“Argghhhh!! Sial!!”, rutukku sambil melangkah dan menendangi
udara atau benda apapun yang ada dengan geram. Hari ini benar-benar buruk.
Bagaimana tidak, aku baru saja tak kebagian ice cream favoriteku, lau tadi pagi
aku bertemu dengan si Idiot-Marcel-Bekicot, kemudian aku di tunjuk sebagai
sekretaris dalam acara ‘Kita Perduli’ di sekolahku dengan Marcel idiot sebagai
ketua. Dan sekarang aku melampiaskannya dengan menendang sebuah botol kosong di
depanku.
“Ouchh!!”, seru seseorang yang tak berada jauh di depanku sambil
memegangi kepala, sepertinya botol tadi mengenai kepalanya. Baiklah, sebagai
seorang gadis yang sopan dan bertatakrama aku langsung menghampiri laki-laki
itu.”Ma’af”, ucapku pelan namun jelas. Laki-laki itu berbalik.
“KAMU!!LAGI!!”, aku membentak dan setengah berteriak
padanya. Karena laki-laki itu adalah Bekicot-Idiot-Marcel. Sial. Benar-benar
sial.
“Hey! Seharusnya aku yang berteriak karena botol itu
mengenai kepalaku”, jawabnya dengan seringai khasnya. Menjijikan. Aku sangat
membenci seringai itu.
“Kau pantas menerimanya karena kau selalu menggangguku!”.
Benar. Selama hampir tiga tahun terahir ia selalu menjadi pengganggu dalam
hidupku. Mengikutiku seperti bodyguard, selalu menyapaku, add Facebookku,
follow Twitter dan Ig-ku, invite pinku, di tahun pertama. Lalu, mulai
menyatakan cinta, merayuku dan selalu mengatakan berbagai hal yang sangat amat
berlebihan untuk menjagaku di tahun kedua. Dan sekarang, ia selalu menyapaku di
tiap kesempatan, melakukan berbagai cara
agar bisa bersamaku, bahkan hampir tiap hari minggu ia bertandang ke rumahku
dengan dalih mengerjakan PR. Benar-benar memuakkan.
“Aku tidak pernah mengganggumu. Justru kau yang selalu
mengganggu hati dan pikiranku”, ia menjawab dengan seringaian yang bertambah
lebar. Bekicot sialan!!
“KAUU!!ARGGGGHH”, aku benar-benar geram dengan tingkah
lakunya. Tidak ingin menambah catatan buruk hari ini dengan menonjok seseorang
–walau orang itu sangat pantas mendapatkannya— aku beranjak meninggalkannya
dengan langkah besar-besar dan kemarahan tertahan.
“DON’T FOLLOW ME!!”, aku meneriakkinya lalu berlari.
***
Perjalanan kami menuju pengungsian berjalan lancar dan tak
terhalang suatu apapun—syukurlah—meski memakan waktu hingga empat jam
perjalanan. Kami berjumlah 25 orang termasuk kepala sekolah. Setelah sampai,
kami semua bergegas untuk menurunkan kardus-kardus yang berisi barang yang akan
kami sumbangkan.
“Aku akan dengan senang hati mengakui kehebatanmu, jika kau
bisa mengangkat kardus itu sendiri, Lady”, aku mendengar Marcel idiot berkata
sambil berjalan ke arahku. Aku benar-benar merasa bodoh. Bagaimana mungkin aku
berniat mengangkat kardus yang dari dilihat saja sudah dapat di ketahui dengan
pasti bahwa kardus itu berat. Ralat, sangat berat. Dan well, ia memanggilku
Lady. Sebenanya aku tak keberatan dengan panggilan itu, karena Lady merupakan
salah satu gelar kebangsawanan di Inggris. Aku menatapnya bego.
Ia hanya tersenyum miring lalu mengulurkan kedua tangan dan
membantuku mengangkat kardus itu. Sejenak, tak ada yang bicara diantara kami. Aku
takjub kali ini. Sungguh, aku benar-benar takjub karena kami bisa membawa
kardus itu hingga tempat penyerahan tanpa bertengkar atau berteriak. Sebuah
keajaiban. Sudah jam 11 siang saat kami sampai di tempat Kepala Sekolah berdiri
dan bebincang dengan seseorang yang sepertinya Kepala Desa, sedangkan siswa
lain sudah terlihat berhamburan. Penyerahan sendiri akan di adakan setelah
makan siang sepertinya.
“Tell everyone that they must here before lunch”, aku
berkata padanya. Astaga. Aku baru sadar, aku berbicara pada bekicot. Bagaimana
mungkin-
“As you wish my Lady”, ia memotong pergulatan batinku, lalu
menundukkan kepala dengan sopan seolah seorang Prince. Sebelum beranjak aku
sempat melihat senyum miring itu lagi di wajahnya. Idiot. Tapi, aku sendiri
tidak tahu apa yang membuatku hingga bisa tersenyum padanya. Sepertinya, dunia
sedang jungkir-balik sekarang.
Setelah melewati beberapa jam yang menyenangkan—dan
melelahkan—dengan bermain bersama anak-anak, kami berpamitan dan siswa lain
segera berebut menaikki bus. Aku, bekicot dan Kepala Sekolah adalah orang
terakhir yang menaikki bus. Lalu, seakan tak cukup kelelahan yang ku dapat hari
ini, aku harus berdebat dan setengah bertengkar (lagi) dengan Marcel idiot.
Hingga akhirnya, aku benar-benar terpaksa duduk di sebelah
bekicot-idiot-Marcel. Bagian terburuk dari perjalanan, aku yakin.
Sejauh ini, tak ada yang berbicara diantara kami. Udarapun
masih dipenuhi ketegangan atas perdebatan kami tadi, di tambah lagi dengan
udara dingin yang semakin menyeruak menembus tembok-tembok hangat yang sudah
kubangun. Tapi kelelahan, membuatku tak banyak berpikir mengenai kedinginan
atau hal lain. Dalam waktu kurang dari 2 menit, mataku mengatup, gelap. Aku
tertidur.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Tapi yang
jelas, aku terbangun karena merasa perutku lapar. Dengan malas aku membuka
mata. Tatapanku langsung terarah pada sebuah wajah yang bahunya kujadikan
tempat bersandar dengan nyaman. Marcel. Aku luar biasa terkejut dan hampir
melompat, sebelum sebuah tangan menahanku. Aku menatapnya, ia membalas
tatapanku seolah memberi isyarat agar tetap tenang. Didalam dadaku berpacu
keras, aku gugup—entah kenapa—dan masih belum bisa mempercayai apa yang
kulihat. Ia mengedarkan pandang kedepan. Lalu aku sadar, semua orang sedang
tertidur lelap, kecuali kami dan supir bus. Ia menatapku lagi, tapi kali ini
bukan tatapan yang mengisyaratkan untuk tetap tenang. Melainkan tatapan lembut
dan aman, yang seumur-umur baru pernah kudapat darinya. Aku menghela nafas,
lalu mengangguk sekali. Ini bukan berarti peperangan diantara kami, Jenica dan
Marcel berakhir. Marcel tetaplah bekicot idiot.
Aku lalu menyadari ada sesuatu di atas tubuhku yang
membuatku tetap hangat selama tertidur. Sebuah jaket dengan aroma musk yang
tercium hingga hidungku. Tidak terlalu menyengat, tapi dapat tercium karena
memang jaket itu menempel ditubuhku. Bekicot. Jaket ini miliknya. Bekicot
Marcel. Aku memberinya tatapan dingin dan sinis, ia hanya mengangkat sebelah
alisnya. Tapi hal itu, benar-benar keren dan membuatnya terlihat ta—hey!aku tak
akan memujinya—idiot, maksudku. Aku menggeleng pasrah. Tiba-tiba ia menawariku
sebuah roti, aku memalingkan muka—sebenarnya aku lapar, tapi gengsi untuk
menerimanya.
“Terserah saja, kalau ingin menahan lapar, yang jelas
perjalanan kita masih jauh”, bisiknya. Aku memelototinya. Ia menampilkan
cengiran itu lagi. Cengiran idiot. Dalam sedetik, hilang sudah sisi keren yang
kulihat darinya tadi.
“Aku membencimu”, ucapku dengan pelan, namun aku yakin masih
bisa didengar.
“Aku tahu, kau sudah mengucapkannya ribuan lagi”, jawabnya
santai.
“Aku mencintaimu”, katanya lagi dengan nada yang terkesan
sungguh-sungguh. Aku tahu ia memang bersungguh-sungguh padaku.
“Dan aku juga sudah sering mendengarnya darimu”—ya, bahkan
jutaan kali. Aku memandang kaca bus yang sebenarnya tak menarik sama sekali,
tapi aku tak punya pilihan.
“Kau tahu, kau benar-benar terlihat damai saat tidur”, ia
berkata dengan nada yang melembut.
“Semua orang seperti itu”, jawabku ketus.
“Ya, tapi kau memiliki daya tarik sendiri bahkan saat
tidur”. Aku heran kenapa aku tak berteriak sekarang. Mungkin karena nada dan
suasana hangat yang entah bagaimana bisa tercipta diantara kami.
“Tentu saja, karena aku memang cantik”, jawabku asal.
“Aku mengakui hai itu. Tapi sungguh, aku mencintaimu bukan
karena hal itu”, ia masih menggunakan nada lembut.
“Alasannya ?”, lagi-lagi aku menjawab asal. Tapi aku tidak
akan menutupi bahwa aku sedang merasa nyaman dan bahagia seketika.
“Tatap aku”, katanya dengan nada yang lebih tegas. Aku jelas
mengindahkannya. Aku takkan mau melakukan perintahnya. Tiba-tiba, tangannya
menggenggam lalu meremas pelan tanganku. Ya Tuhan, tangannya dingin sekali. Ia
pasti kedinginan. Aku mendadak merasa bersalah karena jaketnya menempel
ditubuhku. Aku mengerti sekarang, ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Cara
yang takkan kutemukan pada orang lain.
Aku menatapnya, mata kami bertemu. Aku menemukan rasa hangat
yang nyaman itu lagi. Entah dari matanya atau genggamannya. Tapi yang jelas,
aku tahu ini darinya.
“Aku tak punya alasan untuk tidak mencintaimu”, ia berkata
sangat pelan.
Aku tersenyum lalu mengangguk. “Ajaib sekali, kita tidak
bertengkar”, aku menggodanya.
“Takkan lagi mulai sekarang. Tapi, aku tidak janji”, ucapnya
dengan seringai itu lagi. Lalu, menyodorkan roti yang sejak tadi ditangannya.
Aku menerimanya lalu memakannya. Dan ralat lagi, ini adalah bagian perjalanan
terbaik.
Terima kasih waktu, malam dan perjalanan. Terima kasih untuk
udara dingin dan kesunyian. Juga untuk aroma musknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar