Sabtu, 08 Maret 2014

Bersama Gelap


“Argghhhh!! Sial!!”, rutukku sambil melangkah dan menendangi udara atau benda apapun yang ada dengan geram. Hari ini benar-benar buruk. Bagaimana tidak, aku baru saja tak kebagian ice cream favoriteku, lau tadi pagi aku bertemu dengan si Idiot-Marcel-Bekicot, kemudian aku di tunjuk sebagai sekretaris dalam acara ‘Kita Perduli’ di sekolahku dengan Marcel idiot sebagai ketua. Dan sekarang aku melampiaskannya dengan menendang sebuah botol kosong di depanku.
“Ouchh!!”, seru seseorang yang tak berada jauh di depanku sambil memegangi kepala, sepertinya botol tadi mengenai kepalanya. Baiklah, sebagai seorang gadis yang sopan dan bertatakrama aku langsung menghampiri laki-laki itu.”Ma’af”, ucapku pelan namun jelas. Laki-laki itu berbalik.
“KAMU!!LAGI!!”, aku membentak dan setengah berteriak padanya. Karena laki-laki itu adalah Bekicot-Idiot-Marcel. Sial. Benar-benar sial.
“Hey! Seharusnya aku yang berteriak karena botol itu mengenai kepalaku”, jawabnya dengan seringai khasnya. Menjijikan. Aku sangat membenci seringai itu.
“Kau pantas menerimanya karena kau selalu menggangguku!”. Benar. Selama hampir tiga tahun terahir ia selalu menjadi pengganggu dalam hidupku. Mengikutiku seperti bodyguard, selalu menyapaku, add Facebookku, follow Twitter dan Ig-ku, invite pinku, di tahun pertama. Lalu, mulai menyatakan cinta, merayuku dan selalu mengatakan berbagai hal yang sangat amat berlebihan untuk menjagaku di tahun kedua. Dan sekarang, ia selalu menyapaku di tiap  kesempatan, melakukan berbagai cara agar bisa bersamaku, bahkan hampir tiap hari minggu ia bertandang ke rumahku dengan dalih mengerjakan PR. Benar-benar memuakkan.
“Aku tidak pernah mengganggumu. Justru kau yang selalu mengganggu hati dan pikiranku”, ia menjawab dengan seringaian yang bertambah lebar. Bekicot sialan!!
“KAUU!!ARGGGGHH”, aku benar-benar geram dengan tingkah lakunya. Tidak ingin menambah catatan buruk hari ini dengan menonjok seseorang –walau orang itu sangat pantas mendapatkannya— aku beranjak meninggalkannya dengan langkah besar-besar dan kemarahan tertahan.
“DON’T FOLLOW ME!!”, aku meneriakkinya lalu berlari.
***
Perjalanan kami menuju pengungsian berjalan lancar dan tak terhalang suatu apapun—syukurlah—meski memakan waktu hingga empat jam perjalanan. Kami berjumlah 25 orang termasuk kepala sekolah. Setelah sampai, kami semua bergegas untuk menurunkan kardus-kardus yang berisi barang yang akan kami sumbangkan.
“Aku akan dengan senang hati mengakui kehebatanmu, jika kau bisa mengangkat kardus itu sendiri, Lady”, aku mendengar Marcel idiot berkata sambil berjalan ke arahku. Aku benar-benar merasa bodoh. Bagaimana mungkin aku berniat mengangkat kardus yang dari dilihat saja sudah dapat di ketahui dengan pasti bahwa kardus itu berat. Ralat, sangat berat. Dan well, ia memanggilku Lady. Sebenanya aku tak keberatan dengan panggilan itu, karena Lady merupakan salah satu gelar kebangsawanan di Inggris. Aku menatapnya bego.
Ia hanya tersenyum miring lalu mengulurkan kedua tangan dan membantuku mengangkat kardus itu. Sejenak, tak ada yang bicara diantara kami. Aku takjub kali ini. Sungguh, aku benar-benar takjub karena kami bisa membawa kardus itu hingga tempat penyerahan tanpa bertengkar atau berteriak. Sebuah keajaiban. Sudah jam 11 siang saat kami sampai di tempat Kepala Sekolah berdiri dan bebincang dengan seseorang yang sepertinya Kepala Desa, sedangkan siswa lain sudah terlihat berhamburan. Penyerahan sendiri akan di adakan setelah makan siang sepertinya.
“Tell everyone that they must here before lunch”, aku berkata padanya. Astaga. Aku baru sadar, aku berbicara pada bekicot. Bagaimana mungkin-
“As you wish my Lady”, ia memotong pergulatan batinku, lalu menundukkan kepala dengan sopan seolah seorang Prince. Sebelum beranjak aku sempat melihat senyum miring itu lagi di wajahnya. Idiot. Tapi, aku sendiri tidak tahu apa yang membuatku hingga bisa tersenyum padanya. Sepertinya, dunia sedang jungkir-balik sekarang.
Setelah melewati beberapa jam yang menyenangkan—dan melelahkan—dengan bermain bersama anak-anak, kami berpamitan dan siswa lain segera berebut menaikki bus. Aku, bekicot dan Kepala Sekolah adalah orang terakhir yang menaikki bus. Lalu, seakan tak cukup kelelahan yang ku dapat hari ini, aku harus berdebat dan setengah bertengkar (lagi) dengan Marcel idiot. Hingga akhirnya, aku benar-benar terpaksa duduk di sebelah bekicot-idiot-Marcel. Bagian terburuk dari perjalanan, aku yakin.
Sejauh ini, tak ada yang berbicara diantara kami. Udarapun masih dipenuhi ketegangan atas perdebatan kami tadi, di tambah lagi dengan udara dingin yang semakin menyeruak menembus tembok-tembok hangat yang sudah kubangun. Tapi kelelahan, membuatku tak banyak berpikir mengenai kedinginan atau hal lain. Dalam waktu kurang dari 2 menit, mataku mengatup, gelap. Aku tertidur.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Tapi yang jelas, aku terbangun karena merasa perutku lapar. Dengan malas aku membuka mata. Tatapanku langsung terarah pada sebuah wajah yang bahunya kujadikan tempat bersandar dengan nyaman. Marcel. Aku luar biasa terkejut dan hampir melompat, sebelum sebuah tangan menahanku. Aku menatapnya, ia membalas tatapanku seolah memberi isyarat agar tetap tenang. Didalam dadaku berpacu keras, aku gugup—entah kenapa—dan masih belum bisa mempercayai apa yang kulihat. Ia mengedarkan pandang kedepan. Lalu aku sadar, semua orang sedang tertidur lelap, kecuali kami dan supir bus. Ia menatapku lagi, tapi kali ini bukan tatapan yang mengisyaratkan untuk tetap tenang. Melainkan tatapan lembut dan aman, yang seumur-umur baru pernah kudapat darinya. Aku menghela nafas, lalu mengangguk sekali. Ini bukan berarti peperangan diantara kami, Jenica dan Marcel berakhir. Marcel tetaplah bekicot idiot.
Aku lalu menyadari ada sesuatu di atas tubuhku yang membuatku tetap hangat selama tertidur. Sebuah jaket dengan aroma musk yang tercium hingga hidungku. Tidak terlalu menyengat, tapi dapat tercium karena memang jaket itu menempel ditubuhku. Bekicot. Jaket ini miliknya. Bekicot Marcel. Aku memberinya tatapan dingin dan sinis, ia hanya mengangkat sebelah alisnya. Tapi hal itu, benar-benar keren dan membuatnya terlihat ta—hey!aku tak akan memujinya—idiot, maksudku. Aku menggeleng pasrah. Tiba-tiba ia menawariku sebuah roti, aku memalingkan muka—sebenarnya aku lapar, tapi gengsi untuk menerimanya.
“Terserah saja, kalau ingin menahan lapar, yang jelas perjalanan kita masih jauh”, bisiknya. Aku memelototinya. Ia menampilkan cengiran itu lagi. Cengiran idiot. Dalam sedetik, hilang sudah sisi keren yang kulihat darinya tadi.
“Aku membencimu”, ucapku dengan pelan, namun aku yakin masih bisa didengar.
“Aku tahu, kau sudah mengucapkannya ribuan lagi”, jawabnya santai.
“Aku mencintaimu”, katanya lagi dengan nada yang terkesan sungguh-sungguh. Aku tahu ia memang bersungguh-sungguh padaku.
“Dan aku juga sudah sering mendengarnya darimu”—ya, bahkan jutaan kali. Aku memandang kaca bus yang sebenarnya tak menarik sama sekali, tapi aku tak punya pilihan.
“Kau tahu, kau benar-benar terlihat damai saat tidur”, ia berkata dengan nada yang melembut.
“Semua orang seperti itu”, jawabku ketus.
“Ya, tapi kau memiliki daya tarik sendiri bahkan saat tidur”. Aku heran kenapa aku tak berteriak sekarang. Mungkin karena nada dan suasana hangat yang entah bagaimana bisa tercipta diantara kami.
“Tentu saja, karena aku memang cantik”, jawabku asal.
“Aku mengakui hai itu. Tapi sungguh, aku mencintaimu bukan karena hal itu”, ia masih menggunakan nada lembut.
“Alasannya ?”, lagi-lagi aku menjawab asal. Tapi aku tidak akan menutupi bahwa aku sedang merasa nyaman dan bahagia seketika.
“Tatap aku”, katanya dengan nada yang lebih tegas. Aku jelas mengindahkannya. Aku takkan mau melakukan perintahnya. Tiba-tiba, tangannya menggenggam lalu meremas pelan tanganku. Ya Tuhan, tangannya dingin sekali. Ia pasti kedinginan. Aku mendadak merasa bersalah karena jaketnya menempel ditubuhku. Aku mengerti sekarang, ia mencintaiku dengan caranya sendiri. Cara yang takkan kutemukan pada orang lain.
Aku menatapnya, mata kami bertemu. Aku menemukan rasa hangat yang nyaman itu lagi. Entah dari matanya atau genggamannya. Tapi yang jelas, aku tahu ini darinya.
“Aku tak punya alasan untuk tidak mencintaimu”, ia berkata sangat pelan.
Aku tersenyum lalu mengangguk. “Ajaib sekali, kita tidak bertengkar”, aku menggodanya.
“Takkan lagi mulai sekarang. Tapi, aku tidak janji”, ucapnya dengan seringai itu lagi. Lalu, menyodorkan roti yang sejak tadi ditangannya. Aku menerimanya lalu memakannya. Dan ralat lagi, ini adalah bagian perjalanan terbaik.
Terima kasih waktu, malam dan perjalanan. Terima kasih untuk udara dingin dan kesunyian. Juga untuk aroma musknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar