatnya.
Aku tidak tahu apa yang membawa kakiku bergerak hingga
langsung memeluknya dan menumpahkan segala tangisku di bahunya. Ia terkejut,
aku yakin. Tapi, dengan sigap ia menyambut tubuhku, memberiku rasa nyaman saat
bersandar padanya.
Bisakah waktu berhenti sekarang ? berhenti berputar untuk
selamanya dan membiarkanku terus seperti ini. Aku tidak ingin melepas pelukkan
yang memberiku rasa nyaman, kehangatan dan segala yang kubutuhkan. Biarkan aku
terus di sini, bersamanya, merasakan degup jantung yang menyatu dan aliran
darah yang menderu. Bisakah ?
Tuhan, ini yang terakhir, aku mohon bahagiakanlah selalu
laki-laki yang saat ini kupeluk, laki-laki yang sangat aku cintai.
“Ada apa ?”
Bersama ucapan itu, aku merasa kakiku mulai melemas. Tak
memberiku izin untuk memeluknya lebih lama lagi.Aku melepaskan diri darinya.
Aku menatap langsung ke matanya. Ia seolah berkata semua-akan-baik-baik-saja
melalui tatapannya. Matanya tenang persis seperti langit di atas. Binarnyapun
tak ubah awan yang menghiasi langit. Memberi kehangatan sekaligus kedamaian
pada siapapun yang menatapnya. Entah bagaimana, mata itu membawaku pada
ketenangan yang hangat. Ketenangan yang sulit di jelaskan.
“Bisakah kita mengakhiri semuanya sekarang ?”, aku berkata
tanpa berani menatapnya lagi.
“Dan bisakah beri aku alasan ?”, ia menjawab dengan nada
yang tak kalah tenang dari matanya.
“Aku tidak punya alasan sama sekali”, aku masih tak berani
menatapnya.
“Jadi, kenapa kau ingin melakukannya ?”, suaranya terdengar
sangat dalam.
“Karena aku harus melakukannya”
“Kau yakin ini yang terbaik ?”
Sekali lagi, mataku berkaca dan aku menatapnya. Mungkin
untuk yang terakhir, karena bersama tatapan itu aku mengangguk.
Tiba-tiba ia melangkah mendekatiku. Lalu, menangkupkan kedua
tangannya di wajahku dan mengusap sisa-sisa air mata.
“Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu”, ia berkata
dengan suara bergetar. Selama sepersekian detik ia menatapku. Kemudian tesenyum
dan melepas kedua tangannya dari wajahku. Perlahan, lagi-lagi, bersama hembusan
angin yang pelan ia melangkah meninggalkanku.
Aku hanya menatap siluet tubuhnya yang mulai menjauh dengan
kepala dan hati yang sama sakitnya. Tanganku meremas sebuah kertas dari dalam
saku jaketku. Kertas yang sebenarnya ingin ku tunjukkan padanya sebagai alasan.
Kertas hasil diagnosa dokter, yang memvonis bahwa aku akan meninggal beberapa
hari lagi bersama Leukemia yang kuderita. Juga cinta untuknya. Aku lalu
mendongak menatap langit. Langit di atas terlihat tenang dan damai persis
seperti matanya. Ada banyak awan putih yang menghiasinya seperti binar matanya
pula. Apa aku akan tinggal di sana nantinya ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar