Rabu, 12 Maret 2014

Tentang Kita dan Takdir, Bukan Waktu


“Aku mencintaimu Dimka”, suaraku terdengar dalam, memecah kesunyian yang menggantung diantara kami. Orang yang kumaksud tepat berada disebelahku tengah memandang lurus kedepan—mungkin.
Tangannya yang keras merangkul tubuhku hingga kepalaku bersandar dibahunya. Membuatku mencium semakin jelas aroma mint darinya dan membuatku sejenak lupa bahwa kami tengah berada disebuah taman Rumah Sakit.

“Ada hal lain yang lebih penting daripada perasaan, Ivanka”, aku mendengar ia berucap dengan ketegasan yang memudar. Sejenak, aku membiarkan ucapannya menggantung.

Hingga aku berkata, “seperti keselamatan”, lalu aku menegakkan kepala agar bisa menatapnya, ia balas menatapku dengan mata gelapnya yang semakin menguatkan ketegasannya, tapi aku yakin, aku tak sedikitpun menemukan ketegasan itu hari ini, yang ada hanya tatapan hangat. Ia mengangguk.

“Aku mengerti, nyawa seseorang lebih penting daripada urusan perasaan”, jawabku tegas.

“Sepertinya Pelatihan Detektif telah membentuk pribadi lain dalam dirimu”, ia berkata tanpa nada humor sedikitpun. Orang yang tak cukupmengenalnya akan menganggap bahwa hal itu serius, tapi aku dan ibunya tahu, ia tak sama sekali serius.

Aku menegakkan badan, hingga kepalaku tak lagi bersandar dibahunya. Aku cukup yakin ia terkejut, tapi, ia sangat pandai menyembunyikannya—tipikal Detektif handal.

“Berjanjilah, kau akan melupakanku”, aku berkata dengan nada yang –ku usahakan—lebih tegas daripada yang tadi. Ia menatapku, aku merasa sesuatu barusaja menikamku dibagian dalam. Namun kali ini, aku tak mengerti tatapannya, ia tak pernah sekalipun memberiku tatapan ini sebelumnya. Sejenis tatapan yang mengatakan tidak mungkin, atau tidak percaya.

“Iva, aku percaya padamu. Kau mengerti bagaimana keadaannya”, aku mendengar nada getir dalam suaranya. Ia masih menatapku, namun sudah mengembalikan tatapan hangatnya. Aku tahu, aku akan menurutinya. Aku mengangguk pasrah.

“Kau akan bahagia”, ucapnya lagi, tangannya mengaitkan rambut ke telingaku.

“Aku akan berdo’a untuk itu”—karena itu tidak mungkin, Dimka. Aku meneruskan ucapanku dalam hati.
Ia menggenggam tanganku lalu kami berdiri dan beranjak meninggalkan kursi dan taman. Aku yakin taman ini akan menjadi tempat yang paling kubenci setelah kejadian ini.

“Makan siang menunggu, Iva”, katanya. 
Ia berkata seolah baru saja tak ada apa-apa yang terjadi. Seolah tak ada seorang gadis yang tubuhnya dipenuhi selang yang sedang menunggunanya untuk datang. Seolah tak ada pernikahan yang akan menyambutnya 2 hari lagi, dengan orang  lain, gadis itu, Tania. Luka terasa semakin menyayat. Aku tidak yakin apa aku bisa mendatangi pernikahan mereka 2 hari lagi.

Aku melirik Dimka, wajahnya masih datar tanpa ekspresi seperti biasa. Tapi, aku yakin, ia mengerti apa yang kurasakan, apapun yang kupikirkan. Ia juga terluka. Lalu kemudian mataku beralih menuju genggaman tangan kami, kuangkat hingga aku tak perlu melirik. Masih erat, seperti biasa.

***
Tiba-tiba sebuah tangan keras meremas lembut tanganku, membawaku kembali ke alam sadar dan mengingatkanku bahwa kejadian ditaman rumah sakit itu telah terjadi 2 hari yang lalu. Waktu berputar tak karuan didunia kami, kadang cepat kadang pula sangat lambat. Hingga takdir membuktikan yang lain. Hari ini, seharusnya adalah hari pernikahan mereka. Dimka dan Tania.

Dan sekarang, kami sedang berada disebelah pusara seorang gadis yang seharusnya mendampingi Dimka. Yang seharusnya ada disebelah Dimka saat ia berjabat tangan dengan penghulu. Tania, ia meninggal dengan damai tepat setelah memberikan gaun pengantin putih yang sekarang kukenakan, padaku. Dan disebelahku, berdiri seorang laki-laki bermata coklap gelap yang tegas dengan mengenakan jas putih. Dimka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar