“Aku mencintaimu Dimka”, suaraku terdengar dalam, memecah
kesunyian yang menggantung diantara kami. Orang yang kumaksud tepat berada
disebelahku tengah memandang lurus kedepan—mungkin.
Tangannya yang keras merangkul tubuhku hingga kepalaku
bersandar dibahunya. Membuatku mencium semakin jelas aroma mint darinya dan
membuatku sejenak lupa bahwa kami tengah berada disebuah taman Rumah Sakit.
“Ada hal lain yang lebih penting daripada perasaan, Ivanka”,
aku mendengar ia berucap dengan ketegasan yang memudar. Sejenak, aku membiarkan
ucapannya menggantung.
Hingga aku berkata, “seperti keselamatan”, lalu aku
menegakkan kepala agar bisa menatapnya, ia balas menatapku dengan mata gelapnya
yang semakin menguatkan ketegasannya, tapi aku yakin, aku tak sedikitpun
menemukan ketegasan itu hari ini, yang ada hanya tatapan hangat. Ia mengangguk.
“Aku mengerti, nyawa seseorang lebih penting daripada urusan
perasaan”, jawabku tegas.
“Sepertinya Pelatihan Detektif telah membentuk pribadi lain
dalam dirimu”, ia berkata tanpa nada humor sedikitpun. Orang yang tak
cukupmengenalnya akan menganggap bahwa hal itu serius, tapi aku dan ibunya
tahu, ia tak sama sekali serius.
Aku menegakkan badan, hingga kepalaku tak lagi bersandar
dibahunya. Aku cukup yakin ia terkejut, tapi, ia sangat pandai
menyembunyikannya—tipikal Detektif handal.
“Berjanjilah, kau akan melupakanku”, aku berkata dengan nada
yang –ku usahakan—lebih tegas daripada yang tadi. Ia menatapku, aku merasa
sesuatu barusaja menikamku dibagian dalam. Namun kali ini, aku tak mengerti
tatapannya, ia tak pernah sekalipun memberiku tatapan ini sebelumnya. Sejenis
tatapan yang mengatakan tidak mungkin, atau tidak percaya.
“Iva, aku percaya padamu. Kau mengerti bagaimana
keadaannya”, aku mendengar nada getir dalam suaranya. Ia masih menatapku, namun
sudah mengembalikan tatapan hangatnya. Aku tahu, aku akan menurutinya. Aku
mengangguk pasrah.
“Kau akan bahagia”, ucapnya lagi, tangannya mengaitkan
rambut ke telingaku.
“Aku akan berdo’a untuk itu”—karena itu tidak mungkin,
Dimka. Aku meneruskan ucapanku dalam hati.
Ia menggenggam tanganku lalu kami berdiri dan beranjak
meninggalkan kursi dan taman. Aku yakin taman ini akan menjadi tempat yang
paling kubenci setelah kejadian ini.
“Makan siang menunggu, Iva”, katanya.
Ia berkata seolah baru
saja tak ada apa-apa yang terjadi. Seolah tak ada seorang gadis yang tubuhnya
dipenuhi selang yang sedang menunggunanya untuk datang. Seolah tak ada
pernikahan yang akan menyambutnya 2 hari lagi, dengan orang lain, gadis itu, Tania. Luka terasa semakin
menyayat. Aku tidak yakin apa aku bisa mendatangi pernikahan mereka 2 hari
lagi.
Aku melirik Dimka, wajahnya masih datar tanpa ekspresi
seperti biasa. Tapi, aku yakin, ia mengerti apa yang kurasakan, apapun yang
kupikirkan. Ia juga terluka. Lalu kemudian mataku beralih menuju genggaman
tangan kami, kuangkat hingga aku tak perlu melirik. Masih erat, seperti biasa.
***
Tiba-tiba sebuah tangan keras meremas lembut tanganku,
membawaku kembali ke alam sadar dan mengingatkanku bahwa kejadian ditaman rumah
sakit itu telah terjadi 2 hari yang lalu. Waktu berputar tak karuan didunia
kami, kadang cepat kadang pula sangat lambat. Hingga takdir membuktikan yang
lain. Hari ini, seharusnya adalah hari pernikahan mereka. Dimka dan Tania.
Dan sekarang, kami sedang berada disebelah pusara seorang
gadis yang seharusnya mendampingi Dimka. Yang seharusnya ada disebelah Dimka
saat ia berjabat tangan dengan penghulu. Tania, ia meninggal dengan damai tepat
setelah memberikan gaun pengantin putih yang sekarang kukenakan, padaku. Dan
disebelahku, berdiri seorang laki-laki bermata coklap gelap yang tegas dengan
mengenakan jas putih. Dimka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar